Menu

Mode Gelap
Sosok Ibrahim Al Abrar, Bocah SD Boyolali Penemu Celah Keamanan Web NASA Eks Pejabat Dinas PUTR Batu Bara Divonis 6 Tahun di Kasus Korupsi Jalan Rp 43 M Kisah April DA7 yang Menginspirasi, Ketekunan Bawa Dirinya dari Jalanan ke Dunia Hiburan Presiden Prabowo: LNG Abadi Masela Jadi Tonggak Kemandirian Energi dan Mesin Baru Kemakmuran Rakyat Ledakan Gudang Amunisi Tewaskan 1 Prajurit dan Enam Lainnya Terluka, TNI AD Bentuk Tim Investigasi 1,2 Juta NIK Warga Miskin Dibobol, Ombudsman Desak Dinsos-Diskomdigi Benahi Sistem Keamanan Digital

Warta Parlemen

MPR: Komitmen bersama dibutuhkan demi wujudkan semangat Kartini

badge-check


					MPR: Komitmen bersama dibutuhkan demi wujudkan semangat Kartini Perbesar

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengatakan komitmen bersama diperlukan sebagai upaya mewujudkan nilai-nilai yang diperjuangkan RA Kartini pada masa kini sebagai bagian penentu arah perjalanan bangsa.

Menurut dia, perempuan kini masih jauh dari semangat kebebasan berpikir seperti nilai-nilai yang dibawa RA Kartini. Maka dari itu, perlu komitmen bersama yang kuat agar mampu mewujudkan emansipasi perempuan di masa kini.

“Emansipasi itu bukan semata boleh belajar, tetapi juga harus mampu mengantarkan perempuan untuk mewujudkan cita-citanya,” kata Lestari di Jakarta, Rabu (22/4/2026).

Dia berpendapat bahwa pekerjaan rumah bagi seluruh pihak untuk mewujudkan nilai-nilai yang diperjuangkan RA Kartini masih sangat banyak.

Setiap momentum Hari Kartini, menurut dia, harus menjadi pengingat atas upaya apa saja yang telah dilakukan untuk mewujudkan semangat Kartini tersebut.

“Bagaimana kita secara bersama menemukan akar masalah yang mampu memangkas kesenjangan gender dan menentukan arah perjalanan bangsa secara bersama,” kata dia.

Sementara itu, Ketua Umum Badan Pusat Wanita Taman Siswa Nyi Tri Yuliyanti Setyasari mengungkapkan bahwa emansipasi yang digagas RA Kartini sejatinya dilanjutkan oleh Nyi Hadjar Dewantara, istri pendiri Taman Siswa, Ki Hadjar Dewantara.

Organisasi Wanita Taman Siswa, menurut dia, didirikan pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta oleh Nyi Hadjar Dewantara. Dia mengatakan bahwa Nyi Hadjar juga berjuang di sektor pendidikan, terlebih lagi Taman Siswa disebut sebagai sekolah liar oleh penjajah Belanda.

“Nyi Hadjar Dewantara melawan penjajah Belanda melalui jalan pendidikan dan merupakan salah satu inisiator Kongres Perempuan pertama di Yogyakarta di tengah kungkungan sosial dari penjajah Belanda,” kata Tri Yulianti.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dari Lahan Terbengkalai Jadi Sentra Ekspor, Titiek Soeharto Apresiasi BUBK Kebumen

15 Juli 2026 - 03:29 WITA

Presiden Prabowo Dampingi PM Modi Kunjungi DPR RI, Perkuat Diplomasi Indonesia-India hingga Tingkat Legislatif

8 Juli 2026 - 12:20 WITA

DPR RI Bentuk Tim Investigasi Dampak Tailing Freeport

7 Juli 2026 - 03:48 WITA

Kabar Baik untuk Ojol, Dasco Umumkan Komisi Aplikasi Turun Jadi 8 Persen

29 Juni 2026 - 04:50 WITA

Atalia Praratya Sebut Gen Z Jadi Generasi Paling Aktif Membaca

23 Juni 2026 - 03:37 WITA

Trending di Warta Parlemen