Kondisi Waduk Mrica yang terancam akibat kerusakan lingkungan kembali menjadi sorotan. Imam Prasodjo, seorang sosiolog dari Universitas Indonesia, menekankan pentingnya upaya konservasi hutan oleh Perhutani di wilayah kritis Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu.
Kerusakan hutan, menurut Imam, berkontribusi signifikan terhadap peningkatan sedimentasi waduk yang semakin memburuk.

“Hutan memiliki peran berbeda, ada yang dilindungi, ada yang untuk konservasi, dan ada juga yang untuk produksi. Namun, untuk wilayah-wilayah kritis seperti ini, Perhutani harus bekerja ekstra. Jika hutan rusak, maka waduk akan menanggung beban sedimen lebih besar,” ujar Imam saat kegiatan reforestasi di Desa Pekasiran, Kecamatan Batur pada Kamis (28/8).
Waduk Mrica tidak hanya berfungsi sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), tetapi juga sebagai penopang keselamatan masyarakat luas dengan fungsi ganda yaitu menghasilkan energi terbarukan dan menahan potensi banjir.
“Kalau waduk ini jebol akibat sedimentasi dan kerusakan hutan, dampaknya bisa mengancam ratusan ribu jiwa. Ini bukan hanya soal energi listrik, tapi juga keselamatan masyarakat,” tegas Imam.
Imam mengingatkan bahwa kehilangan Waduk Mrica berarti kehilangan salah satu sumber energi ramah lingkungan yang mendukung ketahanan energi nasional. Terlebih lagi, mayoritas energi di Indonesia masih sangat bergantung pada minyak dan batu bara.
Oleh karena itu, penyelamatan DAS Serayu yang meliputi lima kabupaten yakni Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, dan Cilacap menjadi suatu keharusan.
“Serayu adalah urat nadi kehidupan lima kabupaten. Kalau waduk jebol, dampaknya bisa dirasakan luas hingga ke Banyumas dan Cilacap,” katanya.
Imam menilai bahwa upaya penyelamatan tidak cukup jika hanya mengandalkan pemerintah pusat. Partisipasi aktif masyarakat setempat, pemerintah daerah, dan aparat keamanan sangatlah penting.
“Jangan hanya mengharapkan otoritas formal. Kita punya otoritas sosial dan informal. Semua pihak harus bergerak. Posko penyelamatan akan percuma jika warga tidak ikut terlibat,” tambahnya.
Ia juga mendorong pemerintah pusat agar lebih serius dalam menyalurkan anggaran penyelamatan waduk mengingat posisi strategisnya bagi energi nasional dan keselamatan warga.
Di sisi lain, Maman Fansha dari Serayu Network menyampaikan bahwa kerusakan hutan sudah mencapai tahap kritis. Menurutnya, perambahan hutan tidak hanya merusak ekosistem tetapi juga berdampak negatif langsung pada kehidupan masyarakat sekitar.
“Saat hujan deras turun, tanah tidak lagi mampu menyerap air secara maksimal. Air mengalir deras membawa lumpur sehingga menyebabkan banjir merusak jalan bahkan mengancam permukiman,” jelas Maman.
Berdasarkan pantauan relawan di lapangan ditemukan kerusakan parah di beberapa desa antara lain Desa Balun dengan 212 hektare lahan hutan berubah menjadi lahan pertanian disusul Desa Wanaraja (197 ha), Desa Jatilawang (143 ha), Desa Tempuran (129 ha), dan Desa Wanayasa (8,8 ha).
Maman menegaskan bahwa sebagian besar kawasan yang dirambah merupakan lahan negara yang dikelola oleh Perhutani namun hingga kini belum ada tindakan tegas dari pihak terkait.
“Kami menemukan fakta bahwa hutan-hutan tersebut dialihfungsikan dan tidak dijaga dengan baik. Harus ada tindakan tegas karena ini menyangkut keberlanjutan lingkungan,” pungkas Maman.
Ancaman kerusakan Waduk Mrica harus segera ditindaklanjuti dengan langkah konkret agar dapat mencegah dampak negatif lebih lanjut bagi masyarakat serta menjaga kelangsungan sumber energi ramah lingkungan di Indonesia.
****









