Menu

Mode Gelap
Presiden Prabowo Teken Perpres Kesehatan, Atur Integrasi Layanan dari Pusat hingga Desa Rossa Sebut Nama Baiknya Dijadikan Ajang Cari Cuan Clickbait Lewat Link Afiliasi Kepergok ke Kedai Kopi, Napi Korupsi Dipindah ke Lapas Nusakambangan Harga BBM Pertamina Naik, Pertamax Turbo Melejit Jadi Rp19.400 Potret Gereja Pertama IKN, Ada Makna di Balik Desain Indahnya Komisi IX DPR RI Dorong Optimalisasi Program Magang untuk Kurangi Pengangguran Sarjana

Warta Entertainment

‘Suka Duka Tawa’: Saat Humor Menjadi Bahasa Rekonsiliasi Keluarga

badge-check


					‘Suka Duka Tawa’: Saat Humor Menjadi Bahasa Rekonsiliasi Keluarga Perbesar

Satu lagi film lokal yang layak disimak para sinefil akhirnya tayang di layar perak. Film Suka Duka Tawa, besutan sutradara Aco Tenriyagelli, yang sebelumnya dikenal lewat film pendek, video klip, dan serial, dapat disaksikan di bioskop Tanah Air.

Mengambil tema keluarga, film Suka Duka Tawa mengungkap relasi orang tua dan anak yang renggang, serta upaya berdamai dengan luka masa lalu lewat humor.

Melalui pertemuan yang canggung, konflik yang tak terucap, dan komedi, Aco meramunya menjadi film yang reflektif. Adalah Tawa (Rachel Amanda) yang memiliki konflik dengan kedua orang tuanya, yakni Keset (Teuku Rifnu Wikana) dan Cantik (Marissa Anita).

Konflik berakar dari jarak emosional, rasa ditinggalkan, serta kegagalan komunikasi, yang membuat hubungan keluarga tersebut jadi disfungsional.

Tawa adalah remaja yang hidup bersama ibu dan teman-temannya di sebuah kontrakan sempit. Sesekali mereka membantu sang ibu berjualan alat kosmetik, dan mencari peruntungan di dunia stand-up comedy hingga akhirnya mendapat tiket emas untuk tampil di stasiun televisi.

Namun, sebagai komedian yang masih hijau, Tawa selalu kehabisan ide. Dari sinilah muncul inisiatif untuk menceritakan pengalaman pribadinya—ditinggal sang ayah sejak kecil sebagai bahan inspirasi sekaligus mengolok-olok sang ayah, yang dikenal sebagai komedian berbakat.

Karakter utama juga menjadikan humor sebagai mekanisme bertahan dari trauma dengan cara meroasting diri sendiri (swa komedi). Namun, saat Tawa bertemu kembali dengan ayahnya ketika dewasa, dia menggunakan tawa untuk berdamai dengan rasa ditinggalkan dan kekecewaan masa kecil.

Kendati jalinan cerita agak sedikit rumpang di menit-menit awal, film ini sesuai judulnya berhasil mengaduk-aduk perasaan penonton akan citra keluarga yang harmonis.

Sebagai debut film panjang, Suka Duka Tawa juga patut untuk disimak, mengingat Aco juga pernah membuat video klip lagu “Gala Bunga Matahari” yang dinyanyikan Sal Priadi.

Lagu dan video ini juga mengandung “bawang” bagi banyak orang, dalam film genre tersebut juga masih terasa. Pemilihan peran juga patut diapresiasi. Dalam casting, Aco memang tak banyak memasukkan aktor tier 1.

Namun chemistry yang dibangun Rachel Amanda dan Teuku Rifnu Wikana cukup banyak memberi warna, terlebih dengan hadirnya para komedian seperti Kukuh Adi Danisworo dan Bintang Emon.

Aco juga memasukkan berbagai fenomena terbaru di Tanah Air yang viral di media sosial. Misal dengan memasukkan ikon patung harimau lucu yang jauh dari kata proporsional, tapi mengundang FOMO di Kediri, atau visual orang gila yang tiba-tiba berteriak di gang.

Melalui strategi ini, Aco seolah membumikan film ke realitas urban, di mana fenomena yang terjadi masyarakat atau dalam dunia simulakra dicampur sehingga membentuk pemaknaan baru. Cara Aco meniru kegaduhan media sosial untuk kemudian dimasukkan ke dalam layar juga terasa dekat dengan keseharian kita.

Lapisan emosi film juga turut diperkuat lewat pilihan musik. Lagu “Masa Sepi” dari Bernadya, “Timur” dari The Adams, hingga “Bunga Maaf” dari The Lantis. Meski emosinya terasa jujur, beberapa bagian awal film tidak terjalin rapi atau terlalu cepat berpindah, penutupnya juga memilih jalur aman dengan adanya rekonsiliasi.

Namun justru di antara ketidaksempurnaan itulah, Suka Duka Tawa tetap menawarkan potret keluarga yang terasa dekat. Sebagai sebuah debut, Aco juga seperti memberi isyarat bahwa komedi penting sebagai medium refleksi, bukan semata bahan pelarangan.

Red~ IKN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Rossa Sebut Nama Baiknya Dijadikan Ajang Cari Cuan Clickbait Lewat Link Afiliasi

18 April 2026 - 07:09 WITA

Dukungan Krisdayanti untuk Tamara Bleszynski Bikin Terharu, Singgung Bukti Cinta Ibu Begitu Dewasa

15 April 2026 - 05:57 WITA

“Ingin Kumiliki” Ruth Sahanaya Dipopulerkan Lagi oleh Tohpati-Meiska

12 April 2026 - 03:33 WITA

Erros Djarot Akan Gelar Konser Rayakan 52 Tahun Berkarya 

9 April 2026 - 05:47 WITA

Dude Harlino-Alyssa Soebandono Penuhi Panggilan Bareskrim, Diperiksa Terkait Kasus Penipuan PT DSI

3 April 2026 - 04:13 WITA

Trending di Warta Entertainment