Kepala Divisi Humas Polri Irjen Johnny Eddizon Isir menyatakan bahwa budaya kekerasan antara senior terhadap junior dalam pendidikan Polri telah lama diminimalisir. “Evaluasi terkait sikap perilaku yang memberi tambahan nilai-nilai kepribadian, dalam hal ini budaya-budaya kekerasan hubungan senior terhadap junior sudah lama diminimalisir bahkan dieliminir,” kata Isir di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (7/4/2026).
Dalam hal ini, dia menekankan bahwa kurikulum pendidikan di lembaga pendidikan kepolisian, termasuk Akademi Kepolisian (Akpol), secara berkala dianalisis dan dievaluasi agar selaras dengan dinamika serta tantangan tugas kepolisian saat ini dan ke depan.

Menurut Isir, nilai disiplin dan penghormatan terhadap hierarki tetap diajarkan dalam pendidikan.
Namun, hal tersebut tidak dapat serta-merta dimaknai sebagai praktik militeristik. “Disiplin, hierarki, tidak selamanya hal ini adalah militer,” kata dia.
Isir menambahkan, pendidikan Polri sejak lama menekankan kultur polisi sipil yang berorientasi pada penghormatan hak asasi manusia (HAM) dan pelayanan kepada masyarakat.
Dalam pendidikan pembentukan, taruna dan taruni serta calon siswa dibekali pemahaman untuk menghargai HAM dalam pelaksanaan tugas kepolisian, serta mengedepankan komunikasi yang humanis dengan masyarakat.
Selain itu, peserta didik juga didorong untuk menjunjung tinggi nilai keadilan melalui materi pembelajaran di bidang hukum. Isir menegaskan, penanaman kultur polisi sipil tersebut telah dilakukan sejak reformasi 1998, ketika peran Polri dipisahkan dari Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan saat ini terus diperkuat dalam sistem pendidikan kepolisian.
Diberitakan sebelumnya, Plt Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Kalemdiklat) Polri Irjen Andi Rian Djajadi mengungkapkan rencana menghapus pendidikan dasar siswa Polri yang terlalu militeristik. Andi Rian menyebut, kebiasaan calon Bhayangkara yang menenteng senjata, memakai helm, dan membawa ransel berisi batu bata akan dihilangkan.
“Berencana melakukan kajian dan evaluasi terhadap pendidikan dasar Bhayangkara. Mungkin senior-senior kami merasakan pada saat kita dulu basis namanya, kita masih nenteng senjata, ransel, pakai helm. Ini sedang kami kaji, itu kita hilangkan,” ujar Andi Rian dalam rapat Komisi III DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (2/4/2026).
Andi Rian mengatakan, pihaknya akan mencontoh ke luar negeri, bagaimana pendidikan dasar untuk polisi yang benar. Dia pun kembali menekankan bahwa Polri akan menghapus budaya militeristik tersebut sejak awal pendidikan seorang Bhayangkara.
“Karena ini bagian dari militeristik. Kami akan cari benchmark di negara lain bagaimana sih pendidikan dasar pembentukan seorang Bhayangkara yang benar, tidak lagi bawa senjata, bawa ransel diisi batu bata, diisi pasir. Ini upaya kami untuk hilangkan militeristik,” ujar Andi Rian.
****









