Menu ✖

Mode Gelap
Presiden Prabowo Sambut Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang TNI AL Amankan Tugboat Pembawa Ribuan Kubik Kayu Log di Perairan Utara Pulau Buru Kisah Ibu-ibu Pemindang Ikan Kusamba, 28 Tahun Kerja Cuma Libur Nyepi-Galungan KPK Evaluasi Alasan Nusron Wahid Mangkir Sebelum Terbitkan Surat Perintah Membawa DPD RI Desak Menag Perkuat Pengawasan Anak Lindungi dari Kekerasan Seksual Taman Bunga Nusantara Punya Banyak Taman Tematik, Intip Daya Tariknya

Warta Utama

Ritual Mecak Undat Datah Bilang Diwarnai Lomba Tradisional dan Kesenian

badge-check


					Ritual Mecak Undat Datah Bilang Diwarnai Lomba Tradisional dan Kesenian Perbesar

Masyarakat adat Dayak Kenyah di Kabupaten Mahakam Ulu menggelar ritual adat Mecak Undat Lepek Majau sebagai ungkapan syukur atas hasil panen padi ladang kering yang telah sejak lama dikerjakan. Tradisi ini menjadi bagian penting dalam siklus pertanian masyarakat yang masih menjaga nilai-nilai kearifan lokal daerah.

Pelaksanaan ritual berlangsung di Kampung Datah Bilang Baru dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat. Selain prosesi adat, kegiatan juga dimeriahkan dengan beragam olahraga tradisional dan lomba kesenian lokal.

Berbagai perlombaan yang digelar antara lain belogo, begasing, hingga menyumpit. Kegiatan tersebut menarik partisipasi masyarakat dari berbagai kalangan dan menjadi sarana pelestarian budaya daerah.

Tidak hanya sebagai hiburan, perlombaan ini juga memiliki makna filosofis yang berkaitan erat dengan tahapan dalam sistem pertanian tradisional masyarakat Dayak Kenyah. Setiap permainan mencerminkan proses yang dilalui sejak awal hingga akhir masa bercocok tanam.

Kepala Adat Kampung Datah Bilang Baru, Jalung Bit, menjelaskan bahwa olahraga tradisional dan kesenian yang dilombakan memiliki nilai simbolis yang mendalam. Hal tersebut menjadi bagian dari edukasi budaya bagi generasi muda.

“Olahraga tradisional dan kesenian yang dilombakan bukan hanya kegiatan seremonial dan hiburan semata, melainkan melambangkan makna dari masa tahap pertanian,” ujar Bit, Jumat, 17 April 2026.

Ia menambahkan bahwa setiap jenis permainan menggambarkan tahapan pertanian, mulai dari proses menebas lahan, menanam, hingga masa panen. Tradisi ini menjadi cara masyarakat dalam menjaga ingatan kolektif terhadap budaya leluhur.

“Permainan seperti belogo, begasing, menyumpit dan lainnya menggambarkan perjalanan pertanian sejak musim menebas, menanam sampai dengan masa panen,” ucapnya.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kisah Ibu-ibu Pemindang Ikan Kusamba, 28 Tahun Kerja Cuma Libur Nyepi-Galungan

19 Oktober 2026 - 02:57 WITA

Muhammad Saidil, Bocah 9 Tahun Kayuh Sepeda 12 Km Demi Bawa Ayah Berobat ke RSUD Sigli

16 Oktober 2026 - 02:50 WITA

Cerita ABK KM Maulana Dianiaya, Dipukul hingga Disiram Air Panas

11 Oktober 2026 - 04:57 WITA

Presiden Prabowo: Pemerintah Tidak Menyerah dalam Membela Kebenaran, Keadilan dan Kepentingan Rakyat

7 Oktober 2026 - 03:23 WITA

SD Negeri Purwosari Sleman Sulap 600 Galon Bekas Jadi Kebun Sayur

2 Oktober 2026 - 07:16 WITA

Trending di Warta Utama