Menu

Mode Gelap
Dari Ruang Kelas SMPN 111 Jakarta, Cita-Cita Besar Menggema di Hadapan Presiden Prabowo Nilai ekonomi jamu tembus Rp1,2 triliun, BPOM dorong inovasi herbal Kejagung Geledah Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana IOM serukan penguatan koordinasi lintas batas tekan wabah Ebola Timnas Basket U18 Putri Indonesia kalahkan Singapura KPK Sita Dolar dan Emas dalam OTT Kepala Imigrasi Jakarta Barat

Serba Serbi

Angka Putus Sekolah di Kotim Masih Tinggi

badge-check


					Angka Putus Sekolah di Kotim Masih Tinggi Perbesar

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Muhammad Irfansyah, menyoroti tingginya angka anak putus sekolah di wilayahnya dan dirinya menegaskan perlunya sinergi nyata antara Tenaga Lapangan Dinas (TLD), pamong desa, hingga para guru untuk menekan persoalan klasik ini.

“Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan angka anak tidak sekolah di Kotim masih cukup tinggi. Karena itu, kami minta TLD bersama pamong desa bergerak aktif menelusuri penyebabnya dan segera mencari solusi,”ungkap Irfansyah, Rabu (27/8/2025).

Ia mengakui, deteksi dini terhadap anak yang berpotensi putus sekolah masih lemah. Guru belum maksimal dalam memantau siswa yang tidak hadir lebih dari satu minggu.

“Itu harus segera dicari tahu, jangan sampai terlambat. Ada pula anak yang kesulitan berkonsentrasi dalam belajar, itu juga butuh perhatian khusus. Karena itu kami mendorong agar guru kelas maupun guru mata pelajaran juga berperan sebagai pembimbing konseling (BK),” jelasnya.

Fenomena putus sekolah, lanjutnya, paling banyak ditemukan pada jenjang sekolah dasar. Hal ini terlihat dari berkurangnya jumlah siswa di Kelas V setelah kenaikan kelas.

“Kalau pindah sekolah itu wajar, tetapi kalau tidak melanjutkan sama sekali berarti memang putus sekolah. Nah, itu yang harus kita telusuri, ke mana mereka. Apalagi kondisi di wilayah utara, selatan, maupun tengah Kotim berbeda-beda karakteristiknya,” imbuh Irfansyah.

Ia menegaskan, keterlibatan semua pihak sangat penting, mulai dari guru, pamong desa, hingga TLD, dalam mengidentifikasi faktor penyebab anak putus sekolah. Baik karena persoalan ekonomi, kurangnya motivasi belajar, maupun masalah keluarga.

“Disdik mendorong pemetaan menyeluruh agar setiap anak bisa tetap mengenyam pendidikan sesuai haknya. Dengan deteksi dini yang lebih baik, kami optimistis angka putus sekolah di Kotim bisa ditekan dan tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya,” pungkasnya

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Nilai ekonomi jamu tembus Rp1,2 triliun, BPOM dorong inovasi herbal

3 Juni 2026 - 06:33 WITA

Timnas Basket U18 Putri Indonesia kalahkan Singapura

3 Juni 2026 - 06:28 WITA

Tekad Eksel Runtukahu Maksimalkan Kesempatan Dipanggil Timnas Indonesia

1 Juni 2026 - 10:54 WITA

Waisak 2026 di Borobudur Serukan Perdamaian, Persatuan dan Cinta Kasih bagi Dunia

1 Juni 2026 - 07:00 WITA

Festival ketupat simbol persaudaraan dan kebersamaan masyarakat Maluku

31 Mei 2026 - 06:19 WITA

Trending di Serba Serbi