TNI AL mempertegas kesiapan mereka mendukung misi perdamaian dunia di Gaza, Palestina. Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) memastikan pihaknya mengerahkan aset strategis untuk menyokong misi Board of Peace (BoP).
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali menyebut jajarannya telah menyiagakan armada kapal rumah sakit sebagai ujung tombak bantuan kemanusiaan.

Saat ini, TNI AL memiliki tiga kapal rumah sakit yang mumpuni untuk operasi jarak jauh. Dari tiga unit tersebut, TNI AL menyiapkan satu kapal utama yang siap meluncur dan satu kapal cadangan untuk menjamin misi medis berjalan tanpa hambatan.
“Kita akan mengirimkan kapal rumah sakit, yang jelas. Sementara yang masih didaftarkan satu, tapi mungkin bisa jadi lebih dari satu ya. Kita ada tiga kapal rumah sakit, maksimal dua kita siapkan. Satu yang pasti akan diberangkatkan, kemudian satu cadangan,” tegas Ali di Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Tak hanya armada laut, jajaran personel dari batalion kesehatan hingga zeni Korps Marinir juga masuk dalam daftar pengiriman. Ali menekankan pihaknya memacu kesiapan ini sejak awal wacana ini muncul.
“Begitu presiden menyampaikan akan mengirim 20.000 pada saat itu, kita sudah menyiapkan. Jadi kalau ini jumlahnya lebih kecil, kita mungkin lebih siap untuk mengirimkan,” tambahnya.
Wamenhan: Pasukan Sudah Siap, Tinggal Tunggu Perintah ‘Gas’
Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Donny Ermawan turut menekankan bahwa militer Indonesia hanya tinggal menunggu komando. Usai memimpin rapat kerja bersama Komisi I DPR RI, Donny menjamin Mabes TNI telah merampungkan persiapan personel yang akan terjun ke wilayah konflik.
“Intinya kita sudah siapkan ya. Mabes TNI, panglima TNI sudah menyiapkan prajurit kita untuk sewaktu-waktu diberangkatkan. Hanya kita tinggal menunggu perintah, koordinasi, kapan kita untuk berangkat. Intinya kita sudah siap ya,” ujar Donny di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (10/2).
Donny memberikan bocoran jumlah pasukan pada tahap awal menyentuh angka sekitar 600-an personel. Hal ini sejalan dengan proyeksi pengiriman total sekitar 8.000 pasukan TNI ke Gaza untuk mendukung misi perdamaian internasional.
Wapang TNI: Presiden Teken Keputusan Akhir Februari
Ketua Komisi I DPR RI Utut Adianto memberikan dukungan penuh dan menyebut pengiriman ini sesuai amanat UUD 1945 untuk menjaga ketertiban dunia. Ia mengingatkan agar TNI mengirim personel dengan kualifikasi terbaik mengingat luas Gaza yang hanya sekitar 45 kilometer persegi, atau setara wilayah Jakarta Pusat.
Menanggapi hal itu, Wakil Panglima (Wapang) TNI Jenderal Tandyo Budi Revita mengungkapkan Mabes TNI tengah memfinalisasi skema keberangkatan pasukan. TNI memberikan prioritas bagi prajurit kawakan yang pernah bertugas di Lebanon (Unifil) karena mereka mengenal baik karakteristik medan Timur Tengah.
“Nanti mungkin kalau tidak salah, minggu terakhir Februari ini akan diputuskan berapa TNI nanti yang akan berkontribusi secara jumlah pasukan. Secara pastinya menunggu keputusan akhir bulan inilah yang nanti akan ditandatangani langsung oleh Bapak Presiden,” ungkap Tandyo.
Dari Pidato PBB hingga Dewan Perdamaian
Penyiapan pasukan perdamaian ini berjalan seiring dengan keputusan Presiden Prabowo Subianto bergabung ke Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian. Keputusan Indonesia bergabung ke organisasi global bentukan Presiden Amerika Serikat Donald John Trump itu menuai penolakan dari berbagai kalangan.
Sebelum bergabung ke organisasi tersebut, Presiden Prabowo Subianto pernah menyatakan kesediaan pemerintah mengerahkan 20.000 prajurit untuk membantu mengamankan perdamaian di Gaza. Komitmen ini ia sampaikan saat berpidato dalam Sidang Umum ke-80 Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York pada 23 September 2025 lalu.
“Kami akan terus mengabdi di mana perdamaian membutuhkan penjaga,” kata Prabowo dalam pidatonya.
Ia menegaskan, pernyataan tersebut bukan sekadar omongan, melainkan komitmen nyata Indonesia yang saat ini menjadi salah satu penyumbang pasukan penjaga perdamaian terbesar bagi PBB. Selain personel, kepala negara juga menyatakan kesediaan Indonesia berkontribusi secara finansial guna mendukung perdamaian global.
****









