Menu

Mode Gelap
Sosok Ibrahim Al Abrar, Bocah SD Boyolali Penemu Celah Keamanan Web NASA Eks Pejabat Dinas PUTR Batu Bara Divonis 6 Tahun di Kasus Korupsi Jalan Rp 43 M Kisah April DA7 yang Menginspirasi, Ketekunan Bawa Dirinya dari Jalanan ke Dunia Hiburan Presiden Prabowo: LNG Abadi Masela Jadi Tonggak Kemandirian Energi dan Mesin Baru Kemakmuran Rakyat Ledakan Gudang Amunisi Tewaskan 1 Prajurit dan Enam Lainnya Terluka, TNI AD Bentuk Tim Investigasi 1,2 Juta NIK Warga Miskin Dibobol, Ombudsman Desak Dinsos-Diskomdigi Benahi Sistem Keamanan Digital

Warta Parlemen

Dari Lahan Terbengkalai Jadi Sentra Ekspor, Titiek Soeharto Apresiasi BUBK Kebumen

badge-check


					Dari Lahan Terbengkalai Jadi Sentra Ekspor, Titiek Soeharto Apresiasi BUBK Kebumen Perbesar

Jateng, infokatulistiwanews.com – Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto, menilai Budidaya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, layak menjadi model nasional pengembangan perikanan budidaya. Menurutnya, keberhasilan mengubah lahan terbengkalai menjadi kawasan produksi udang berorientasi ekspor membuktikan program tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan.

“Hari ini kami dari Komisi IV melakukan kunjungan kerja spesifik ke Kebumen untuk melihat budidaya udang berbasis kawasan. Tadinya tanah yang terbengkalai, kini dimanfaatkan menjadi tempat budidaya udang,” ujar perempuan yang akrab disapa Titiek usai meninjau lokasi BUBK di Kebumen, Sabtu (11/7/2026).

Titiek mengungkapkan produktivitas kawasan tersebut sangat tinggi. Dalam satu hektare lahan, produksi udang mampu mencapai sekitar 40 ton dan telah memiliki pasar yang siap menyerap hasil panen, termasuk untuk kebutuhan ekspor.

“Hasilnya luar biasa. Satu hektare bisa menghasilkan 40 ton. Sudah ada yang menampung dan membeli hasilnya. Kualitas udangnya juga sangat baik, mudah-mudahan untuk ekspor tidak ada kendala,” katanya.

Srikandi Fraksi Partai Gerindra itu juga mengapresiasi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang tidak hanya membangun kawasan budidaya, tetapi juga menjadikannya sebagai pusat pelatihan bagi masyarakat dan pelaku usaha yang ingin mengembangkan budidaya udang.

“Apresiasi kami kepada KKP. Kawasan ini bukan hanya tempat budidaya, tetapi juga pusat pelatihan. Masyarakat maupun perusahaan yang ingin mengembangkan budidaya udang bisa belajar langsung di sini,” tuturnya.

Menurut Titiek, konsep BUBK layak direplikasi di berbagai daerah. Ia berharap setiap provinsi memiliki kawasan budidaya udang yang sekaligus menjadi pusat pembelajaran sehingga mampu meningkatkan pendapatan masyarakat serta mendukung pemenuhan gizi.

“Saya berharap setiap provinsi memiliki kawasan budidaya seperti ini. Selain meningkatkan pendapatan masyarakat, hasilnya juga dapat mendukung peningkatan gizi, khususnya bagi anak-anak,” tegasnya.

Dalam kunjungan tersebut, Komisi IV DPR RI juga mengikuti kegiatan penebaran benur atau benih udang. Titiek menjelaskan benur yang berukuran sangat kecil dapat tumbuh menjadi udang siap panen dalam waktu sekitar tiga bulan.

“Tadi kami juga menebar benur. Ukurannya sangat kecil, bahkan lebih kecil dari jarum pentul. Dalam waktu sekitar tiga bulan sudah bisa dipanen,” ungkapnya.

Ia menegaskan, keberhasilan BUBK Kebumen menunjukkan besarnya potensi sektor perikanan budidaya di Indonesia. Karena itu, ia mendorong KKP memperbanyak kawasan budidaya sekaligus pusat pelatihan serupa di berbagai wilayah agar manfaat ekonominya semakin luas dirasakan masyarakat.

Red~ IKN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Presiden Prabowo Dampingi PM Modi Kunjungi DPR RI, Perkuat Diplomasi Indonesia-India hingga Tingkat Legislatif

8 Juli 2026 - 12:20 WITA

DPR RI Bentuk Tim Investigasi Dampak Tailing Freeport

7 Juli 2026 - 03:48 WITA

Kabar Baik untuk Ojol, Dasco Umumkan Komisi Aplikasi Turun Jadi 8 Persen

29 Juni 2026 - 04:50 WITA

Atalia Praratya Sebut Gen Z Jadi Generasi Paling Aktif Membaca

23 Juni 2026 - 03:37 WITA

Anggota DPR kritik anggaran siaran RRI lebih kecil dibanding manajemen

10 Juni 2026 - 06:45 WITA

Trending di Warta Parlemen