Menu

Mode Gelap
Lima Sila Pancasila Jadi Filosofi Pembangunan Gedung Mahkamah Agung di IKN Anggaran Kementerian di Kanwil Kemenag Kalteng dan Universitas Palangkaraya Terindikasi Dikorupsi Dari Tambling, Titiek Soeharto Dorong Kolaborasi Sains dan Alam untuk Konservasi Masa Depan Mutasi Polri Agustus 2026, Kapolda dan Wakapoda Sulut serta Sejumlah Pejabat Utama Pindah Tugas hingga Promosi Jabatan Baru Berusia 11 Tahun, Mikhayla Shanum Caya Jadi Kontingen Indonesia Termuda Asian Games 2026, Targetkan Medali Kejagung Tampilkan Uang Sitaan Rp401 Miliar Kasus Nikel PT CNI

Warta Nusantara

Tanah Ambles, Air Laut Naik, BRIN: Kawasan Pantura Jawa Semakin Terancam Tenggelam

badge-check


					Tanah Ambles, Air Laut Naik, BRIN: Kawasan Pantura Jawa Semakin Terancam Tenggelam Perbesar

Kawasan Pantai Utara Jawa (Pantura) menghadapi ancaman ganda yang semakin mengkhawatirkan. Penurunan tanah yang terjadi di berbagai kawasan pesisir mulai dari Jakarta, Bekasi, Indramayu, Cirebon, Subang, Pemalang, Pekalongan, hingga Demak, diperparah oleh kenaikan tinggi muka air laut yang mencapai 4,3 milimeter per tahun. Kombinasi keduanya berpotensi memperluas genangan permanen jika tidak segera ditangani.

Peneliti Pusat Riset Geoinformatika BRIN Agung Syetiawan mengatakan salah satu faktor utama penyebab penurunan tanah atau subsidence di kawasan pesisir adalah eksploitasi air tanah yang berlebihan, baik untuk kebutuhan air bersih masyarakat maupun aktivitas budidaya seperti tambak udang.

“Data pengamatan GNSS yang diperoleh dari Indonesia Continuously Operating Reference Station memperlihatkan pola deformasi vertikal yang cenderung tidak linear di sebagian besar wilayah Pantura,” ujar Agung, Minggu (31/5).

Berdasarkan hasil analisis data altimetri, tren kenaikan muka laut berada pada kisaran 2,4 hingga 4,3 milimeter per tahun. Melalui pemodelan geospasial, sejumlah wilayah pesisir Pantura berpotensi mengalami genangan permanen jika mitigasi tidak dilakukan.

Kawasan Muara Gembong dan beberapa wilayah pesisir Jakarta, Tangerang, dan Bekasi disebut sudah mengalami perluasan area genangan akibat kombinasi kedua faktor itu.

Agung menekankan rencana pembangunan infrastruktur mitigasi seperti giant sea wall perlu mempertimbangkan hasil kajian geospasial secara komprehensif agar wilayah prioritas penanganan dapat ditentukan secara tepat.

Kebijakan berbasis data geospasial juga dinilai penting dalam mendukung pembangunan pesisir berkelanjutan, mencakup pengendalian sumur bor, rehabilitasi mangrove, dan evaluasi pembangunan tanggul laut.

Untuk memantau penurunan tanah secara lebih akurat, BRIN bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung melakukan pengamatan episodik melalui pemasangan pilar benchmark permanen di sejumlah titik dengan laju penurunan tinggi yang dipantau setiap tahun.

Kepala Pusat Riset Geoinformatika BRIN Rokhis Khomarudin menegaskan persoalan penurunan tanah dan degradasi ekosistem pesisir adalah masalah multidisiplin yang tidak bisa diselesaikan tanpa dukungan riset geospasial yang berkelanjutan.

“Pemanfaatan teknologi GIS dan remote sensing menjadi sangat penting untuk mendukung pemantauan, analisis, serta penyusunan strategi mitigasi yang berbasis data ilmiah,” ujar Rokhis.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Anggaran Kementerian di Kanwil Kemenag Kalteng dan Universitas Palangkaraya Terindikasi Dikorupsi

2 September 2026 - 04:33 WITA

Rangkuman Kunjungan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto 26,27-28 Agustus 2026

29 Agustus 2026 - 11:17 WITA

Presiden Prabowo: Bagaimana Kita Punya Ratusan Helikopter kalau Tak Ada Uang? Korupsi Harus Diperangi

26 Agustus 2026 - 06:00 WITA

Presiden Prabowo Susuri Lahan Terbakar di Kubu Raya, Pastikan Penanganan Karhutla Berjalan Optimal

22 Agustus 2026 - 11:45 WITA

Fatimah Az-Zahra Sosok Kartini Masa Kini

20 Agustus 2026 - 15:02 WITA

Trending di Warta Nusantara