Menu ✖

Mode Gelap
Presiden Prabowo Sambut Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang TNI AL Amankan Tugboat Pembawa Ribuan Kubik Kayu Log di Perairan Utara Pulau Buru Kisah Ibu-ibu Pemindang Ikan Kusamba, 28 Tahun Kerja Cuma Libur Nyepi-Galungan KPK Evaluasi Alasan Nusron Wahid Mangkir Sebelum Terbitkan Surat Perintah Membawa DPD RI Desak Menag Perkuat Pengawasan Anak Lindungi dari Kekerasan Seksual Taman Bunga Nusantara Punya Banyak Taman Tematik, Intip Daya Tariknya

Serba Serbi

Angka Putus Sekolah di Kotim Masih Tinggi

badge-check


					Angka Putus Sekolah di Kotim Masih Tinggi Perbesar

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Muhammad Irfansyah, menyoroti tingginya angka anak putus sekolah di wilayahnya dan dirinya menegaskan perlunya sinergi nyata antara Tenaga Lapangan Dinas (TLD), pamong desa, hingga para guru untuk menekan persoalan klasik ini.

“Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan angka anak tidak sekolah di Kotim masih cukup tinggi. Karena itu, kami minta TLD bersama pamong desa bergerak aktif menelusuri penyebabnya dan segera mencari solusi,”ungkap Irfansyah, Rabu (27/8/2025).

Ia mengakui, deteksi dini terhadap anak yang berpotensi putus sekolah masih lemah. Guru belum maksimal dalam memantau siswa yang tidak hadir lebih dari satu minggu.

“Itu harus segera dicari tahu, jangan sampai terlambat. Ada pula anak yang kesulitan berkonsentrasi dalam belajar, itu juga butuh perhatian khusus. Karena itu kami mendorong agar guru kelas maupun guru mata pelajaran juga berperan sebagai pembimbing konseling (BK),” jelasnya.

Fenomena putus sekolah, lanjutnya, paling banyak ditemukan pada jenjang sekolah dasar. Hal ini terlihat dari berkurangnya jumlah siswa di Kelas V setelah kenaikan kelas.

“Kalau pindah sekolah itu wajar, tetapi kalau tidak melanjutkan sama sekali berarti memang putus sekolah. Nah, itu yang harus kita telusuri, ke mana mereka. Apalagi kondisi di wilayah utara, selatan, maupun tengah Kotim berbeda-beda karakteristiknya,” imbuh Irfansyah.

Ia menegaskan, keterlibatan semua pihak sangat penting, mulai dari guru, pamong desa, hingga TLD, dalam mengidentifikasi faktor penyebab anak putus sekolah. Baik karena persoalan ekonomi, kurangnya motivasi belajar, maupun masalah keluarga.

“Disdik mendorong pemetaan menyeluruh agar setiap anak bisa tetap mengenyam pendidikan sesuai haknya. Dengan deteksi dini yang lebih baik, kami optimistis angka putus sekolah di Kotim bisa ditekan dan tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya,” pungkasnya

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Taman Bunga Nusantara Punya Banyak Taman Tematik, Intip Daya Tariknya

18 Oktober 2026 - 04:51 WITA

Juri Pencak Silat Dunia Apresiasi Atlet Tapak Suci SMP Muhammadiyah 2 Kroya

16 Oktober 2026 - 02:19 WITA

Panen Perdana AMA di Liagu, Petambak Masih Evaluasi Hasil Budidaya

14 Oktober 2026 - 05:47 WITA

Harga Pangan Hari Ini 12 Oktober: Beras Naik, Cabai Melonjak

12 Oktober 2026 - 05:11 WITA

Ibu Kota Nusantara, Tuan Rumah Borneo Economic Forum 2027

10 Oktober 2026 - 04:58 WITA

Trending di Serba Serbi