Menu

Mode Gelap
Selat Hormuz, Selat Strategis Titik Perekonomian Dunia Dukung Pemberdayaan Nelayan, Danlanal Yogyakarta Hadiri Kunker Ketua Komisi IV DPR-RI Ketika Pemkab Bulungan Bersolek, Eks Pasar Ikan Kini Jadi Food Court Kemenlu RI Pastikan Koordinasi Intensif Pelindungan WNI di Timur Tengah Jalan Rusak dan Anak Putus Sekolah, Pengalaman Pahit Warga 2 Kampung di Polman Pemerintah perkuat peran generasi muda melalui Mangrove Goes To School

Warta Daerah

Asa Rakyat Kaltara di Gerbang Lintas Negara Tuk Nikmati Infrastruktur Memadai, Tak Pernah Pupus

badge-check


					Asa Rakyat Kaltara di Gerbang Lintas Negara Tuk Nikmati Infrastruktur Memadai, Tak Pernah Pupus Perbesar

Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) merupakan Provinsi ke-34 yang juga merupakan provinsi termuda di Indonesia. Provinsi ini dibentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2012 tentang Pembentukan Provinsi Kalimantan Utara dalam rangka percepatan kesejahteraan di wilayah perbatasan.

Hal itu dikarenakan letak Provinsi Kaltara berbatasan langsung dengan Negara Malaysia. Seperti diketahui, beberapa kecamatan di Kabupaten Malinau dan Kabupaten Nunukan adalah daerah yang berbatasan langsung dengan Malaysia (Negara Bagian Sabah dan Sarawak).

Daerah-daerah tersebut yaitu: Malinau Kayan Hulu, Kayan Hilir, Kayan Selatan, Pujungan, Bahau Hulu, Nunukan, Sebatik, Lumbis Ogong, Lumbis Pansiangan, Lumbis Hulu, Krayan, Tulin Onsoy dan Seimenggaris.

Perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Utara mencakup wilayah darat dan laut, dengan fokus utama di Kabupaten Nunukan yang berbatasan langsung dengan Sabah, Malaysia (Tawau). Pulau Sebatik merupakan titik krusial, di mana bagian selatan milik Indonesia dan utara milik Malaysia.

Kalimantan Utara bukan sekadar wilayah administratif, melainkan garis terdepan hubungan antarnegara yang mencerminkan kedaulatan dan kehadiran negara.

Akses darat yang sulit dan infrastruktur yang belum memadai di wilayah perbatasan Kaltara dengan Malaysia—khususnya di kawasan pedalaman seperti Krayan, Nunukan dan Malinau menjadi penyebab utama terkendalanya suplai bahan pokok dan Bahan Bakar Minyak (BBM). Kondisi geografis yang ekstrem dan jalan yang rusak parah sering kali memaksa warga perbatasan bergantung pada pasokan dari Malaysia.

Berangkat dari polemik seperti ini, Dr. Yansen Tipa Padan, M.Si, Wakil Gubernur Kalimantan Utara periode 2021–2025 pun menuangkan harapannya melalui rangkaian tulisan yang menurutnya untuk menjadi renungan.

SAMPAI KAPAN…???!!!
Perbatasan merupakan Beranda, Serambi, Kaki Lima, Wajah Negeri, Halaman Rumah, Harga Diri, Citra diri, Potret negeri. Identitas negeri, Kebanggaan Bangsa dan banyak lagi diksi, narasi yg menyatakan PERBATASAN adalah SIMBUL, LAMBANG, PETAKA yg menyatakan KEHORMATAN sebuah negara.

Mungkin kita tidak lagi bicara tentang semuanya itu. Sebuah Pertanyaan layak kita ajukan. Benarkah kita sungguh-sungguh MEMBANGUN BANGSA DAN NEGARA INDONESIA YANGBKITA CINTAI INI, sebagaimana hakikat dari tujuan pembangunan nasional yang kita cita-cita dan dambakan ??? !!!.
“Bangun Jiwanya, Bangun Badannya”.

Perbatasan Nunukan Krayan dan Lumbis, Sebatik relatif diperhatikan karena banyak Ordal. Perbatasan Malinau Apau Kayan ( Kayan Hilir, Kayan Hulu, Bahau dan Pujungan) adalah salah satu wilayah sebagai bagian terpenting dari wilayah Negara yang bisa mencitrakan NKRI ini.
Disana Hutannya sangat virgin dan luas lagi, di sana menjadi paru-paru dunia HAERT OF BORNEO (HOB), Anugrah terbesar untuk Indonesia dan dunia di pulau nomor 3 terbesar di dunia.

SAKSI HIDUP.
Jujur saya pernah mengabdi 33 Tahun yang lalu langsung di kawasan perbatasan, hingga sekarang ini, sehingga saya bisa menjadi saksi hidup (Cerita hidup) menyaksikan bagaimana prilaku kebijakan negara terhadap perbatasan.

