Menu ✖

Mode Gelap
Presiden Prabowo Sambut Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang TNI AL Amankan Tugboat Pembawa Ribuan Kubik Kayu Log di Perairan Utara Pulau Buru Kisah Ibu-ibu Pemindang Ikan Kusamba, 28 Tahun Kerja Cuma Libur Nyepi-Galungan KPK Evaluasi Alasan Nusron Wahid Mangkir Sebelum Terbitkan Surat Perintah Membawa DPD RI Desak Menag Perkuat Pengawasan Anak Lindungi dari Kekerasan Seksual Taman Bunga Nusantara Punya Banyak Taman Tematik, Intip Daya Tariknya

Serba Serbi

Nilai ekonomi jamu tembus Rp1,2 triliun, BPOM dorong inovasi herbal

badge-check


					Nilai ekonomi jamu tembus Rp1,2 triliun, BPOM dorong inovasi herbal Perbesar

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan nilai ekonomi produk jamu asal Indonesia per tahun bisa mencapai Rp1,2 triliun, oleh karena itu inovasi tanaman herbal menjadi produk Obat Herbal Terstandar (OHT) perlu terus ditingkatkan.

Kepala BPOM Taruna Ikrar mengemukakan, potensi pasar global untuk jamu dan kesehatan sebenarnya diperkirakan dapat mencapai sekitar Rp350 triliun per tahun, tetapi penelitian dan pengembangan tentang biodiversitas tanaman herbal menjadi obat herbal tersertifikasi masih belum optimal.

“Saat ini, nilai ekonomi industri jamu sekitar Rp1,2 triliun berdasarkan data industri yang tercatat. Potensi pasar global wellness dan kesehatan diperkirakan mencapai sekitar Rp350 triliun untuk Indonesia apabila biodiversitas yang dimiliki dapat dimanfaatkan secara optimal,” katanya dalam Kick Off Pekan Jamu 2026 di Jakarta, Selasa.

Taruna mengemukakan, beberapa keunggulan tanaman herbal di Indonesia yakni kurkumin yang terkandung dalam kunyit dan temulawak, yang tidak kalah apabila dibandingkan dengan produk ginseng yang menjadi keunggulan negara Asia Timur seperti Korea, Tiongkok, atau Jepang.

“Kurkumin memiliki manfaat yang lebih luas dibanding ginseng karena memiliki efek antioksidan (melindungi sel-sel tubuh dari radikal bebas), antiinflamasi (mengurangi peradangan), dan vasodilator (memperlebar aliran darah agar lebih lancar). Indonesia sebenarnya mampu bersaing dengan Korea Selatan dan negara lain, namun pengelolaan, penelitian, dan hilirisasi produk herbal masih perlu ditingkatkan,” paparnya.

Taruna juga mengemukakan, banyak tanaman herbal seperti kunyit dan temu-temuan yang mengandung senyawa aktif bersifat antioksidan dan antiinflamasi, dengan potensi yang dapat dikembangkan menjadi produk kosmetik dan perawatan tubuh.

Saat ini, terdapat sekitar 22 ribu produk jamu yang memiliki Nomor Izin Edar (NIE) dari BPOM. Namun, dari jumlah tersebut, pemanfaatannya masih sedikit, yakni sekitar 71 produk telah menjadi OHT, dan 21 produk telah menjadi fitofarmaka (sediaan obat berbahan dasar alam seperti tanaman, hewan, atau mineral).

“Kenaikan status dari jamu menjadi OHT dan fitofarmaka memerlukan penelitian ilmiah yang lebih kuat, termasuk uji praklinis, uji stabilitas, penelitian bioavailabilitas, dan pembuktian khasiat. Semakin tinggi tingkat pembuktian ilmiahnya, semakin besar pula nilai ekonominya,” tuturnya.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Taman Bunga Nusantara Punya Banyak Taman Tematik, Intip Daya Tariknya

18 Oktober 2026 - 04:51 WITA

Juri Pencak Silat Dunia Apresiasi Atlet Tapak Suci SMP Muhammadiyah 2 Kroya

16 Oktober 2026 - 02:19 WITA

Panen Perdana AMA di Liagu, Petambak Masih Evaluasi Hasil Budidaya

14 Oktober 2026 - 05:47 WITA

Harga Pangan Hari Ini 12 Oktober: Beras Naik, Cabai Melonjak

12 Oktober 2026 - 05:11 WITA

Ibu Kota Nusantara, Tuan Rumah Borneo Economic Forum 2027

10 Oktober 2026 - 04:58 WITA

Trending di Serba Serbi