Menu ✖

Mode Gelap
Presiden Prabowo Sambut Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang TNI AL Amankan Tugboat Pembawa Ribuan Kubik Kayu Log di Perairan Utara Pulau Buru Kisah Ibu-ibu Pemindang Ikan Kusamba, 28 Tahun Kerja Cuma Libur Nyepi-Galungan KPK Evaluasi Alasan Nusron Wahid Mangkir Sebelum Terbitkan Surat Perintah Membawa DPD RI Desak Menag Perkuat Pengawasan Anak Lindungi dari Kekerasan Seksual Taman Bunga Nusantara Punya Banyak Taman Tematik, Intip Daya Tariknya

Warta Daerah

Strategi Tepat Hadapi El Nino, Petani di Luwu Utara Sukses Panen Raya

badge-check


					Strategi Tepat Hadapi El Nino, Petani di Luwu Utara Sukses Panen Raya Perbesar

Langkah antisipasi dini yang diterapkan oleh jajaran pertanian di Kabupaten Luwu Utara terhadap ancaman El Nino rupanya membuahkan hasil manis. Berdasarkan prakiraan BMKG terkait puncak musim kemarau dan El Nino yang diprediksi terjadi pada Agustus hingga September 2026, jadwal tanam yang tepat terbukti mampu menyelamatkan petani dari ancaman gagal panen akibat kekeringan.

Koordinator Pengamat Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Wilayah Luwu Utara, Sarialam MD, menjelaskan bahwa keputusan strategis ini telah dirumuskan sejak jauh-jauh hari melalui forum tudang sipulung yang dihadiri oleh petani, penyuluh, dan jajaran Dinas Pertanian.

Dalam pertemuan tersebut, Sarialam menganjurkan para petani untuk memulai turun sawah dan melakukan penanaman pada minggu ketiga atau minggu keempat Mei 2026.

“Waktu itu saat tudang sipulung, saya anjurkan turun sawah atau tanam mulai minggu ketiga atau keempat Mei 2026. Pertimbangannya bukan hanya terkait dengan hama dan penyakit saja, tetapi juga kalkulasi prediksi puncak musim kemarau,” beber Sarialam di Masamba sabtu, 29 Agustus 2026.

Kebijakan terukur tersebut kini terbukti di lapangan. Petani yang disiplin mengikuti anjuran jadwal tanam dilaporkan aman dari ancaman kekeringan yang biasanya melanda pada puncak kemarau.

Tidak hanya selamat dari ancaman kekeringan, lanjut Sarialam, para petani yang mengikuti jadwal tanam ini juga menikmati keuntungan ganda.

“Mereka dapat memanen lebih awal di saat pasokan mulai jarang, sehingga berhasil mendulang harga jual gabah yang tinggi di tingkat petani, yakni berkisar antara Rp7.150 hingga Rp7.300 per kilogram,” ungkap alumnus Unanda Palopo ini.

“Angka ini berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang telah ditentukan,” sambungnya sembari berharap agar petani yang lain bisa segera panen di tengah musim kemarau.

Keberhasilan ini menjadi contoh nyata sinergi antara mitigasi iklim berbasis data meteorologi dan kearifan lokal melalui tudang sipulung, yang tidak hanya melindungi ketahanan pangan daerah, tetapi juga mendongkrak kesejahteraan petani di Bumi La Maranginang.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Jalan Rusak Parah, Warga Desa Wolokelo Swadaya Gotong Royong Lakukan Perbaikan

17 Oktober 2026 - 03:45 WITA

APH Didesak Usut Tuntas Dugaan Korupsi di Setda Barito Timur

15 Oktober 2026 - 07:15 WITA

Kebakaran Cagar Alam Gunung Lokon Tomohon Hanguskan 100 Hektare Lahan

14 Oktober 2026 - 10:25 WITA

Protes Tambang Galian C, Warga Puncu Kediri Keluhkan Jalan Rusak dan Sulit Air

13 Oktober 2026 - 04:27 WITA

GAMKI Mengabdi 2026 Layani 120 Lansia di Itawaka, Dorong Deteksi Dini Penyakit

11 Oktober 2026 - 04:56 WITA

Trending di Warta Daerah