Saya tdk mau membangun narasi seolah menyudutkan negara. Tetapi rasa cinta dan perduli saya kepada negara, terlebih kepada masyarakat yg hidup menghuni Kawasan Dataran Tinggi Borneo secara turun temurun ratusan tahun hingga kini di kenal sebagai daerah Perbatasan.
Tidak pelak lagi hati ini perih sekali, ketika setiap kali terjadi musibah Pesawat jatuh, Perahu karam di giram-giram, Mobil terbalik di jurang-jurang pegunungan, Terperosok di kubangan, di lumpur-2 jalan.

Yang melintas dalam pikiran, pertanyaan ” KENAPA NEGARA INI. DIMANA PEMERINTAH INI, DIMANA PARA PEMIMPIN YG BERKOAR-KOAR INGIN MEMBANGUN, INGIN MENGATASI MASALAH DAERAH, MANUSIA, MASYARAKAT PERBATASAN.

TERABAIKAN. TIDAK ADA HATI UNTUK MEREKA…!!!
Pertanyaan yg terkesan menggeruduk, sangat tidak berkesan, tidak dirasakan ditubuh, dihati, dipikiran mereka. Karena apa dan kenapa ya…???.

Terus terang sampai saat ini, masalah diperbatasan tetaplah prihal Sulit, Terabaikan, Terpencil, Tertinggal, Terisolasi, Tidak Berdaya, Terileminasi dari kemajuan seperti di tempat lain.

Itu artinya hingga 90an tahun negara kita Merdeka, hampir seluruh Perbatasan terutama yang berada di Malinau, Nunukan Provinsi Kalimantan Utara, bahkan di Provinsi lain, tidak mencerminkan Indonesia ini sebagai sebuah negara Besar, negara yang Kaya Raya ???.

TETAP YAKIN… !!!???
Saya hampir tidak yakin dan tidak percaya, bahwa Pemerintah Negara tdk bisa menangani persoalan Pembangunan Perbatasan ini.

Saya yakini, Pemerintah Negara sangat bisa membangun Serambi depan Bangsa.
Karena saya punya pengalaman nyata, pernah dengan tegas membuat kebijakan pembangunan Jalan-jalan, jembatan, untuk maksud hati menembus ke wilayah perbatasan utk menuntaskan keterisolasian wilayah Kabupaten Malinau di Apau Kaya, di Bahau, dan menujuh ke Krayan.

Wilayah yang sudah ratusan tahun dihuni oleh masyarakat, yang hidup dengan bangga dan tetap eksis hanya ditopnang oleh budaya dan kearifan lokal di wilayah ini. Sekalipun mereka sesungguhnya terbilang menderita, sengsara, susah hidup, jika kita menggunakan parameter kemajuan kota, yang segala kebutuhannya tersedia dgn muda, tanpa kerja keras.

BERJUANG HIDUP UNTUK HIDUP HARI INI…!!!
Tetapi bisa di kata mereka berjuang hidup untuk bisa hidup besok, lusa dan hingga hari ini, mereka masih hidup membela negeri ini, walaupun sehari-harinya menu makan utama mereka, adalah kesusahan, kesulitan tantangan dan penderitaan, dan jujur saja, keadaan itu sudah tidak mereka rasakan lagi, karena sudah biasa mereka hadapi, seolah sebagai kawan dan sekolah utk mendidik mereka, dan juga mereka sudah biasa diabaikan.

Tetapi jika orang kota hidup disana sudah pasti mereka akan langsung menjerit. Sudah pasti menjadi bahan cemohan, bahkan bisa menjadi api yg membara, membakar, meletupkan protes-protes keras.

Tetapi di Perbatasan Krayan, Lumbis, Apau Kayan dan di Bahau keadaan itu menjadi Simbul Kekuatan dan Idealisme sebagai bangsa Indonesia yang hidup di perbatasan.

Sebuah cerita nyata, sekitar 15 Tahun yang lalu ada seorang Menteri berkunjung ke Perbatasan Krayan, disambut dengan Upacara di Long Bawan, berdirilah dengan megah dan bangga Bendera Merah Puti di Tiang Bambu Betung yg disambung 2 Lonjor sekitar 20 meter tinggi tiangnya dan Lebar Bendera Merah Putihnya berkisar 12 meter.

Dalam sambutan sebagai Tokoh masyarakat mewakili masyarakat perbatasan saya katakan, bahwa Bendera besar berkibar di tiang bambu itu, maksudnya bukan untuk menyambut kedatangan bapak Menteri, dan juga Bendera itu bukan satu-satunya dan yang pertama di kibarkan di sini di Perbatasan.
Bendera Merah Putih sudah lama berkibar di tiang-tiang kayu dan bambu di setiap lorong jalan desa.

