Menu

Mode Gelap
Gema Takbir di Paris, Diaspora Indonesia Rasakan Kehangatan Iduladha Bersama Presiden Prabowo Berkah Iduladha, Rusdi Raup Rezeki Kertas Bekas Alas Salat Id KPK ungkap Harno Trimadi terima gratifikasi dari kepala Balai Kemenhub Wapres Gibran sapa masyarakat usai shalat Idul Adha di Masjid Istiqlal Presiden Prabowo Sampaikan Taklimat kepada Seribu Perwira Siswa TNI dan Polri Mantan Bupati Taliabu Aliong Mus Jadi Tersangka Korupsi Pembangunan Rumah Dinas Senilai Rp17,5 M

Warta Parlemen

Komisi III DPR-RI Soroti Kriminalisasi Pejuang Agraria

badge-check


					Komisi III DPR-RI Soroti Kriminalisasi Pejuang Agraria Perbesar

Parlemen desak implementasi KUHP baru guna mencegah pemidanaan sepihak dalam konflik lahan antara masyarakat adat dan korporasi.

Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI mendesak aparat penegak hukum untuk mengimplementasikan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) nasional yang baru sebagai instrumen perlindungan bagi para pejuang agraria dari ancaman kriminalisasi, guna memastikan bahwa sengketa lahan tidak melahirkan pemidanaan yang dipaksakan.

Pernyataan tersebut mengemuka dalam rapat dengar pendapat di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, yang menghadirkan Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (Polda NTT) serta Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA).

Rapat ini secara khusus menyoroti tingginya tensi konflik struktural antara korporasi dan masyarakat lokal.

Paradigma Baru Hukum Pidana

Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, selaku pimpinan sidang menegaskan bahwa regulasi pidana yang baru secara ketat mengatur aspek niat jahat (mens rea) sebelum seseorang dapat dijatuhi hukuman. Beliau mencontohkan Pasal 36 KUHP baru yang mensyaratkan adanya unsur kesengajaan yang mutlak.

“Pasal 36 itu tidak ada seorang pun bisa dipidana tanpa adanya kesengajaan. Kalau ini kan deliknya memasuki halaman orang. Padahal, ada latar belakang sengketa antara pihak-pihak tersebut,” ujar Habiburokhman di Jakarta.

Intervensi Parlemen ini merespons laporan penanganan kasus hukum oleh Polda NTT terkait dugaan pelanggaran memasuki pekarangan tanpa izin.

Kasus tersebut menjerat empat orang, termasuk aktivis, penasihat hukum, dan dua kepala suku, menyusul laporan dari PT Krisrama perusahaan yang sebelumnya beroperasi dengan nama PT Perkebunan Kelapa Diag. Para tersangka saat ini dijerat menggunakan ketentuan Pasal 167 ayat (1) juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP lama.

Habiburokhman menilai, benturan hukum antara sektor swasta dan komunitas adat seharusnya diselesaikan dengan mengacu pada semangat pembaruan hukum yang tertuang dalam KUHP maupun Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang baru.

“Karena sistemnya yang kemarin kurang bagus, sekarang menurut saya sudah kita atur dengan baik, dengan bijak hukum kita di KUHP baru, KUHAP baru,” tambahnya.

Sebagai bentuk komitmen politik, Komisi III DPR menyatakan kesiapannya untuk bertindak sebagai penjamin hukum bagi para pejuang agraria guna menghindari penahanan preventif oleh aparat.

Selain itu, Parlemen juga mengoptimalkan peran Panitia Khusus Penyelesaian Konflik Agraria untuk mengawal hak-hak konstitusional masyarakat di akar rumput.

Data Eskalasi Konflik di Lapangan

Di sisi lain, potret penegakan hukum di sektor agraria masih menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Sekretaris Jenderal KPA, Dewi Kartika, memaparkan data advokasi sepanjang periode 2025 hingga 2026 yang menunjukkan tren kriminalisasi yang persisten.

Berdasarkan catatan KPA, terdapat sedikitnya 123 insiden kriminalisasi yang berdampak langsung pada 113 warga di 12 provinsi. Sektor perkebunan mendominasi dengan 91 kasus, diikuti sektor pertambangan sebanyak 21 kasus, dan sektor kehutanan dengan 8 kasus.

Melihat realitas tersebut, KPA mendesak adanya reformasi pendekatan oleh institusi kepolisian dalam menangani sengketa tanah struktural.

“Kami berharap Komisi III DPR dapat mendukung secara aktif penyelesaian konflik agraria struktural melalui pendekatan dialog konstruktif dan humanis, serta mendorong penghentian pelibatan aparat keamanan dan pendekatan represif,” kata Dewi Kartika.

KPA juga mendorong penerbitan instruksi resmi dari Kapolri kepada seluruh jajaran kepolisian di tingkat daerah hingga resor guna menghentikan sementara proses pemanggilan maupun penyidikan terhadap kaum tani dan masyarakat adat yang tengah memperjuangkan hak atas tanah mereka.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Blackout Sumatra, Ketua DPD Dorong Cadangan Listrik UPS di Daerah

25 Mei 2026 - 06:30 WITA

Bangun Kesadaran Kolektif Antisipasi Meluasnya Potensi Ancaman Virus Hanta di Tanah Air

15 Mei 2026 - 08:19 WITA

Waka MPR: Persoalan Guru Jangan Dipahami Urusan Administratif Semata

12 Mei 2026 - 07:31 WITA

Tanamkan Nilai Kebangsaan Siswa, Sosialisasi 4 Pilar MPR RI Digelar di MAN 2 Mataram

7 Mei 2026 - 03:50 WITA

Anggota DPD dukung Bapanas perkuat intervensi harga pangan masyarakat

2 Mei 2026 - 06:32 WITA

Trending di Warta Parlemen