Menu ✖

Mode Gelap
Polisi Tahan Eks Kadis dan Eks Kabid Kominfo Sulut Terkait Dugaan Korupsi Kerja Sama Media Rp7,5 Miliar Presiden Prabowo Pimpin Sidang Kabinet Paripurna: Dua Tahun Pemerintahan Kerja Nyata untuk Negeri Tanamkan Cinta Bahari Sejak Dini, KRI Abdul Halim Perdanakusuma-355 Sambut Kunjungan Pelajar di Nunukan Di Universitas Indonesia, Kabaharkam Tegaskan Kepercayaan Publik Jadi Ukuran Keberhasilan Polri China Minta Politikus Filipina Tak Bikin Panas Hubungan Antar Negara Kejati Sultra Tetapkan Karo Ekonomi Tersangka Korupsi Jamuan Rp4,2 Miliar

Warta Internasional

Breaking News! Harga Minyak Tembus US$116

badge-check


					Breaking News! Harga Minyak Tembus US$116 Perbesar

Harga minyak dunia kembali melesat pada awal pekan ini di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah yang kian meluas. Pada Senin (30/3/2026) pukul 09.40 WIB, harga minyak jenis Brent tercatat di US$116,6 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menembus US$102,88 per barel.

Penguatan ini memperpanjang tren kenaikan tajam dalam beberapa hari terakhir. Dibandingkan posisi Jumat (27/3/2026), harga Brent telah naik dari US$112,57 per barel, sementara WTI menguat dari US$99,64. Bahkan jika ditarik sejak awal pekan lalu, lonjakan terlihat semakin signifikan-dari level US$99,94 pada 23 Maret menjadi di atas US$116 saat ini.

Melansir dari Reuters, kenaikan harga minyak dipicu oleh eskalasi konflik Iran yang semakin melebar, setelah kelompok Houthi di Yaman meluncurkan serangan ke Israel. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap keamanan jalur distribusi energi global, terutama di kawasan Laut Merah dan sekitarnya.

Selain itu, gangguan di Selat Hormuz turut memperparah tekanan di pasar. Jalur strategis yang selama ini dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia tersebut dilaporkan mengalami hambatan signifikan, sehingga mengurangi aliran minyak global secara drastis.

Dalam analisis Reuters, pasar saat ini dinilai telah masuk ke skenario “kedua terburuk”, di mana gangguan pasokan mulai terasa luas, terutama di kawasan Asia yang menjadi tujuan utama ekspor energi dari Timur Tengah. Harga produk turunan seperti solar dan bahan bakar pesawat bahkan dilaporkan melonjak tajam sejak konflik berlangsung.

Situasi ini diperparah oleh risiko eskalasi lanjutan, termasuk potensi serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk. Jika hal tersebut terjadi, pasar berpotensi menghadapi tekanan yang lebih besar, mengingat pasokan global belum sepenuhnya mampu mengimbangi gangguan yang ada.

Di sisi lain, dinamika geopolitik turut memengaruhi aliran pasokan global. Rusia dilaporkan mulai mengirimkan minyak ke Kuba, sementara Amerika Serikat menunjukkan pelonggaran sikap terhadap pengiriman tersebut, di tengah upaya menjaga stabilitas pasokan energi global.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

China Minta Politikus Filipina Tak Bikin Panas Hubungan Antar Negara

21 Oktober 2026 - 02:33 WITA

Singapura Layangkan Peringatan ke 7 Perusahaan Indonesia Terkait Kabut Asap

17 Oktober 2026 - 03:38 WITA

RI Dorong ACAFTA Buka Peluang Ekonomi bagi UMKM

15 Oktober 2026 - 06:45 WITA

PBB Desak Investigasi Serangan Terhadap Bandara Internasional Riyadh

13 Oktober 2026 - 04:33 WITA

Indonesia Juara Umum Kompetisi Olahraga-Budaya ISCG 2026 di Pakistan

10 Oktober 2026 - 05:03 WITA

Trending di Warta Internasional