Menu

Mode Gelap
Presiden Prabowo Teken Perpres Kesehatan, Atur Integrasi Layanan dari Pusat hingga Desa Rossa Sebut Nama Baiknya Dijadikan Ajang Cari Cuan Clickbait Lewat Link Afiliasi Kepergok ke Kedai Kopi, Napi Korupsi Dipindah ke Lapas Nusakambangan Harga BBM Pertamina Naik, Pertamax Turbo Melejit Jadi Rp19.400 Potret Gereja Pertama IKN, Ada Makna di Balik Desain Indahnya Komisi IX DPR RI Dorong Optimalisasi Program Magang untuk Kurangi Pengangguran Sarjana

Warta Utama

Veronica Tan Ungkap Kemiskinan Picu Maraknya Kasus Pernikahan Dini di Indonesia

badge-check


					Veronica Tan Ungkap Kemiskinan Picu Maraknya Kasus Pernikahan Dini di Indonesia Perbesar

Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Wamen PPPA) Veronica Tan mengungkapkan, faktor impitan ekonomi dan kemiskinan keluarga menjadi pemicu utama maraknya kasus pernikahan dini di Indonesia.

Ia menilai, keterbatasan ekonomi membuat orangtua mengambil jalan pintas dengan menikahkan anak perempuan mereka yang masih di bawah umur demi mengurangi beban keluarga.

“Itu kan sumber utama dari kita adalah kalau kita lihat fakta yang kita alami terus-menerus itu adalah kejadian yang berulang, sistem yang berulang. Jadi ekonomi enggak ada, si Ibu sudah menikah dan banyak anak, akhirnya anaknya dinikahkan saja,” ujar Veronica kepada wartawan, Rabu (8/4/2026).

Veronica pun mengungkap temuan di lapangan, di mana sejumlah keluarga berpenghasilan rendah memiliki anak dalam jumlah besar, bahkan hingga belasan orang.

Kondisi ini menciptakan lingkaran kemiskinan yang berujung pada pengorbanan masa depan anak.

“Nah, habis itu kalau kita lihat jenjangnya ekonominya enggak cukup, pasti anak 15 tahun belum cukup umur dia akan nikahkan. Nah, inilah yang sebenarnya bubbling yang kita lihat,” jelas Veronica.

Lebih lanjut, Veronica menegaskan bahwa pernikahan dini berpotensi memicu berbagai krisis sosial baru. Anak yang belum matang secara fisik dan mental dipaksa menjadi orangtua di tengah tekanan ekonomi.

“Nanti anak usia 15 tahun, punya anak lagi, dia juga enggak tahu memelihara anaknya seperti apa karena tertekan dengan ekonomi itu. Ujung-ujungnya karena ekonomi yang enggak ada ini, ekonomi yang kurang, kemiskinan, sehingga stunting terjadi,” kata dia.

Menyikapi hal tersebut, Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN, Isyana Bagoes Oka, menyatakan bahwa menghentikan praktik pernikahan dini bukanlah hal yang mudah.

Karena itu, pemerintah terus menggencarkan program edukasi melalui pendekatan teman sebaya.

“Baik itu melalui program Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK Remaja) di mana kalau kita tahu bahwa biasanya remaja itu akan lebih cenderung mendengarkan teman-temannya,” kata Isyana.

Selain itu, program Generasi Berencana (GenRe), yang menghimpun anak muda usia 10 hingga 24 tahun di seluruh Indonesia, juga dioptimalkan untuk mengubah pola pikir remaja terkait risiko pernikahan dini.

“Ini butuh proses sehingga proses terus dilakukan, upaya-upaya termasuk edukasi terus dilakukan dan juga pemberdayaan ekonomi tentunya juga menjadi salah satu yang harus dilakukan. Dan yang paling penting tentu saja adalah kolaborasi lintas kementerian,” tutur Isyana.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ritual Mecak Undat Datah Bilang Diwarnai Lomba Tradisional dan Kesenian

17 April 2026 - 07:38 WITA

Viral Kisah Pilu Sri Apriliani: Hidup Sebatang Kara di Rumah Tak Layak, Menabung Meski Serba Kurang

16 April 2026 - 05:59 WITA

Anak Jalanan-Pengemis Berkeliaran di Mataram Mall, Warga Mengeluh

13 April 2026 - 02:35 WITA

Saksikan Penyerahan Rp11,42 Triliun dan Ratusan Ribu Hektare Lahan Hasil Penyelamatan ke Negara, Prabowo: Kewenangan yang diberikan oleh UUD 45 kepada Presiden RI, saya akan gunakan untuk tegakkan hukum tanpa pandang bulu

11 April 2026 - 06:46 WITA

Rumah Saksi Kasus Ade Kuswara Dibakar, KPK Koordinasi dengan LPSK

9 April 2026 - 05:45 WITA

Trending di Warta Utama