Setiap pagi sekitar pukul 10.00 WIB, Fajar (46) sudah berada di depan Rumah Makan Gratis Yayasan Damaris Pancasila Indonesia, Jalan Raya Pekayon, Kelurahan Jatirasa, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, Jawa Barat. Padahal, kupon makan gratis baru dibagikan pukul 11.45 WIB. Namun, ia memilih datang lebih awal agar tidak kehabisan jatah dari sekitar 100 porsi makanan yang disediakan setiap hari.
Bagi Fajar, menunggu hampir dua jam bukanlah persoalan. Yang terpenting, ia bisa menghemat biaya makan siang sehingga uang yang dimilikinya dapat digunakan untuk kebutuhan keluarga. Meski harus mengantre bersama puluhan warga lain, ia mengaku tidak pernah merasa malu menerima bantuan makan gratis tersebut.

“Saya orang kecil. Kenapa harus malu? Sedangkan saya juga kan usaha ngikut orang lain, kerjanya,” kata Fajar di Rumah Makan Gratis Damaris, Senin (27/7/2026).
Fajar mengetahui keberadaan rumah makan gratis itu dari teman dan tetangganya. Sejak saat itu, ia hampir setiap hari datang untuk menikmati makan siang di sana. Sehari-hari, Fajar bekerja sebagai pedagang sayur di Pasar Baru Bekasi. Aktivitasnya dimulai sejak malam hingga pagi tanpa sempat tidur.
Dari pekerjaan itu, ia memperoleh penghasilan sekitar Rp 1,8 juta per bulan. Namun, pendapatan tersebut kerap tidak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan sehari-hari.
“Kadang uang makan dari bos tidak mencukupi karena habis untuk ongkos dan kebutuhan lain. Jadi program ini sangat membantu,” ungkap Fajar.
Menurut dia, makan gratis yang diterimanya bukan sekadar mengurangi pengeluaran untuk mengisi perut, tetapi juga membuat uang yang biasanya dipakai membeli makan siang dapat dialihkan untuk kebutuhan rumah tangga.
“Yang tadinya buat makan siang bisa buat kebutuhan keluarga. Buat beli token listrik, kadang-kadang isi air, ya,” kata Fajar.
Di ruang makan sederhana berpendingin udara itu, Fajar duduk bersama penerima manfaat lainnya. Di sekelilingnya tampak sopir, pengemudi ojek daring, pemulung, pekerja serabutan, lansia, hingga ibu yang datang sambil menggendong anaknya.
Mereka menikmati seporsi nasi lengkap dengan lauk, sayur, buah, dan air mineral yang telah disiapkan para relawan sejak dini hari. Cerita serupa juga dialami Mona (34), seorang pemulung yang telah mengikuti program makan gratis tersebut selama hampir tiga bulan.
Hampir setiap hari, kecuali Jumat, Mona datang ke rumah makan gratis itu untuk menikmati makan siang. Baginya, seporsi makanan yang diterima bukan hanya mengenyangkan perut, tetapi juga membantu mengurangi pengeluaran keluarga.
“Lumayan untuk menghemat pengeluaran. Uangnya bisa buat jajan anak-anak,” ujar Mona.
Ia mengetahui keberadaan rumah makan gratis itu dari seorang teman yang mengenal petugas parkir di lokasi. Dari situlah Mona mengetahui bahwa yayasan membuka program makan gratis bagi masyarakat yang membutuhkan. Sebelumnya, Mona sempat menganggur. Kini, ia membantu keluarganya dengan memulung dan sesekali mengerjakan pekerjaan serabutan.
Menurut Mona, alasan lain yang membuatnya tetap datang setiap hari bukan hanya karena lokasinya dekat dari rumah, tetapi juga karena suasananya terasa hangat dan akrab.
“Suasananya santai. Saya juga jadi punya teman-teman baru dan lingkungan baru,” ujarnya.
Baginya, keberadaan rumah makan gratis menjadi harapan bagi masyarakat yang sedang mengalami kesulitan ekonomi.
“Alhamdulillah ada tempat seperti ini yang membantu masyarakat yang membutuhkan. Semoga program seperti ini terus ada karena sangat membantu orang-orang yang kesulitan,” kata Mona.
Sementara itu, John (48), seorang sopir, juga merasakan manfaat program tersebut. Selama sekitar tiga bulan terakhir, ia hampir setiap hari datang, kecuali Minggu.
“Saya sudah datang sekitar jam 10.00 karena antreannya cukup ramai,” ujar John.
Menurut dia, keberadaan rumah makan gratis sangat membantu mengurangi pengeluaran untuk makan sehari-hari. Selain itu, menu yang disajikan juga beragam, mulai dari ikan, telur, tahu, tempe, hingga sayuran.
“Harapannya semoga program ini semakin maju dan semakin sukses,” kata John.
Koordinator Wilayah Jabodetabek Yayasan Damaris Pancasila Indonesia, Erna Agustin, mengatakan, rumah makan gratis tersebut terbuka bagi siapa saja yang membutuhkan tanpa persyaratan khusus.
Menurut dia, warga hanya perlu mendapatkan kupon untuk menikmati makanan yang disediakan yayasan.
“Kalau kupon habis berarti jatah hari itu habis,” ujar Erna.
Dalam sehari, yayasan menyediakan sekitar 100 porsi makanan. Namun, relawan terkadang memasak lebih banyak apabila bahan makanan masih tersedia sehingga warga yang belum memperoleh kupon masih berpeluang mendapatkan makanan.
“Sebelum Covid, biasanya malam kami berbagi di jalanan sekitar 100 sampai 200 porsi. Kalau di tempat ini baru sekitar dua bulan,” ujar Erna.
Menurut dia, program sosial tersebut telah berjalan hampir tujuh tahun dan kini memiliki titik pelayanan di Jakarta Pusat, Jakarta Barat, dan Jakarta Timur. Selain itu, program sosial itu juga ada di wilayah Jawa Barat, di antaranya Cibubur, Depok, Parung, serta tiga wilayah di Bekasi. Konsep rumah makan gratis dipilih agar masyarakat yang membutuhkan dapat menikmati makanan dengan lebih nyaman di dalam ruangan.
Seluruh kegiatan didanai para donatur yang menitipkan bantuan melalui yayasan, kemudian diwujudkan menjadi makanan untuk masyarakat kurang mampu. Bagi Fajar, Mona, John, dan puluhan warga lainnya, rumah makan gratis itu bukan sekadar tempat menikmati makan siang.
Tempat itu menjadi ruang yang memberi sedikit kelegaan di tengah beratnya memenuhi kebutuhan hidup. Dengan seporsi makanan gratis, mereka dapat menghemat pengeluaran dan mengalihkan sisa uang yang dimiliki untuk kebutuhan keluarga yang lain.
****









