Menu

Mode Gelap
Polemik Tutup-Buka Penyeberangan Perintis di NTT Prajurit Batalyon Hanud 11 Pasgat Laksanakan Lintas Medan Tingkatkan Ketangkasan dan Jiwa Korsa BMKG Ungkap Daftar 17 Wilayah Indonesia Berpotensi Hujan Hari Ini Begini Keseruan Ratusan Siswa SD Main Permainan Tradisional Heboh Bupati Lombok Barat Terjaring OTT KPK Setelah Nobar Piala Dunia Aksi Pemulung Ikut Tambal Jalan Rusak di Padang, Warga Mengaku Sudah Dua Wali Kota Tanpa Perbaikan

Serba Serbi

Pangan Lokal Adat Jaga Identitas Budaya Nusantara

badge-check


					Pangan Lokal Adat Jaga Identitas Budaya Nusantara Perbesar

Ancaman krisis pangan global membuat pangan lokal masyarakat adat semakin relevan. Sistem tradisional terbukti berkelanjutan sekaligus menjaga identitas budaya Nusantara.

Salah satunya Kasepuhan Ciptagelar yang terletak di Pegunungan Halimun, Sukabumi, Jawa Barat. Masyarakat adat ini dikenal menjaga kelestarian pangan melalui tradisi bertani padi turun-temurun.

Juru Komunikasi Kasepuhan Ciptagelar, Yoyo Yogasmana, menegaskan bahwa warganya hanya meneruskan tradisi leluhur. “Kami hanya meneruskan apa yang dijalani, yaitu kehidupan bertani padi,” ujarnya kepada PRO3 RRI, Selasa (16/9/2025).

Ia menjelaskan, bertani padi bagi Ciptagelar bukan sekadar produksi, melainkan jalan hidup. “Ada ngasut, mikit, nganyaran, ponggokan, dan serentaun yang dijalani setiap tahun,” katanya.

Yoyo menyebut, stok pangan Ciptagelar cukup hingga puluhan tahun mendatang. “Tahun 2017 stok beras kami rata-rata cukup sampai 95 tahun,” ucapnya.

Sementara itu, Koalisi Sistem Pangan Lestari, Gina Karina menilai, diversifikasi pangan harus diperkuat kembali. Ia mengatakan, ketergantungan beras membuat sistem pangan nasional rentan.

“Selama berdekade kita tergantung satu dua komoditas, seperti beras dan gandum. Padahal setiap wilayah punya pangan lokal berbeda, dari sagu hingga jagung,” ucapnya.

Gina menilai pangan lokal harus kembali dikenalkan sebagai bagian gaya hidup modern. “Pangan lokal harus dianggap trendi, bukan makanan kampung yang disukai,” ujarnya.

Menurutnya, masyarakat luar justru iri pada kekayaan pangan Indonesia yang beragam. “Di negara lain tidak ada diversifikasi seperti kita, itu harus dijaga,” katanya.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Begini Keseruan Ratusan Siswa SD Main Permainan Tradisional

22 Juli 2026 - 07:43 WITA

JARR Milik Haji Isam Akui Beli CPO Sitaan Kejaksaan Agung

20 Juli 2026 - 06:27 WITA

Kurangi Ketergantungan Gawai, KKN Unhas Edukasi Siswa SD Permainan Tradisional di Bone

19 Juli 2026 - 06:10 WITA

Pembangunan Tahap II IKN Terus Berjalan, Otorita IKN Lakukan Evaluasi Berkala

17 Juli 2026 - 06:02 WITA

Wimbledon Jadi Bekal Berharga Petenis Muda Indonesia Ethan Jake Frans

14 Juli 2026 - 06:44 WITA

Trending di Serba Serbi