Menu ✖

Mode Gelap
Sekjen PBB Soroti Konflik hingga Krisis Iklim, Minta Negara Perkuat Kerja Sama AI Tidak Bisa Menggantikan Independensi dan Nurani Presiden Prabowo Instruksikan BRIN Percepat Riset Vaksin Malaria RI KSAL Pimpin Sumpah Pemuda di KRI Sriwijaya-100, Empat Satuan TNI AL Raih Samkaryanugraha Kualitas Udara di Penajam dan Sepaku, Wilayah IKN, Masuk Kategori Berbahaya Presiden Prabowo Tekankan Perlindungan Kekayaan Negara dalam Penyempurnaan Aturan Korupsi

Serba Serbi

Pangan Lokal Adat Jaga Identitas Budaya Nusantara

badge-check


					Pangan Lokal Adat Jaga Identitas Budaya Nusantara Perbesar

Ancaman krisis pangan global membuat pangan lokal masyarakat adat semakin relevan. Sistem tradisional terbukti berkelanjutan sekaligus menjaga identitas budaya Nusantara.

Salah satunya Kasepuhan Ciptagelar yang terletak di Pegunungan Halimun, Sukabumi, Jawa Barat. Masyarakat adat ini dikenal menjaga kelestarian pangan melalui tradisi bertani padi turun-temurun.

Juru Komunikasi Kasepuhan Ciptagelar, Yoyo Yogasmana, menegaskan bahwa warganya hanya meneruskan tradisi leluhur. “Kami hanya meneruskan apa yang dijalani, yaitu kehidupan bertani padi,” ujarnya kepada PRO3 RRI, Selasa (16/9/2025).

Ia menjelaskan, bertani padi bagi Ciptagelar bukan sekadar produksi, melainkan jalan hidup. “Ada ngasut, mikit, nganyaran, ponggokan, dan serentaun yang dijalani setiap tahun,” katanya.

Yoyo menyebut, stok pangan Ciptagelar cukup hingga puluhan tahun mendatang. “Tahun 2017 stok beras kami rata-rata cukup sampai 95 tahun,” ucapnya.

Sementara itu, Koalisi Sistem Pangan Lestari, Gina Karina menilai, diversifikasi pangan harus diperkuat kembali. Ia mengatakan, ketergantungan beras membuat sistem pangan nasional rentan.

“Selama berdekade kita tergantung satu dua komoditas, seperti beras dan gandum. Padahal setiap wilayah punya pangan lokal berbeda, dari sagu hingga jagung,” ucapnya.

Gina menilai pangan lokal harus kembali dikenalkan sebagai bagian gaya hidup modern. “Pangan lokal harus dianggap trendi, bukan makanan kampung yang disukai,” ujarnya.

Menurutnya, masyarakat luar justru iri pada kekayaan pangan Indonesia yang beragam. “Di negara lain tidak ada diversifikasi seperti kita, itu harus dijaga,” katanya.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Presiden Prabowo Instruksikan BRIN Percepat Riset Vaksin Malaria RI

28 Oktober 2026 - 04:07 WITA

Dari Minahasa hingga Papua, Budaya Daerah Tampil di Festival Indonesia 2026

26 Oktober 2026 - 10:25 WITA

Lebihi Target di Asian Para Games 2026, Kontingen Indonesia Siap Tatap ASEAN Para Games 2027 dan Paralimpiade 2028

24 Oktober 2026 - 09:56 WITA

BMKG: Keindahan Hunter’s Moon pada 26 Oktober 2026

23 Oktober 2026 - 04:17 WITA

Lestarikan Budaya, PORTINA Sulut Latih Pelatih Olahraga Tradisional

21 Oktober 2026 - 02:27 WITA

Trending di Serba Serbi