Menu

Mode Gelap
Hashim: Indonesia Dapat 150 Juta Barel Minyak APH Diminta Segera Mengusut Tuntas Terkait Dugaan Penerbitan Memo Siluman untuk Kontrak Kuota Angkutan Batubara Paus Leo XIV Kunjungi Guinea Khatulistiwa, Serukan Perdamaian Dunia Delapan ASN Kemenaker terbukti peras 20 perusahaan izin TKA Rp130 M MPR: Komitmen bersama dibutuhkan demi wujudkan semangat Kartini Residivis Bandar Narkoba di Pangkalpinang Ditangkap, Polisi Sita 2 Kg Sabu

Warta Nusantara

Keras! Kantor Tito Ingatkan Stok Beras Bulog Bisa Rugikan Negara

badge-check


					Keras! Kantor Tito Ingatkan Stok Beras Bulog Bisa Rugikan Negara Perbesar

Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mengingatkan agar stok beras di gudang Perum Bulog segera digelontorkan. Jika penyaluran beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) terus tertunda, negara dapat menanggung kerugian.

Sekretaris Jenderal Kemendagri Tomsi Tohir menyoroti rendahnya realisasi penyaluran beras SPHP Bulog. Menurutnya, kondisi ini sudah terlihat berpengaruh terhadap kenaikan harga beras di pasar.

“Karena beras yang tidak disalurkan, atau lambat disalurkan, yang pertama, berdampak pada harga kita trennya naik, kita belum bisa turun,” kata Tomsi dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Selasa (19/8/2025).

Lebih jauh lagi, tekanan penyaluran yang tersendat juga bisa menimbulkan kerugian negara. Pasalnya, beras termasuk komoditas yang mudah menurun kualitasnya.

“Yang kedua, beras ini juga ada jangka waktunya, nanti rusak gitu loh, ya kan? Kalau rusak, nilainya turun atau harus dibuang. Ini akan mengakibatkan kerugian negara juga,” jelasnya.

Adapun program beras SPHP sendiri berlangsung dari Juli hingga Desember 2025, dengan target total 1,3 juta ton. Hitungan Tomsi menyebutkan, setidaknya Bulog harus menyalurkan 216.000 ton per bulan atau sekitar 7.100 ton per hari.

Namun data Bulog menunjukkan realisasi penyaluran masih jauh dari target. Hingga pertengahan Agustus, distribusi baru mencapai 38.111 ton atau 2,94% dari pagu. Jawa Timur tercatat sebagai provinsi dengan penyaluran tertinggi.

“Penyalurannya (beras SPHP) enam bulan. Seratus dibagi enam bulan, kurang lebih itu 16,5%. Nah, satu bulan (realisasi penyaluran SPHP) baru 2,94%,” ungkap Tomsi.

Ia menambahkan, saat ini penyaluran harian Bulog rata-rata hanya sekitar 1.200 ton, masih jauh dari target 7.100 ton per hari.

“Jauh banget antara (target) 16% dengan (realisasi) 2,94%. Kalau realisasinya 38.000 (ton beras SPHP) bagi 30 hari, kurang lebih 1.200 ton per hari. Sementara target kita 7.100 ton per hari,” paparnya.

Dengan perhitungan tersebut, lebih dari 80% stok beras SPHP kini masih menumpuk di gudang Bulog.

Tomsi mengatakan, kondisi ini justru menambah angkutan penyimpanan dan memperbesar risiko penurunan kualitas beras menjadi apek, berjamur, bahkan terserang hama.

“Kalau 80%, kurang lebih 1 juta. Beras yang tidak tersalur ini makin lama kualitasnya menurun. Kemudian harganya juga jauh, pemeliharaannya juga mahal. Dan bisa saja beras yang didapat dari tahun yang lalu, itu terpaksa harus dihancurkan karena ketidaklayakan,” pungkas dia.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Hashim: Indonesia Dapat 150 Juta Barel Minyak

23 April 2026 - 13:30 WITA

Hasil Pemeriksaan BPK 2025: Soroti Menko Pangan-Menteri Kesehatan

22 April 2026 - 11:36 WITA

Teleponan dengan PM Albanese, Prabowo Bahas Ekspor Urea ke Australia

22 April 2026 - 07:53 WITA

Media Asing Sorot Temuan Sumur Gas Raksasa RI

22 April 2026 - 07:23 WITA

KLH Kejar Denda 1.369 Perusahaan Biang Kerok Bencana

21 April 2026 - 05:56 WITA

Trending di Warta Nusantara