Menu

Mode Gelap
Lima Sila Pancasila Jadi Filosofi Pembangunan Gedung Mahkamah Agung di IKN Anggaran Kementerian di Kanwil Kemenag Kalteng dan Universitas Palangkaraya Terindikasi Dikorupsi Dari Tambling, Titiek Soeharto Dorong Kolaborasi Sains dan Alam untuk Konservasi Masa Depan Mutasi Polri Agustus 2026, Kapolda dan Wakapoda Sulut serta Sejumlah Pejabat Utama Pindah Tugas hingga Promosi Jabatan Baru Berusia 11 Tahun, Mikhayla Shanum Caya Jadi Kontingen Indonesia Termuda Asian Games 2026, Targetkan Medali Kejagung Tampilkan Uang Sitaan Rp401 Miliar Kasus Nikel PT CNI

Serba Serbi

Tak Banyak yang Tahu, 5 Kuliner Indonesia Ini Lahir dari Kemiskinan

badge-check


					Tak Banyak yang Tahu, 5 Kuliner Indonesia Ini Lahir dari Kemiskinan Perbesar

Tidak semua makanan khas Indonesia lahir dari perayaan atau tradisi yang penuh sukacita. Sebagian justru tercipta dari masa-masa paling sulit dalam sejarah, ketika masyarakat harus berjuang bertahan hidup di tengah kemiskinan, kelaparan, hingga tekanan pada era penjajahan.

Keterbatasan bahan pangan membuat masyarakat memanfaatkan apa pun yang tersedia. Dari kreativitas itulah lahir berbagai hidangan sederhana yang awalnya hanya menjadi cara untuk mengganjal perut. Seiring waktu, makanan-makanan tersebut justru menjelma menjadi kuliner legendaris yang tetap digemari hingga sekarang.

Di balik cita rasanya yang khas, setiap hidangan menyimpan cerita tentang ketangguhan masyarakat Indonesia menghadapi masa sulit. Berikut lima makanan Indonesia yang lahir dari kisah pilu dan kemiskinan, melansir Detikfood.

1. Sate kere

Sate kere merupakan kuliner tradisional yang identik dengan Solo dan Yogyakarta. Namun, di balik kelezatannya tersimpan kisah tentang kesenjangan sosial pada masa penjajahan Belanda.

Kala itu, daging sapi menjadi bahan makanan yang hanya mampu dibeli kalangan berada. Sementara masyarakat kecil harus memutar otak agar tetap bisa menikmati hidangan serupa. Mereka kemudian memanfaatkan jeroan, gajih, hingga tempe gembus sebagai pengganti daging untuk dibuat sate.

Nama ‘kere’ sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti miskin. Meski lahir dari kondisi serba kekurangan, sate kere kini justru menjadi salah satu kuliner tradisional yang paling banyak diburu wisatawan saat berkunjung ke Solo.

2. Tengkleng

Semangkuk tengkleng yang gurih ternyata juga berawal dari masa penuh keterbatasan. Hidangan khas Solo ini diyakini berkembang ketika masyarakat menghadapi kelangkaan pangan pada masa penjajahan.

Saat itu, daging kambing menjadi barang yang sulit diperoleh. Masyarakat kemudian memanfaatkan bagian-bagian yang tersisa, seperti tulang, kepala, kaki, dan jeroan agar tidak ada bahan makanan yang terbuang.

Dari kebiasaan tersebut lahirlah tengkleng, hidangan berkuah yang didominasi tulang dan jeroan dengan cita rasa rempah yang kuat. Kini, tengkleng menjadi salah satu ikon kuliner Solo yang digemari berbagai kalangan.

3. Kerak telor

Kerak telor telah lama dikenal sebagai salah satu ikon kuliner Betawi. Namun, makanan ini juga lahir dari kreativitas masyarakat dalam menghadapi keterbatasan ekonomi pada masa kolonial.

Saat itu, telur merupakan bahan pangan yang relatif mahal sehingga tidak mudah dijangkau semua orang. Untuk membuat hidangan tetap mengenyangkan sekaligus lebih terjangkau, masyarakat mencampurkan telur dengan beras ketan.

Adonan tersebut kemudian diperkaya dengan kelapa parut sangrai, ebi, garam, dan merica yang mudah diperoleh. Dari racikan sederhana itu lahirlah kerak telor yang kini menjadi sajian wajib di berbagai festival budaya Betawi.

4. Ampo

Ampo mungkin menjadi salah satu makanan paling unik di Indonesia. Camilan khas Tuban, Jawa Timur, ini bahkan dibuat dari tanah liat yang telah diolah secara khusus.

Tradisi mengonsumsi ampo dipercaya bermula ketika masyarakat mengalami kelaparan akibat sulitnya memperoleh bahan pangan pada masa kolonial Belanda. Sistem tanam paksa membuat sebagian warga kesulitan mendapatkan beras maupun bahan makanan lain.

Dalam kondisi tersebut, tanah liat tertentu diolah menjadi ampo sebagai cara bertahan hidup. Seiring berjalannya waktu, makanan ini tidak lagi sekadar menjadi pengganjal perut, tetapi berkembang menjadi bagian dari tradisi kuliner khas Tuban. Hingga kini, ampo masih diproduksi oleh segelintir perajin dan menjadi daya tarik bagi wisatawan.

5. Tiwul

Bagi sebagian orang, tiwul mungkin identik dengan makanan tradisional khas Jawa. Namun, hidangan ini sesungguhnya lahir dari masa ketika beras menjadi barang langka.

Pada masa penjajahan, banyak masyarakat tidak mampu memperoleh beras sebagai makanan pokok. Sebagai gantinya, mereka memanfaatkan singkong yang dikeringkan menjadi gaplek, lalu diolah menjadi tiwul.

Selama bertahun-tahun, tiwul kerap dianggap sebagai simbol kemiskinan karena menjadi makanan pengganti nasi. Kini, pandangan tersebut perlahan berubah. Tiwul justru banyak dicari sebagai kuliner tradisional dengan cita rasa khas, sekaligus pengingat akan ketangguhan masyarakat Indonesia dalam menghadapi masa-masa sulit.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Baru Berusia 11 Tahun, Mikhayla Shanum Caya Jadi Kontingen Indonesia Termuda Asian Games 2026, Targetkan Medali

1 September 2026 - 05:19 WITA

SSB Kolonal Jadi Ruang 60 Anak Solok Selatan Kejar Mimpi Jadi Pesepakbola

28 Agustus 2026 - 04:51 WITA

Ribuan Penari Muda dalam Tari Kolosal

25 Agustus 2026 - 07:19 WITA

Rahayu Saraswati Sebut PIK Berpotensi Jadi Lokasi Marathon Internasional

23 Agustus 2026 - 05:51 WITA

Lintas Alam Merah Putih 2026 di Bukit Pinteir: Rajut Nasionalisme dan Kepedulian Lingkungan

22 Agustus 2026 - 05:41 WITA

Trending di Serba Serbi