Menu

Mode Gelap
Dari Ruang Kelas SMPN 111 Jakarta, Cita-Cita Besar Menggema di Hadapan Presiden Prabowo Nilai ekonomi jamu tembus Rp1,2 triliun, BPOM dorong inovasi herbal Kejagung Geledah Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana IOM serukan penguatan koordinasi lintas batas tekan wabah Ebola Timnas Basket U18 Putri Indonesia kalahkan Singapura KPK Sita Dolar dan Emas dalam OTT Kepala Imigrasi Jakarta Barat

Warta Internasional

IOM serukan penguatan koordinasi lintas batas tekan wabah Ebola

badge-check


					IOM serukan penguatan koordinasi lintas batas tekan wabah Ebola Perbesar

Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), Selasa (2/6), mendesak pemerintah dan mitra untuk segera memperkuat koordinasi lintas batas guna menahan wabah Ebola saat ini di Republik Demokratik Kongo dan Uganda.

Dalam sebuah pernyataan, badan PBB tersebut memperingatkan bahwa penutupan perbatasan saja berisiko mendorong pergerakan secara ilegal dan meningkatkan risiko penularan.

Kasus Ebola yang terkonfirmasi di Kongo melampaui 300 pada Senin, menurut angka terbaru dari Kementerian Kesehatan.

Sementara itu, kematian akibat virus tersebut meningkat menjadi 48. Di Uganda, terdapat 15 kasus yang terkonfirmasi, dan satu kematian hingga saat ini.

“Virus tidak berhenti di perbatasan, dan demikian pula respons kita,” kata Ugochi Daniels, wakil direktur jenderal operasi IOM.

“Ketika perbatasan ditutup, orang sering terus bergerak melalui jalur informal di mana pemeriksaan dan pengawasan kesehatan terbatas. Respons yang paling efektif adalah tindakan terkoordinasi yang menjaga mobilitas tetap terlihat, aman, dan terpantau,” menurut pernyataan itu.

Bulan lalu, beberapa negara, termasuk Kanada dan AS, memberlakukan pembatasan perjalanan dan penangguhan visa terhadap penduduk dari Kongo, Uganda, dan Sudan Selatan, dengan alasan wabah Ebola.

Rwanda dan Uganda, dua negara yang berbatasan dengan Kongo, juga telah membatasi perjalanan dari negara tetangga mereka.

IOM memperingatkan bahwa penutupan perbatasan yang reaktif dapat mengurangi visibilitas pergerakan penduduk, melemahkan upaya pemeriksaan kesehatan, pengawasan, pelacakan kontak, dan deteksi dini.

Badan PBB itu mengatakan data dari registri pemantauan arus di titik-titik penyeberangan formal dan informal utama menunjukkan bahwa mobilitas lintas batas terus berlanjut meskipun ada pembatasan, termasuk melalui jalur informal.

“Bukti dari keadaan darurat kesehatan sebelumnya menunjukkan bahwa pembatasan pergerakan tidak menghentikan mobilitas, tetapi sering mengarahkannya ke jalur informal dan yang kurang dipantau,” katanya.

Wabah Ebola ke-17 yang tercatat di Kongo diumumkan pada 15 Mei. Menurut otoritas kesehatan, wabah saat ini adalah yang ketiga terbesar yang pernah tercatat, menyoroti sifat penyakit yang berulang dan pentingnya kesiapan yang berkelanjutan.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Gema Takbir di Paris, Diaspora Indonesia Rasakan Kehangatan Iduladha Bersama Presiden Prabowo

27 Mei 2026 - 13:37 WITA

Tambang Emas Longsor Kubur Penambang Hidup-Hidup, 28 Tewas

26 Mei 2026 - 03:12 WITA

9 WNI Jalani Pemeriksaan Kesehatan di Turki Sebelum Pulang ke RI

23 Mei 2026 - 08:58 WITA

Kemlu Kecam Penculikan Relawan & Jurnalis Indonesia oleh Israel

19 Mei 2026 - 02:23 WITA

Peneliti: Pemanasan iklim picu penurunan kadar oksigen di sungai

17 Mei 2026 - 06:53 WITA

Trending di Warta Internasional