Kebahagiaan di raut wajah Mujianto, peternak asal Samarinda, Kalimantan Timur, tidak terbendung saat sapi kesayangannya bernama Bejo dengan bobot 1,70 ton, terpilih menjadi hewan kurban Bantuan Presiden (Banpres) Prabowo Subianto untuk wilayah Kalimantan Timur.
Peternak asal Tanah Merah, Samarinda Utara itu, menceritakan bagaimana sapi berjenis Brahman Cross silangan Simental berusia 6 tahun itu resmi dipinang sebagai sapi kurban Presiden.

“Awalnya saya tidak menyangka kalau sapi saya terpilih jadi sapi kurban Presiden, karena satu hari sebelumnya sudah ada penawaran sama pengusaha,” kata Mujianto, Minggu 24 Mei 2026.
Namun berselang sehari setelah mendapat tawaran dari pengusaha itu, Mujianto kemudian dihubungi oleh Dinas Peternakan dan Kesehatan Provinsi Kaltim yang tengah mencari sapi berbobot di atas 1 ton untuk dijadikan sebagai sapi kurban bantuan Presiden. Tanpa ragu, Mujianto pun langsung menyetujuinya.
“Harganya saya mengikut saja, tapi saya tidak bisa sampaikan. Saya harapkan peternak yang ada di Kaltim bisa merawat sapi jenis-jenis jumbo seperti Limosin, Simmental, Brahman Cross ataupun Angus karena pertumbuhannya bagus,” ujar Mujianto.
Nama Bejo sendiri sengaja diberikan Mujianto dengan harapan membawa keberuntungan, yang kini terbukti menjadi kenyataan sapinya dipilih oleh Presiden Prabowo Subianto.
Mujianto bilang sapi potong Bejo ini juga sudah terjamin kesehatannya secara medis. Si Bejo rutin divaksin, dan dari DPKH Kaltim juga telah melakukan pemeriksaan kesehatan yang ketat, termasuk pengambilan sampel darah. Peternakannya juga telah mengantongi Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH).
Keberhasilan Bejo menjadi sapi Presiden tidak diraih secara instan. Sapi yang didatangkan dari Sulawesi pada tahun lalu, saat itu masih berusia 5 tahun dengan bobot awal 900 kilogram.
Proses adaptasi Bejo di Samarinda sempat membuat Mujianto kewalahan, karena sapinya itu sempat mogok makan hingga 3 bulan.
“Awalnya si Bejo itu datang ke sini tidak mau makan dan minum sampai tiga bulan. Dikasih ampas tahu, batang pisang, sampai singkong pun tidak mau. Badannya sempat ngedrop sampai tulang iganya kelihatan,” kenang Mujianto.
Namun, berkat kesabaran dan perlakuan khusus, nafsu makan Bejo akhirnya kembali normal, dan tumbuh subur.
“Saya pelan-pelan merawatnya. Saya berfikir waktu itu kalau dia lapar dia pasti makan. Ternyata benar, lama kelamaan dia mulai beradaptasi dan mau makan,” terang Mujianto.
Untuk pakan yang diberikan sehari-hari kepada si Bejo sendiri menggunakan pakan konsentrat dan rumput fermentasi hasil budidaya Mujianto sendiri, serta rutin memberikan vitamin Cardiovit untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan mempercepat penggemukan ternak.
Budidaya rumput di tanah sendiri, menurut Mujianto lebih aman ketimbang mengandalkan rumput liar di jalanan. Karena rumput yang dipelihara sudah terjamin kesegaran dan tanpa pestisida.
“Kalau untuk perawatan semua sapi sama saja. Tetapi kalau sapi besar ini ada perlakuan khusus seperti kukunya dan kestabilan tubuhnya agar tidak gampang sakit. Kemudian juga menjaga kebersihan kandangnya,” jelas Mujianto.
Menariknya, sapi-sapi milik Mujianto ini bukan kali pertama terpilih menjadi sapi kurban bantuan Presiden. Pada tahun-tahun sebelumnya sapi miliknya juga selalu dibeli oleh Presiden ke-7, Joko Widodo.
“Sapi saya ini sudah keempat kalinya dibeli sebagai sapi Presiden. Pak Jokowi 3 kali,” kenangnya lagi.
Di usaha peternakannya, Mujianto menjual sapi-sapi jumbo berbobot 600 kilogram hingga 1 ton, dan sapi kelas ekonomi dengan bobot 250 kilo hingga 600 kilo, yang kandangnya dibuat terpisah.
“Untuk sapi kelas ekonomi harganya Rp20 juta sampai Rp70 juta. Sedangkan untuk sapi-sapi jumbo, kisaran harganya mulai dari Rp70 juta hingga Rp100 jutaan,” demikian Mujianto.
****









