Ancaman krisis pangan global membuat pangan lokal masyarakat adat semakin relevan. Sistem tradisional terbukti berkelanjutan sekaligus menjaga identitas budaya Nusantara.
Salah satunya Kasepuhan Ciptagelar yang terletak di Pegunungan Halimun, Sukabumi, Jawa Barat. Masyarakat adat ini dikenal menjaga kelestarian pangan melalui tradisi bertani padi turun-temurun.

Juru Komunikasi Kasepuhan Ciptagelar, Yoyo Yogasmana, menegaskan bahwa warganya hanya meneruskan tradisi leluhur. “Kami hanya meneruskan apa yang dijalani, yaitu kehidupan bertani padi,” ujarnya kepada PRO3 RRI, Selasa (16/9/2025).
Ia menjelaskan, bertani padi bagi Ciptagelar bukan sekadar produksi, melainkan jalan hidup. “Ada ngasut, mikit, nganyaran, ponggokan, dan serentaun yang dijalani setiap tahun,” katanya.
Yoyo menyebut, stok pangan Ciptagelar cukup hingga puluhan tahun mendatang. “Tahun 2017 stok beras kami rata-rata cukup sampai 95 tahun,” ucapnya.
Sementara itu, Koalisi Sistem Pangan Lestari, Gina Karina menilai, diversifikasi pangan harus diperkuat kembali. Ia mengatakan, ketergantungan beras membuat sistem pangan nasional rentan.
“Selama berdekade kita tergantung satu dua komoditas, seperti beras dan gandum. Padahal setiap wilayah punya pangan lokal berbeda, dari sagu hingga jagung,” ucapnya.
Gina menilai pangan lokal harus kembali dikenalkan sebagai bagian gaya hidup modern. “Pangan lokal harus dianggap trendi, bukan makanan kampung yang disukai,” ujarnya.
Menurutnya, masyarakat luar justru iri pada kekayaan pangan Indonesia yang beragam. “Di negara lain tidak ada diversifikasi seperti kita, itu harus dijaga,” katanya.
****