Bagi mereka Bendera Merah Putih itu lambang kebanggaan masyarakat Perbatasan Krayan, Apau Kayan dan Lumbis, karena mereka warga negara Indonesia yang hidup MEMBELA NEGARA INI DENGAN HATI.

Sekalipun hanya sebuah kebanggaan, tetapi mereks mengibarkan Bedera Merah Putih, sejak Indonesia Merdeka, tidak pernah berhenti, mereka tetap setia tak terukur melakukan itu, walaupun tantangan hidup mereka sangat berat, entah sampai kapan akan berakhir.

IDEALISME YANG TEGAS TERUKUR, CINTA NEGERI…!!!
Kesempatan mereka hidup di negara yg merdeka ini, mereka tunjukkan dgn mengibarkan Bendera Merah Putih di kampung-kampung, di Sungai-sungai bergiram, di puncak-puncak gunung yg tertinggi di setiap kampung.

Mereka bangga merayakan hari kemerdekaan Indonesia hingga Satu Bulan penuh ..!!!!. Dan itu mereka lakukan hingga hari ini sejak Indonesia Merdeka, walaupun mereka hidup dengan penuh tantangan yang tidak bisa mereka atasi sendiri dengan tenaga, kaki dan tangan mereka sendiri.

Tetapi tdk mengurangi rasa bangga mereka sebagai Bangsa Indonesia yg hidup mempertahan eksistensi negara Indonesia menjadikan Betis sebagai Pagar, benteng dan tembok Pertahanan Negara Indobesia di hutan-hutan Belantara Wilyah Perbatasan Indonesia.

PERIH HATI, BESOK, TETAP ITU ITU LAGI…!!!
Tetapi apa yang kita saksikan dan rasakan hari ini, sebuah Armada Angkutan BBM untuk Masyarakat Krayan Jatuh, menumpahkan Darah seorang Pilot, kemudian tubuhnya terbakar.

Sang Pilot yg menurut saya adalah seorang Pejuang yang telah bertaroh nyawa menghidupkan masyarakat perbatasan. Sedih, Jengkel, marah entah kepada siapa dan menyesal serta malu bercampur aduk atas musibah yg bisa kita katakan tdk perlu terjadi.

TIDAK ADA CARA LAIN, BANGUN JALAN. FUNGSIONALKAN SEGERA…!!!
Jika kita berkomitmen dan konsisten menuntaskan persoalan utama dari perbatasan. Wilayah yang tidak pelak Tertutup, Terisolir, Terisolasi karena moda Transportasinya tidak proporsional.

Tidak ada jalan-jalan fungsional memadai digunakan utk mobilisasi orang dan barang. Sampai kapan ???. Sampai kita jujur dengan program strategis yg benar-benar menuntakan persoslan bangsa. Misalnya sebuah contoh yg sederhana dari program yg tdk menuntas masalah di Perbatasan.

Jalan Tembus dari Malinau ke Krayan sejak dibangun sekitar Tahun 2011 di jaman pak SBY sampai hari ini tidak di tuntas-tuntaskan juga. Bahkan terhenti karena alasan refokusing dengan rasionalisasi anggaran utk program lain yang katanya lebih utama.

Tahun 2021 di janjikan bahwa jalan Malinau menujuh ke Krayan akan Fungsional pada tahun 2023, ternyata tdk terjadi. Di janjikan lagi bahwa tahun 2024 akan fungsional, nyatanya sampai hari ini, kambali jadi hutan, kubangan dan tertutup lagi.

KAPAN BERJANJI YANG BENAR…???…!!!
Dan tidak jelas kapan janji yang benarnya. Sumpah janji kepada rakyat, negara dan bahkan Tuhan, nyatanya tidsk ada pembuktian dari janji. Bahkan hari ini jatuh lagi Satu Korban Nyawa Anak Bangsa yg sangat kita sayangkan, yang menerbangkan Pesawat Pengangkut BBM dari Tarakan ke Krayan.

INGIN BERTANYA, SAMPAI KAPAN YA …???
Terus terang ini bukan musibah yg pertama.

Sampai kapan ya…???

Setelah kejadian ini, biasanya dan kita yakin akan sibuk membahas kenapa pesawat bisa jatuh, human erorlah dan bla bla bla… seolah kita-kita ini sekumpulan orang pintar..???, berbusah-busa mulut berargumentasi membahas peristiwa musibah pesawat jatuh ini.

SALAH MEMILIH STRATEGI TEMPUR…???!!!
Kenapa bisa terjadi, karena Kirka kita ysng salah. Salah Kirka, salah Strategi, salah Orang, salah Logistik, dipastikan Kalah Perang.
Jujur kita salah membuat program strategis mengatasi masalah utama, yang sebenarnya sederhana saja, BANGUN JALAN-JALAN TEMBUS MENGHUBUNGKAN SELURUH WILAYAH NEGARA sampai keselutuh pelosok.

