Menu

Mode Gelap
Lima Sila Pancasila Jadi Filosofi Pembangunan Gedung Mahkamah Agung di IKN Anggaran Kementerian di Kanwil Kemenag Kalteng dan Universitas Palangkaraya Terindikasi Dikorupsi Dari Tambling, Titiek Soeharto Dorong Kolaborasi Sains dan Alam untuk Konservasi Masa Depan Mutasi Polri Agustus 2026, Kapolda dan Wakapoda Sulut serta Sejumlah Pejabat Utama Pindah Tugas hingga Promosi Jabatan Baru Berusia 11 Tahun, Mikhayla Shanum Caya Jadi Kontingen Indonesia Termuda Asian Games 2026, Targetkan Medali Kejagung Tampilkan Uang Sitaan Rp401 Miliar Kasus Nikel PT CNI

Warta Utama

Ritual Mecak Undat Datah Bilang Diwarnai Lomba Tradisional dan Kesenian

badge-check


					Ritual Mecak Undat Datah Bilang Diwarnai Lomba Tradisional dan Kesenian Perbesar

Masyarakat adat Dayak Kenyah di Kabupaten Mahakam Ulu menggelar ritual adat Mecak Undat Lepek Majau sebagai ungkapan syukur atas hasil panen padi ladang kering yang telah sejak lama dikerjakan. Tradisi ini menjadi bagian penting dalam siklus pertanian masyarakat yang masih menjaga nilai-nilai kearifan lokal daerah.

Pelaksanaan ritual berlangsung di Kampung Datah Bilang Baru dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat. Selain prosesi adat, kegiatan juga dimeriahkan dengan beragam olahraga tradisional dan lomba kesenian lokal.

Berbagai perlombaan yang digelar antara lain belogo, begasing, hingga menyumpit. Kegiatan tersebut menarik partisipasi masyarakat dari berbagai kalangan dan menjadi sarana pelestarian budaya daerah.

Tidak hanya sebagai hiburan, perlombaan ini juga memiliki makna filosofis yang berkaitan erat dengan tahapan dalam sistem pertanian tradisional masyarakat Dayak Kenyah. Setiap permainan mencerminkan proses yang dilalui sejak awal hingga akhir masa bercocok tanam.

Kepala Adat Kampung Datah Bilang Baru, Jalung Bit, menjelaskan bahwa olahraga tradisional dan kesenian yang dilombakan memiliki nilai simbolis yang mendalam. Hal tersebut menjadi bagian dari edukasi budaya bagi generasi muda.

“Olahraga tradisional dan kesenian yang dilombakan bukan hanya kegiatan seremonial dan hiburan semata, melainkan melambangkan makna dari masa tahap pertanian,” ujar Bit, Jumat, 17 April 2026.

Ia menambahkan bahwa setiap jenis permainan menggambarkan tahapan pertanian, mulai dari proses menebas lahan, menanam, hingga masa panen. Tradisi ini menjadi cara masyarakat dalam menjaga ingatan kolektif terhadap budaya leluhur.

“Permainan seperti belogo, begasing, menyumpit dan lainnya menggambarkan perjalanan pertanian sejak musim menebas, menanam sampai dengan masa panen,” ucapnya.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Desil dan Dilema Bantuan Sosial: Ketika Data Tak Sesuai Kondisi Warga

26 Agustus 2026 - 05:54 WITA

Presiden Prabowo: Tingkatkan Layanan Dasar bagi Rakyat dari Puskesmas hingga Sekolah, Tak Boleh Ada Anak Belajar dalam Keadaan Lapar

14 Agustus 2026 - 11:13 WITA

Kisah Munawi di Lereng Bromo, Merangkak di Tebing dan Mengejar Api hingga Larut Malam

8 Agustus 2026 - 12:10 WITA

Dari Mimpi Gaji Puluhan Juta ke Neraka Scam, Kisah Pekerja Migran di Sumut Jadi Korban TPPO

5 Agustus 2026 - 04:18 WITA

Akad Massal 62.000 KPR, Presiden Prabowo Pastikan Pemerintah Terus Hadirkan Hasil Nyata bagi Rakyat

31 Juli 2026 - 05:21 WITA

Trending di Warta Utama