Menu

Mode Gelap
Harga Pangan 7 September: Bawang Merah Turun, Cabai Kembali Naik Dari Laut Untuk Negeri: TNI AL dan Masyarakat Bersatu dalam Semangat, Aku Cinta Laut 4 Bandara Ditutup Sementara Akibat Sebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau Korupsi KPR Fiktif Rp237 Miliar, Kejari Karawang Tetapkan 4 Tersangka Terindikasi Kangkangi Aturan, APH Didesak Cabut Izin Usaha Perkebunan PT Ketapang Subur Lestari di Barito Timur PN Manado Sosialisasikan SEMA 2, 3 dan 4 Tahun 2026 ke APH, Soroti Kepastian Hukum

Serba Serbi

Pangan Lokal Adat Jaga Identitas Budaya Nusantara

badge-check


					Pangan Lokal Adat Jaga Identitas Budaya Nusantara Perbesar

Ancaman krisis pangan global membuat pangan lokal masyarakat adat semakin relevan. Sistem tradisional terbukti berkelanjutan sekaligus menjaga identitas budaya Nusantara.

Salah satunya Kasepuhan Ciptagelar yang terletak di Pegunungan Halimun, Sukabumi, Jawa Barat. Masyarakat adat ini dikenal menjaga kelestarian pangan melalui tradisi bertani padi turun-temurun.

Juru Komunikasi Kasepuhan Ciptagelar, Yoyo Yogasmana, menegaskan bahwa warganya hanya meneruskan tradisi leluhur. “Kami hanya meneruskan apa yang dijalani, yaitu kehidupan bertani padi,” ujarnya kepada PRO3 RRI, Selasa (16/9/2025).

Ia menjelaskan, bertani padi bagi Ciptagelar bukan sekadar produksi, melainkan jalan hidup. “Ada ngasut, mikit, nganyaran, ponggokan, dan serentaun yang dijalani setiap tahun,” katanya.

Yoyo menyebut, stok pangan Ciptagelar cukup hingga puluhan tahun mendatang. “Tahun 2017 stok beras kami rata-rata cukup sampai 95 tahun,” ucapnya.

Sementara itu, Koalisi Sistem Pangan Lestari, Gina Karina menilai, diversifikasi pangan harus diperkuat kembali. Ia mengatakan, ketergantungan beras membuat sistem pangan nasional rentan.

“Selama berdekade kita tergantung satu dua komoditas, seperti beras dan gandum. Padahal setiap wilayah punya pangan lokal berbeda, dari sagu hingga jagung,” ucapnya.

Gina menilai pangan lokal harus kembali dikenalkan sebagai bagian gaya hidup modern. “Pangan lokal harus dianggap trendi, bukan makanan kampung yang disukai,” ujarnya.

Menurutnya, masyarakat luar justru iri pada kekayaan pangan Indonesia yang beragam. “Di negara lain tidak ada diversifikasi seperti kita, itu harus dijaga,” katanya.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Harga Pangan 7 September: Bawang Merah Turun, Cabai Kembali Naik

7 September 2026 - 04:29 WITA

Keluarga Jadi Kekuatan Suksesnya Pembudidaya Ikan Nila Lestari di Manganitu

4 September 2026 - 05:10 WITA

Baru Berusia 11 Tahun, Mikhayla Shanum Caya Jadi Kontingen Indonesia Termuda Asian Games 2026, Targetkan Medali

1 September 2026 - 05:19 WITA

SSB Kolonal Jadi Ruang 60 Anak Solok Selatan Kejar Mimpi Jadi Pesepakbola

28 Agustus 2026 - 04:51 WITA

Ribuan Penari Muda dalam Tari Kolosal

25 Agustus 2026 - 07:19 WITA

Trending di Serba Serbi