Menu

Mode Gelap
Sosok Ibrahim Al Abrar, Bocah SD Boyolali Penemu Celah Keamanan Web NASA Eks Pejabat Dinas PUTR Batu Bara Divonis 6 Tahun di Kasus Korupsi Jalan Rp 43 M Kisah April DA7 yang Menginspirasi, Ketekunan Bawa Dirinya dari Jalanan ke Dunia Hiburan Presiden Prabowo: LNG Abadi Masela Jadi Tonggak Kemandirian Energi dan Mesin Baru Kemakmuran Rakyat Ledakan Gudang Amunisi Tewaskan 1 Prajurit dan Enam Lainnya Terluka, TNI AD Bentuk Tim Investigasi 1,2 Juta NIK Warga Miskin Dibobol, Ombudsman Desak Dinsos-Diskomdigi Benahi Sistem Keamanan Digital

Warta Internasional

IOM serukan penguatan koordinasi lintas batas tekan wabah Ebola

badge-check


					IOM serukan penguatan koordinasi lintas batas tekan wabah Ebola Perbesar

Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), Selasa (2/6), mendesak pemerintah dan mitra untuk segera memperkuat koordinasi lintas batas guna menahan wabah Ebola saat ini di Republik Demokratik Kongo dan Uganda.

Dalam sebuah pernyataan, badan PBB tersebut memperingatkan bahwa penutupan perbatasan saja berisiko mendorong pergerakan secara ilegal dan meningkatkan risiko penularan.

Kasus Ebola yang terkonfirmasi di Kongo melampaui 300 pada Senin, menurut angka terbaru dari Kementerian Kesehatan.

Sementara itu, kematian akibat virus tersebut meningkat menjadi 48. Di Uganda, terdapat 15 kasus yang terkonfirmasi, dan satu kematian hingga saat ini.

“Virus tidak berhenti di perbatasan, dan demikian pula respons kita,” kata Ugochi Daniels, wakil direktur jenderal operasi IOM.

“Ketika perbatasan ditutup, orang sering terus bergerak melalui jalur informal di mana pemeriksaan dan pengawasan kesehatan terbatas. Respons yang paling efektif adalah tindakan terkoordinasi yang menjaga mobilitas tetap terlihat, aman, dan terpantau,” menurut pernyataan itu.

Bulan lalu, beberapa negara, termasuk Kanada dan AS, memberlakukan pembatasan perjalanan dan penangguhan visa terhadap penduduk dari Kongo, Uganda, dan Sudan Selatan, dengan alasan wabah Ebola.

Rwanda dan Uganda, dua negara yang berbatasan dengan Kongo, juga telah membatasi perjalanan dari negara tetangga mereka.

IOM memperingatkan bahwa penutupan perbatasan yang reaktif dapat mengurangi visibilitas pergerakan penduduk, melemahkan upaya pemeriksaan kesehatan, pengawasan, pelacakan kontak, dan deteksi dini.

Badan PBB itu mengatakan data dari registri pemantauan arus di titik-titik penyeberangan formal dan informal utama menunjukkan bahwa mobilitas lintas batas terus berlanjut meskipun ada pembatasan, termasuk melalui jalur informal.

“Bukti dari keadaan darurat kesehatan sebelumnya menunjukkan bahwa pembatasan pergerakan tidak menghentikan mobilitas, tetapi sering mengarahkannya ke jalur informal dan yang kurang dipantau,” katanya.

Wabah Ebola ke-17 yang tercatat di Kongo diumumkan pada 15 Mei. Menurut otoritas kesehatan, wabah saat ini adalah yang ketiga terbesar yang pernah tercatat, menyoroti sifat penyakit yang berulang dan pentingnya kesiapan yang berkelanjutan.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kelab Malam di Thailand Terbakar Habis, 27 Orang Tewas-22 Kritis

13 Juli 2026 - 06:49 WITA

2 Jet Tempur Tabrakan di Udara Gegara Pilot Selfie, AU Minta Maaf

6 Juli 2026 - 03:29 WITA

Korea Selatan Gratiskan Biaya Visa Buat Turis

2 Juli 2026 - 06:28 WITA

Malaysia Turunkan Harga BBM per 1 Juli

28 Juni 2026 - 10:26 WITA

Korban Tewas Gempa Kembar Venezuela Bertambah Jadi 589 Orang

27 Juni 2026 - 01:46 WITA

Trending di Warta Internasional