Menu

Mode Gelap
Dari Ruang Kelas SMPN 111 Jakarta, Cita-Cita Besar Menggema di Hadapan Presiden Prabowo Nilai ekonomi jamu tembus Rp1,2 triliun, BPOM dorong inovasi herbal Kejagung Geledah Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana IOM serukan penguatan koordinasi lintas batas tekan wabah Ebola Timnas Basket U18 Putri Indonesia kalahkan Singapura KPK Sita Dolar dan Emas dalam OTT Kepala Imigrasi Jakarta Barat

Serba Serbi

Ongol-Ongol, Kue Tradisional yang Kembali Naik Daun di Tengah Tren Kuliner Modern

badge-check


					Ongol-Ongol, Kue Tradisional yang Kembali Naik Daun di Tengah Tren Kuliner Modern Perbesar

Pasar kuliner Indonesia kembali diramaikan oleh meningkatnya minat masyarakat terhadap makanan tradisional.

Salah satu yang mencuri perhatian adalah Ongol-ongol, kue berbahan dasar tepung sagu atau tepung kanji yang disajikan dengan taburan kelapa parut.

Meski sederhana, ongol-ongol kini kembali populer di berbagai daerah, bahkan mulai muncul dalam versi modern di kafe-kafe kekinian.

Ongol-ongol dikenal sebagai salah satu kue basah khas Nusantara yang memiliki tekstur kenyal dan rasa manis ringan.

Makanan ini biasanya dibuat dari campuran tepung sagu, gula merah, daun pandan, dan garam, kemudian dikukus hingga mengental dan dipotong kecil-kecil sebelum disajikan dengan kelapa parut yang sudah dikukus.

Kesederhanaan bahan inilah yang membuat ongol-ongol tetap bertahan di tengah gempuran makanan modern.

Dalam beberapa tahun terakhir, para pelaku usaha kuliner mulai melihat peluang besar dari kebangkitan makanan tradisional.

Ongol-ongol menjadi salah satu produk yang kembali dilirik karena memiliki nilai nostalgia yang kuat.

Banyak masyarakat yang mengingat kue ini sebagai jajanan masa kecil di pasar tradisional atau saat acara keluarga.

Menurut sejumlah pedagang kue basah di pasar tradisional Jawa Barat, permintaan terhadap ongol-ongol mengalami peningkatan, terutama pada akhir pekan dan musim tertentu dan perayaan hari besar.

Hal ini menunjukkan bahwa makanan tradisional masih memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat, meskipun banyak pilihan makanan modern yang lebih praktis.

Selain dijual di pasar, ongol-ongol kini juga mulai dipasarkan melalui media sosial. Banyak pelaku UMKM yang memanfaatkan platform digital seperti Instagram, TikTok, dan marketplace untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.

Mereka tidak hanya menjual versi klasik, tetapi juga melakukan inovasi seperti ongol-ongol rasa pandan, ubi ungu, hingga cokelat.

Inovasi ini dianggap penting untuk menjaga eksistensi makanan tradisional di tengah perubahan selera konsumen.

Generasi muda yang cenderung menyukai tampilan makanan yang menarik dan rasa yang variatif menjadi target utama dalam pengembangan produk ini.

Dengan kemasan yang lebih modern dan higienis, ongol-ongol kini tidak lagi identik dengan jajanan pasar yang sederhana, tetapi juga dapat bersaing di pasar kuliner urban.

Sejarawan kuliner menyebutkan bahwa ongol-ongol merupakan bagian dari kekayaan budaya kuliner Indonesia yang dipengaruhi oleh bahan pangan lokal seperti sagu dan kelapa.

Kedua bahan ini banyak ditemukan di berbagai wilayah Indonesia, terutama di daerah pesisir dan pedalaman yang memiliki hasil alam melimpah.

Dalam konteks budaya, ongol-ongol juga sering hadir dalam berbagai acara tradisional seperti selamatan, hajatan, dan pertemuan keluarga.

Kehadirannya bukan hanya sebagai makanan, tetapi juga sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur. Hal ini memperkuat posisi ongol-ongol sebagai bagian dari identitas kuliner daerah.

Namun, tantangan tetap ada. Salah satu tantangan utama dalam pelestarian ongol-ongol adalah perubahan pola konsumsi masyarakat yang semakin menyukai makanan cepat saji.

Selain itu, regenerasi pembuat kue tradisional juga menjadi perhatian, karena tidak semua generasi muda tertarik untuk melanjutkan usaha kuliner tradisional.

Pemerintah daerah dan komunitas kuliner mulai mengambil langkah untuk mengatasi hal ini.

Beberapa program pelatihan UMKM dan festival kuliner digelar untuk memperkenalkan kembali makanan tradisional kepada masyarakat luas.

Dalam berbagai acara tersebut, ongol-ongol sering menjadi salah satu menu yang diperkenalkan sebagai bagian dari warisan kuliner daerah.

Di sisi lain, para pelaku industri kreatif melihat potensi ongol-ongol sebagai produk yang bisa dikembangkan lebih jauh, termasuk dalam bentuk frozen food atau makanan siap saji.

Dengan teknologi pengemasan modern, ongol-ongol dapat bertahan lebih lama dan didistribusikan ke berbagai daerah bahkan hingga pasar internasional.

Tren ini menunjukkan bahwa makanan tradisional tidak harus tertinggal oleh zaman.

Sebaliknya, dengan inovasi dan adaptasi yang tepat, makanan seperti ongol-ongol dapat menjadi produk unggulan yang membawa identitas budaya Indonesia ke tingkat global.

Ke depan, keberadaan ongol-ongol diharapkan tidak hanya bertahan sebagai jajanan pasar, tetapi juga menjadi simbol keberhasilan pelestarian kuliner tradisional di era modern.

Dengan dukungan masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah, ongol-ongol berpotensi menjadi salah satu ikon kuliner yang membanggakan Indonesia.

Dengan segala perkembangan yang ada, Ongol-ongol membuktikan bahwa makanan sederhana pun dapat memiliki nilai budaya, ekonomi, dan sejarah yang besar.

Di tengah arus globalisasi kuliner, keberadaan kue ini menjadi pengingat bahwa kekayaan rasa Nusantara tetap relevan dan layak untuk terus dijaga.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Nilai ekonomi jamu tembus Rp1,2 triliun, BPOM dorong inovasi herbal

3 Juni 2026 - 06:33 WITA

Timnas Basket U18 Putri Indonesia kalahkan Singapura

3 Juni 2026 - 06:28 WITA

Tekad Eksel Runtukahu Maksimalkan Kesempatan Dipanggil Timnas Indonesia

1 Juni 2026 - 10:54 WITA

Waisak 2026 di Borobudur Serukan Perdamaian, Persatuan dan Cinta Kasih bagi Dunia

1 Juni 2026 - 07:00 WITA

Festival ketupat simbol persaudaraan dan kebersamaan masyarakat Maluku

31 Mei 2026 - 06:19 WITA

Trending di Serba Serbi