Pendidikan di era kecerdasan buatan semakin fleksibel. Pengaturan dalam RUU Sisdiknas diminta menghargai pendidikan di luar persekolahan.
Belajar bisa di mana saja: di rumah, di komunitas, di pusat kegiatan belajar; bukan hanya di sekolah. Karena itu, pengakuan negara atas jalur formal, nonformal, dan informal menjadi genting di tengah disrupsi kecerdasan buatan atau AI yang mengubah cara anak-anak menyerap pengetahuan.

Dalam rapat dengar pendapat umum mengenai RUU Sistem Pendidikan Nasional di Komisi X DPR, Senin (22/9/2025) di Jakarta, Ketua Umum Asah Pena Seto Mulyadi menekankan bahwa pendidikan sejatinya bertujuan menumbuhkan potensi anak yang beragam. Setiap anak, menurutnya, berhak mendapatkan layanan pendidikan yang sesuai dengan gaya belajar, minat, dan kemampuannya sendiri.
Karena itu, konsep pendidikan harus melampaui sekadar ”wajib sekolah” menjadi ”wajib belajar”. ”Artinya, belajar dapat dilakukan dan dipenuhi kapan saja, di mana saja, dengan siapa saja, bergantung pada kondisi masing-masing anak,” ujarnya yang dikenal dengan Kak Seto.
Di sinilah pemerintah juga perlu memperlakukan setara pendidikan nonformal dan informal. Hal ini akan memberikan fleksibilitas penyelenggaraan pendidikan yang tetap menyenangkan bagi anak-anak.
Kak Seto menegaskan, pembahasan RUU Sisdiknas menjadi kesempatan untuk menguatkan penghargaan yang setara pada layanan pendidikan hingga evaluasi atau ijazah pada anak-sanak usia sekolah yang memilih belajar di jalur nonformal dan informal. Bahkan, layanan pendidikan di luar persekolahan ini juga punya dampak yang sama hebatnya dengan menghasilkan anak-anak yang berkembang sesuai potensi alamiahnya.
”Yang dinamakan anak cerdas dan hebat dari hasil pendidikan bukan hanya Albert Einstein yang jago di bidang sains, melainkan juga seniman patung ternama Pablo Picasso, komponis musik Mozart, pemain bola Ronaldo, dan penyanyi Michael Jackson,” kata Kak Seto.
Di Indonesia, Kak Seto mencontohkan tokoh 5R untuk menggambarkan bagaimana pendidikan dapat mengembangkan beberapa potensi anak yang berbeda-beda dan unik. ”Yang cerdas bukan hanya Rudy Habibie yang jago membuat pesawat. Ada 4R lainnya yang juga cerdas sesuai bidangnya, yakni Rudy Hartono sebagai atlet, Rudy Salam sebagai aktor, Rudi Choirudin yang jago masak, ataupun Rudy Hadisuwarno yang cerdas di bidang kecantikan,” kata Kak Seto.
Ia menegaskan, tiap anak dapat cerdas di bidangnya masing-masing sehingga tidak bisa dibanding-bandingkan. Karena itu, pemenuhan hak belajar anak yang berbeda-beda perlu dilakukan dengan fleksibel.
”Apa pun pilihan belajar anak, negara membantu dan mengakuinya,” kata Kak Seto.
Ia mengatakan, pendidikan yang sebenarnya bisa dilakukan dalam keluarga. Karena isi pendidikan intinya mencakup lima hal, yakni etika (nilai-nilai moral), estetika (keindahan perilaku hingga berkarya dalam seni), ilmu pengetahuan dan teknologi, nasionalisme, serta kesehatan. Hal ini bisa dilakukan dengan informal atau tidak kaku.
”Kadang-kadang justru di pendidikan formal yang tidak tepat caranya malah menghasilkan <em>bullying</em>, tawuran, dan saling menghujat. Pendekatan yang individual lewat jalur nonformal dan informal justru lebih ramah anak dan membuat potensi anak lebih berkembang optimal,” ucap Seto.
****









