Menu

Mode Gelap
Dari Tambling, Titiek Soeharto Dorong Kolaborasi Sains dan Alam untuk Konservasi Masa Depan Mutasi Polri Agustus 2026, Kapolda dan Wakapoda Sulut serta Sejumlah Pejabat Utama Pindah Tugas hingga Promosi Jabatan Baru Berusia 11 Tahun, Mikhayla Shanum Caya Jadi Kontingen Indonesia Termuda Asian Games 2026, Targetkan Medali Kejagung Tampilkan Uang Sitaan Rp401 Miliar Kasus Nikel PT CNI Strategi Tepat Hadapi El Nino, Petani di Luwu Utara Sukses Panen Raya Jepang Kirim Helikopter Bantu Atasi Karhutla RI

Warta Daerah

Strategi Tepat Hadapi El Nino, Petani di Luwu Utara Sukses Panen Raya

badge-check


					Strategi Tepat Hadapi El Nino, Petani di Luwu Utara Sukses Panen Raya Perbesar

Langkah antisipasi dini yang diterapkan oleh jajaran pertanian di Kabupaten Luwu Utara terhadap ancaman El Nino rupanya membuahkan hasil manis. Berdasarkan prakiraan BMKG terkait puncak musim kemarau dan El Nino yang diprediksi terjadi pada Agustus hingga September 2026, jadwal tanam yang tepat terbukti mampu menyelamatkan petani dari ancaman gagal panen akibat kekeringan.

Koordinator Pengamat Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Wilayah Luwu Utara, Sarialam MD, menjelaskan bahwa keputusan strategis ini telah dirumuskan sejak jauh-jauh hari melalui forum tudang sipulung yang dihadiri oleh petani, penyuluh, dan jajaran Dinas Pertanian.

Dalam pertemuan tersebut, Sarialam menganjurkan para petani untuk memulai turun sawah dan melakukan penanaman pada minggu ketiga atau minggu keempat Mei 2026.

“Waktu itu saat tudang sipulung, saya anjurkan turun sawah atau tanam mulai minggu ketiga atau keempat Mei 2026. Pertimbangannya bukan hanya terkait dengan hama dan penyakit saja, tetapi juga kalkulasi prediksi puncak musim kemarau,” beber Sarialam di Masamba sabtu, 29 Agustus 2026.

Kebijakan terukur tersebut kini terbukti di lapangan. Petani yang disiplin mengikuti anjuran jadwal tanam dilaporkan aman dari ancaman kekeringan yang biasanya melanda pada puncak kemarau.

Tidak hanya selamat dari ancaman kekeringan, lanjut Sarialam, para petani yang mengikuti jadwal tanam ini juga menikmati keuntungan ganda.

“Mereka dapat memanen lebih awal di saat pasokan mulai jarang, sehingga berhasil mendulang harga jual gabah yang tinggi di tingkat petani, yakni berkisar antara Rp7.150 hingga Rp7.300 per kilogram,” ungkap alumnus Unanda Palopo ini.

“Angka ini berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang telah ditentukan,” sambungnya sembari berharap agar petani yang lain bisa segera panen di tengah musim kemarau.

Keberhasilan ini menjadi contoh nyata sinergi antara mitigasi iklim berbasis data meteorologi dan kearifan lokal melalui tudang sipulung, yang tidak hanya melindungi ketahanan pangan daerah, tetapi juga mendongkrak kesejahteraan petani di Bumi La Maranginang.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

El Nino Picu Migrasi Ikan, Nelayan Kecil Hadapi Beban Ongkos Melaut

29 Agustus 2026 - 05:42 WITA

Jalan ke Kawasan Baduy Lebak Rusak, Tokoh Adat Harap Segera Diperbaiki

28 Agustus 2026 - 04:53 WITA

Update Gempa NTT: 91 Orang Meninggal, 1.286 Luka dan 161.084 Mengungsi

24 Agustus 2026 - 05:48 WITA

Rumah Prototipe BRIN di Manggarai Barat Kokoh Hadapi Gempa M 7,7

21 Agustus 2026 - 05:39 WITA

Terindikasi Ada Penyalahgunaan ADD, Bupati dan Sekda Barsel Diam

18 Agustus 2026 - 05:57 WITA

Trending di Warta Daerah