Menu

Mode Gelap
Paus Leo XIV Kunjungi Guinea Khatulistiwa, Serukan Perdamaian Dunia Delapan ASN Kemenaker terbukti peras 20 perusahaan izin TKA Rp130 M MPR: Komitmen bersama dibutuhkan demi wujudkan semangat Kartini Residivis Bandar Narkoba di Pangkalpinang Ditangkap, Polisi Sita 2 Kg Sabu Dianggap Hama di RI, Ikan Sapu-sapu Justru Kuliner Favorit Amazon Hasil Pemeriksaan BPK 2025: Soroti Menko Pangan-Menteri Kesehatan

Warta Parlemen

MPR: Komitmen bersama dibutuhkan demi wujudkan semangat Kartini

badge-check


					MPR: Komitmen bersama dibutuhkan demi wujudkan semangat Kartini Perbesar

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengatakan komitmen bersama diperlukan sebagai upaya mewujudkan nilai-nilai yang diperjuangkan RA Kartini pada masa kini sebagai bagian penentu arah perjalanan bangsa.

Menurut dia, perempuan kini masih jauh dari semangat kebebasan berpikir seperti nilai-nilai yang dibawa RA Kartini. Maka dari itu, perlu komitmen bersama yang kuat agar mampu mewujudkan emansipasi perempuan di masa kini.

“Emansipasi itu bukan semata boleh belajar, tetapi juga harus mampu mengantarkan perempuan untuk mewujudkan cita-citanya,” kata Lestari di Jakarta, Rabu (22/4/2026).

Dia berpendapat bahwa pekerjaan rumah bagi seluruh pihak untuk mewujudkan nilai-nilai yang diperjuangkan RA Kartini masih sangat banyak.

Setiap momentum Hari Kartini, menurut dia, harus menjadi pengingat atas upaya apa saja yang telah dilakukan untuk mewujudkan semangat Kartini tersebut.

“Bagaimana kita secara bersama menemukan akar masalah yang mampu memangkas kesenjangan gender dan menentukan arah perjalanan bangsa secara bersama,” kata dia.

Sementara itu, Ketua Umum Badan Pusat Wanita Taman Siswa Nyi Tri Yuliyanti Setyasari mengungkapkan bahwa emansipasi yang digagas RA Kartini sejatinya dilanjutkan oleh Nyi Hadjar Dewantara, istri pendiri Taman Siswa, Ki Hadjar Dewantara.

Organisasi Wanita Taman Siswa, menurut dia, didirikan pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta oleh Nyi Hadjar Dewantara. Dia mengatakan bahwa Nyi Hadjar juga berjuang di sektor pendidikan, terlebih lagi Taman Siswa disebut sebagai sekolah liar oleh penjajah Belanda.

“Nyi Hadjar Dewantara melawan penjajah Belanda melalui jalan pendidikan dan merupakan salah satu inisiator Kongres Perempuan pertama di Yogyakarta di tengah kungkungan sosial dari penjajah Belanda,” kata Tri Yulianti.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dasco: Target Pembahasan RUU Perampasan Aset Selesai Tahun Ini

21 April 2026 - 09:58 WITA

Komisi IX DPR RI Dorong Optimalisasi Program Magang untuk Kurangi Pengangguran Sarjana

17 April 2026 - 07:39 WITA

Komisi Tiga DPR RI Wanti-wanti RUU Perampasan Aset, Jangan Disalahgunakan Aparat Hukum

7 April 2026 - 04:17 WITA

Ketua MPR dan Ketum Muhammadiyah bahas dinamika geopolitik global

6 April 2026 - 06:10 WITA

Kunjungan Komisi IV DPR RI ke Bogor Ungkap Inovasi Keren di Sektor Perikanan

4 April 2026 - 06:18 WITA

Trending di Warta Parlemen