Menu

Mode Gelap
Hashim: Indonesia Dapat 150 Juta Barel Minyak APH Diminta Segera Mengusut Tuntas Terkait Dugaan Penerbitan Memo Siluman untuk Kontrak Kuota Angkutan Batubara Paus Leo XIV Kunjungi Guinea Khatulistiwa, Serukan Perdamaian Dunia Delapan ASN Kemenaker terbukti peras 20 perusahaan izin TKA Rp130 M MPR: Komitmen bersama dibutuhkan demi wujudkan semangat Kartini Residivis Bandar Narkoba di Pangkalpinang Ditangkap, Polisi Sita 2 Kg Sabu

Warta Nusantara

Dedi Mulyadi Bongkar Borok Proyek Perumahan: dari Gratifikasi hingga Nasib Warga Miskin

badge-check


					Dedi Mulyadi Bongkar Borok Proyek Perumahan: dari Gratifikasi hingga Nasib Warga Miskin Perbesar

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali menegaskan komitmennya untuk mengubah paradigma pembangunan perumahan di Tanah Pasundan.

Ia menolak praktik lama yang hanya menguntungkan segelintir pihak dan kerap diwarnai dugaan gratifikasi, serta mendorong pembangunan rumah murah yang benar-benar menyentuh rakyat miskin.

“Kalau saya bertemu konglomerat dalam urusan perumahan, justru saya ingin balikkan pola pikirnya. Setiap mereka dapat keuntungan, harus ada yang kembali ke rakyat. Minimal membangun satu atau dua kampung untuk warga miskin dengan rumah yang tertata,” tegas Dedi, pada kegiatan Peluncuran Program Penguatan Ekosistem Perumahan “Imah Merenah, Hirup Tumaninah”, serta Sosialisasi KUR Perumahan di Bandung, Kamis malam (18/9/2025).

Menurutnya, selama ini banyak pejabat lebih sibuk mengurusi izin, pembebasan lahan, hingga urusan proyek yang justru melupakan nasib rakyat kecil.

Kasus di Bekasi dan Karawang menjadi contoh, di mana perumahan elit menjamur namun warga sekitar masih tinggal di rumah kumuh.

“Saya turun langsung ke Karawang, bersihkan bangunan liar pakai alat berat. Lalu bupati siapkan anggaran, rumah warga kita bangun. Tidak boleh lagi rakyat kecil dibiarkan hidup berdampingan dengan rumah mewah tanpa keadilan,” ungkapnya.

Selain itu, Dedi juga menekankan konsep pembangunan yang ramah lingkungan dan sesuai karakter wilayah.

Ia mencontohkan pembangunan rumah bambu di Sukabumi, Cianjur, Garut Selatan, hingga Bandung Utara sebagai solusi yang lebih selaras dengan kondisi tanah, udara, dan ancaman bencana.

Lebih jauh, ia ingin membangun “brand rumah rakyat” yang tidak hanya sekadar bangunan, tapi juga menjaga keadilan sosial.

Salah satunya dengan aturan tegas agar rumah subsidi tipe 36 tidak diubah menjadi rumah mewah, yang bisa memicu kecemburuan sosial.

“Kalau nanti Jawa Barat bisa menyerap 30% dari total program perumahan nasional, efek ekonominya luar biasa. Toko bangunan hidup, sopir angkut bahan bangunan hidup, kuli bangunan hidup, sampai tukang kayu ikut sejahtera,” jelasnya.

Dedi juga menyinggung persoalan klasik dalam sektor konstruksi, seperti praktik kontraktor dan mandor yang kerap merugikan tukang maupun pedagang kecil.

“Saya hadapi setiap minggu kasus begini. Makanya saya tegaskan, tata kelola perumahan harus adil, transparan dan pro-rakyat,” pungkasnya.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Hashim: Indonesia Dapat 150 Juta Barel Minyak

23 April 2026 - 13:30 WITA

Hasil Pemeriksaan BPK 2025: Soroti Menko Pangan-Menteri Kesehatan

22 April 2026 - 11:36 WITA

Teleponan dengan PM Albanese, Prabowo Bahas Ekspor Urea ke Australia

22 April 2026 - 07:53 WITA

Media Asing Sorot Temuan Sumur Gas Raksasa RI

22 April 2026 - 07:23 WITA

KLH Kejar Denda 1.369 Perusahaan Biang Kerok Bencana

21 April 2026 - 05:56 WITA

Trending di Warta Nusantara