Menu

Mode Gelap
Dari Tambling, Titiek Soeharto Dorong Kolaborasi Sains dan Alam untuk Konservasi Masa Depan Mutasi Polri Agustus 2026, Kapolda dan Wakapoda Sulut serta Sejumlah Pejabat Utama Pindah Tugas hingga Promosi Jabatan Baru Berusia 11 Tahun, Mikhayla Shanum Caya Jadi Kontingen Indonesia Termuda Asian Games 2026, Targetkan Medali Kejagung Tampilkan Uang Sitaan Rp401 Miliar Kasus Nikel PT CNI Strategi Tepat Hadapi El Nino, Petani di Luwu Utara Sukses Panen Raya Jepang Kirim Helikopter Bantu Atasi Karhutla RI

Warta Utama

Panti Asuhan Karya Anak Perdamaian Sentani Didik Anak Pedalaman Papua Jadi Pemimpin Masa Depan

badge-check


					Panti Asuhan Karya Anak Perdamaian Sentani Didik Anak Pedalaman Papua Jadi Pemimpin Masa Depan Perbesar

Di tengah keterbatasan akses pendidikan yang masih dihadapi sebagian wilayah pedalaman Papua, Panti Asuhan Karya Anak Perdamaian, Distrik Komba, Sentani, Kabupaten Jayapura, terus menjadi rumah harapan bagi puluhan anak yang membutuhkan pendidikan dan pembinaan untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Sejak berdiri pada tahun 2015, panti asuhan yang berlokasi di Distrik Kombah, Sentani, ini telah menampung dan mendidik anak-anak dari berbagai daerah di Tanah Papua, termasuk mereka yang berasal dari wilayah pedalaman dan keluarga kurang mampu.

Ketua Panti Asuhan Karya Anak Perdamaian Sentani, Mardiani Marbun, bersama Pembina Yayasan, Agus Mujiono, mengatakan panti tersebut didirikan dengan tujuan membantu anak-anak yang kesulitan mengakses pendidikan, termasuk mereka yang kehilangan orang tua.

“Tujuan kami mendirikan panti ini adalah menjangkau anak-anak di pedalaman Papua, khususnya yang tidak memiliki orang tua atau membutuhkan dukungan untuk memperoleh pendidikan yang layak,” ujar Mardiani kepada Salampapua.com, Senin (22/6/2026).

Menurutnya, visi utama panti adalah mencetak generasi Papua yang cerdas, mandiri, dan mampu menjadi pemimpin bagi daerahnya di masa mendatang.

Saat ini, Panti Asuhan Karya Anak Perdamaian menampung sekitar 50 anak dengan rentang usia 3 hingga 18 tahun. Mereka mendapatkan pembinaan dan pendampingan pendidikan mulai dari jenjang PAUD, SD, SMP hingga SMA. Beberapa anak yang tinggal di panti berasal dari Kabupaten Nduga, Provinsi Papua Pegunungan.

“Ada sekitar enam anak dari Nduga yang sudah beberapa tahun tinggal bersama kami. Mereka datang sejak masih duduk di bangku sekolah dasar dan sekarang ada yang sudah menyelesaikan pendidikan SMA,” jelasnya.

Tidak hanya mendampingi hingga tingkat sekolah menengah, pihak yayasan juga berupaya membantu anak-anak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

“Tahun ini ada anak yang akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Kami berharap mereka bisa menjadi contoh dan motivasi bagi adik-adik mereka yang masih menempuh pendidikan,” katanya.

Dalam menjalankan aktivitas panti, Mardiani mengaku selama ini pihaknya lebih banyak mengandalkan dukungan dari para donatur dan masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan anak-anak Papua.

“Kami hidup dengan iman. Kami berdoa dan percaya Tuhan selalu membuka jalan. Puji Tuhan masih banyak orang yang datang berbagi kasih dan membantu kebutuhan anak-anak di sini,” ungkapnya.

Meski demikian, ia berharap perhatian pemerintah terhadap lembaga sosial dan panti asuhan dapat terus ditingkatkan. Menurutnya, bantuan dari pemerintah pernah diberikan beberapa kali, namun belum berlangsung secara rutin.

“Dulu pernah ada bantuan dari pemerintah, tetapi belum berjalan secara berkala setiap tahun atau setiap bulan,” ujarnya.

Untuk memenuhi kebutuhan operasional panti, yayasan juga mengembangkan berbagai usaha mandiri, termasuk peternakan.

“Kami membeli tanah ini dari hasil usaha sendiri, seperti beternak anjing dan babi. Semua dilakukan agar anak-anak memiliki tempat yang layak untuk tinggal, belajar, dan bertumbuh,” katanya.

Dengan bertambahnya jumlah anak binaan, pihak yayasan berharap semakin banyak dukungan dari berbagai pihak agar pelayanan pendidikan dan pembinaan dapat terus berjalan. Pihaknya juga terus membina kerohanian anak-anak panti sehingga terus dilibatkan dalam kegiatan ibadah gereja.

“Kami ingin anak-anak ini tidak hanya mendapatkan pendidikan, tetapi juga dibentuk menjadi pribadi yang mandiri, berkarakter, dan mampu membangun Papua di masa depan,” pungkasnya.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Desil dan Dilema Bantuan Sosial: Ketika Data Tak Sesuai Kondisi Warga

26 Agustus 2026 - 05:54 WITA

Presiden Prabowo: Tingkatkan Layanan Dasar bagi Rakyat dari Puskesmas hingga Sekolah, Tak Boleh Ada Anak Belajar dalam Keadaan Lapar

14 Agustus 2026 - 11:13 WITA

Kisah Munawi di Lereng Bromo, Merangkak di Tebing dan Mengejar Api hingga Larut Malam

8 Agustus 2026 - 12:10 WITA

Dari Mimpi Gaji Puluhan Juta ke Neraka Scam, Kisah Pekerja Migran di Sumut Jadi Korban TPPO

5 Agustus 2026 - 04:18 WITA

Akad Massal 62.000 KPR, Presiden Prabowo Pastikan Pemerintah Terus Hadirkan Hasil Nyata bagi Rakyat

31 Juli 2026 - 05:21 WITA

Trending di Warta Utama