Saya sangat setuju kebijakan Koperasi Merah Putih, saya sangat setuju dengan Pola Pembangunan Ketahanan Pangan kita, saya sangat setuju dengan Kebijaksn Hati Mulia para Pemimpin kita yg tegas penuh walas asih memberi Makanan Bergizi Gratis untuk rakyat.

TETAPI HARUSKAH SEKARANG. ATAU TUNGGU DULU SETELAH INFRASTRUKTUR JALAN TERBANGUN SECARA MERATA untuk membuka Isolasi wilayah, untuk mengalirkan Energi pembangunan ke seluruh konsentrasi penduduk, (bagaikan pembuluh darah, yang mengalirkan darah-darah segar dan sehat ke sekujur tubuh), mohon maaf, baru kemudian kebijakan Program MBG ???.

Ini mungkin hanya sebuah perandaian, tetapi bisa saja benar, sebagai strategi jituh mengatasi persoalan bangsa.
Orang Indonesia kuat, tinggal diberi kemudahan untuk berpartisipasi. Manusia Indonesia pasti cerdik, cerdas dan kreatif berbuat.

Contoh yang sangat sederhana, tetapi sangat membahana kesekuruh dunia. RAKYAT INDONESIA MENGUSIR PENJAJAH HANYA DENGAN SEJATA BAMBU RUNCING, sementara Belanda, Jepang, Sekutu menggunakan sejata api, bedil, mortir, bren dan bom.

Mungkin tulisan saya ini menuai dugaan, karena hanya merupakan sebuah ungkapan keluhan semata.
Tetapi yakinlah, bahwa sampai kapanpun, negeri ini tdk akan kuat. Tidak akan besar dan hebat dlm arti yang sesungguhnya, sepanjang rakyatnya tidak terlibat secara mandiri dalam membangun negeri ini, dari tempat tinggal mereka.

BERDAYAKAN RAKYAT, AGAR RAKYAT KUAT, NAGARA KUAT, UNTUK NEGARA YANG JAYA, DARI HIDUPNYA RAKYAT YANG KUAT MEMBANGUN, mewujudkan ketersediaan fasilitas dan infrastruktur yang di bangun bersama negara.
NEGARA HARUS HADIR DIPERBATASAN KRAYAN, APAU KAYAN, LUMBIS SEBAGAI SERAMBI NEGARA INDONESIA.

“BANGUNLAH JALAN-JALAN DAN JEMBATAN- JEMBATAN, MEMBUKA ISOLASI WILAYAH. SELEBIHNYA RAKYAT PASTI BANGKIT BERJUANG MEMBANGUN NEGERI TEMPAT MEREKA HIDUP.
MEMBANGUN HIDUP MEREKA DENGAN CARA YANG BENAR”.

Katakanlah…!!!
“SAYA ADA UNTUK SEMUA”.
“BERSAMA KITA PASTI BISA”
“KALAU TIDAK KITA, SIAPA LAGI”.
“KALAU TIDAK SEKARANG, KAPAN LAGI”.
“TERUSLAH BERSEMANGAT DAN
BEKERJASAMA”
“SALAM HARMONIS UNTUK KITA SEMUA”

Dari *YTP* untuk di renungkan. Untuk menebar Kebaikan dan Kebenaran demi kemanusiaan..!!!

Dr. Yansen Tipa Padan, M.Si. (Yansen TP) adalah politisi dan birokrat yang menjabat sebagai Wakil Gubernur Kalimantan Utara periode 2021–2025. Ia merupakan mantan Bupati Malinau dua periode (2011–2021).

Red~ IKN

Dikutip oleh: Johni Masri B. Dipuro

Berdasarkan pernyataan, Yansen TP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ketika Pemkab Bulungan Bersolek, Eks Pasar Ikan Kini Jadi Food Court

2 Maret 2026 - 03:44 WITA

Pimpin Rakor Unsur Pendukung KHBS, Plt. Sekda Kalteng Tegaskan Penyaluran Bantuan Tepat Sasaran dan Terintegrasi

27 Februari 2026 - 05:39 WITA

Dukung Pengesahan Perda RTRW 2025-2044, Ketua KTNA Sulut: Petani Tak Lagi Was-was Alih Fungsi Lahan

25 Februari 2026 - 03:54 WITA

Pemprov Sulut Terima Persub RTRW dari Kementerian ATR/BPN

21 Februari 2026 - 05:43 WITA

Peringati Merah Putih, Gubernur: Jangan Biarkan Api Patriotisme Redup

15 Februari 2026 - 05:51 WITA

Trending di Warta Daerah