Menu

Mode Gelap
Heboh Bupati Lombok Barat Terjaring OTT KPK Setelah Nobar Piala Dunia Aksi Pemulung Ikut Tambal Jalan Rusak di Padang, Warga Mengaku Sudah Dua Wali Kota Tanpa Perbaikan Masyarakat Padati Jalan, Gelaran Festival Budaya Teguhkan Ajeg Budaya Polri Tahan 2 Tersangka Kasus Korupsi Pembiayaan Pengadaan Batu Bara JARR Milik Haji Isam Akui Beli CPO Sitaan Kejaksaan Agung DPR Gerah PNS Dapat Pensiun Seumur Hidup, Kerja Enggak Seberapa

Serba Serbi

Angka Putus Sekolah di Kotim Masih Tinggi

badge-check


					Angka Putus Sekolah di Kotim Masih Tinggi Perbesar

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Muhammad Irfansyah, menyoroti tingginya angka anak putus sekolah di wilayahnya dan dirinya menegaskan perlunya sinergi nyata antara Tenaga Lapangan Dinas (TLD), pamong desa, hingga para guru untuk menekan persoalan klasik ini.

“Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan angka anak tidak sekolah di Kotim masih cukup tinggi. Karena itu, kami minta TLD bersama pamong desa bergerak aktif menelusuri penyebabnya dan segera mencari solusi,”ungkap Irfansyah, Rabu (27/8/2025).

Ia mengakui, deteksi dini terhadap anak yang berpotensi putus sekolah masih lemah. Guru belum maksimal dalam memantau siswa yang tidak hadir lebih dari satu minggu.

“Itu harus segera dicari tahu, jangan sampai terlambat. Ada pula anak yang kesulitan berkonsentrasi dalam belajar, itu juga butuh perhatian khusus. Karena itu kami mendorong agar guru kelas maupun guru mata pelajaran juga berperan sebagai pembimbing konseling (BK),” jelasnya.

Fenomena putus sekolah, lanjutnya, paling banyak ditemukan pada jenjang sekolah dasar. Hal ini terlihat dari berkurangnya jumlah siswa di Kelas V setelah kenaikan kelas.

“Kalau pindah sekolah itu wajar, tetapi kalau tidak melanjutkan sama sekali berarti memang putus sekolah. Nah, itu yang harus kita telusuri, ke mana mereka. Apalagi kondisi di wilayah utara, selatan, maupun tengah Kotim berbeda-beda karakteristiknya,” imbuh Irfansyah.

Ia menegaskan, keterlibatan semua pihak sangat penting, mulai dari guru, pamong desa, hingga TLD, dalam mengidentifikasi faktor penyebab anak putus sekolah. Baik karena persoalan ekonomi, kurangnya motivasi belajar, maupun masalah keluarga.

“Disdik mendorong pemetaan menyeluruh agar setiap anak bisa tetap mengenyam pendidikan sesuai haknya. Dengan deteksi dini yang lebih baik, kami optimistis angka putus sekolah di Kotim bisa ditekan dan tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya,” pungkasnya

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

JARR Milik Haji Isam Akui Beli CPO Sitaan Kejaksaan Agung

20 Juli 2026 - 06:27 WITA

Kurangi Ketergantungan Gawai, KKN Unhas Edukasi Siswa SD Permainan Tradisional di Bone

19 Juli 2026 - 06:10 WITA

Pembangunan Tahap II IKN Terus Berjalan, Otorita IKN Lakukan Evaluasi Berkala

17 Juli 2026 - 06:02 WITA

Wimbledon Jadi Bekal Berharga Petenis Muda Indonesia Ethan Jake Frans

14 Juli 2026 - 06:44 WITA

Tak Banyak yang Tahu, 5 Kuliner Indonesia Ini Lahir dari Kemiskinan

13 Juli 2026 - 06:37 WITA

Trending di Serba Serbi