Menu

Mode Gelap
Polemik Tutup-Buka Penyeberangan Perintis di NTT Prajurit Batalyon Hanud 11 Pasgat Laksanakan Lintas Medan Tingkatkan Ketangkasan dan Jiwa Korsa BMKG Ungkap Daftar 17 Wilayah Indonesia Berpotensi Hujan Hari Ini Begini Keseruan Ratusan Siswa SD Main Permainan Tradisional Heboh Bupati Lombok Barat Terjaring OTT KPK Setelah Nobar Piala Dunia Aksi Pemulung Ikut Tambal Jalan Rusak di Padang, Warga Mengaku Sudah Dua Wali Kota Tanpa Perbaikan

Serba Serbi

Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi

badge-check


					Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi Perbesar

Kelompok perempuan asal Misool, Raja Ampat, Papua Barat Daya, membagikan kisah mereka memimpin dan melestarikan sumber daya alam berkelanjutan dalam pertemuan yang berlangsung di Gianyar, Bali pada 9–11 April 2026.

Ketiga kelompok yang terlibat antara lain Waifuna dari Kampung Kapatcol, Joom Jak dari Kampung Aduwei, dan Zakan Day dari Kampung Salafen yang keseluruhannya berjumlah 20 perempuan terdiri dari mama-mama serta perempuan muda.

Dalam kesempatan itu, para anggota kelompok membahas praktik kepemimpinan perempuan berbasis kearifan lokal, khususnya pengelolaan perikanan melalui sistem adat sasi.

“Praktik sasi yang dipimpin oleh kelompok perempuan di kampung kami sudah berjalan lebih dari 20 tahun. Hasilnya tidak hanya menjaga alam tetap lestari, tetapi juga perlahan meningkatkan kesejahteraan masyarakat kami,” kata Ketua Kelompok Sasi Perempuan Waifuna dari Kampung Kapatcol, Almina Kacili, dalam keterangannya, Jumat (10/4/2026).

Almina mengungkapkan bahwa praktik sasi telah lama diterapkan secara turun-temurun. Akan tetapi, selalu dipimpin laki-laki. Hal ini karena budaya patriarki yang kuat membuat peran perempuan kerap terpinggirkan.

“Pada 2008, kami melihat bagaimana laki-laki mengelola sasi. Kami ingin bisa melakukan hal yang sama, dari situlah kelompok Waifuna terbentuk dan kami diizinkan mengelola area sasi seluas 32 hektar,” ucap dia.

Sasi adalah sistem adat yang mengatur pemanfaatan sumber daya alam dengan membuka dan menutup akses suatu area pada periode tertentu, dan umum dijumpai di Indonesia Timur.

Ketelatenan dan konsistensi Waifuna dalam mengelola sasi membuahkan kepercayaan dari perangkat kampung, pihak adat dan gereja. Manfaat yang dirasakan masyarakat secara luas, sehingga pada 2019 wilayah kelola mereka diperluas menjadi 213 hektar.

Menurut Almina kesuksesan itu yang kemudian menginsipirasi kampung lain menjalankan sistem serupa di Aduwei dan Salafen. Kedua kampung ini membentuk kelompok perempuan pengelola sasi pada 2022. Ketua Kelompok Jom Jak Sasi dari Kampung Aduwei, Ribka, mengaku dengan adanya sasi mereka bisa memiliki tabungan yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan anggota kelompok ataupun masyarakat setempat. “Biasanya sebelum buka sasi, kami berdiskusi hasil sasi akan digunakan untuk apa. Bisa untuk keperluan gereja, sampai untuk kebutuhan pendidikan maupun kesehatan masyarakat,” beber Ribka.

Sementara itu, Manajer Program Kelautan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Hilda Lionata mengatakan penerapan sasi di tiga kampung Raja Ampat berdampak terhadap posisi perempuan dalam pengambilan keputusan. Mereka tidak lagi malu atau takut menyampaikan pendapat dan terlibat dalam pengambilan keputusan di kampung.

“Mereka yang sebelumnya jarang diundang ke pertemuan masyarakat dan tidak vokal dalam pengambilan keputusan, kini selalu diundang ke rapat kampung karena telah terdaftar sebagai salah satu kelompok resmi di kampung,” jelas Hilda.

Ia menambahkan, YKAN telah mendampingi kelompok sasi perempuan Waifuna sejak 2008. Pendampingan mencakup pelatihan dasar pemahaman siklus hidup hewan yang disasi seperti teripang, lola, lobster yang mendasari aturan tangkap dan ukuran tangkap hingga pelatihan teknis biota laut.

Itu mencakup pelatihan selam bebas yang aman, serta pengoperasian perahu. Pertemuan di Bali diharapkan dapat memperkuat jejaring dan kerja sama antar kelompok perempuan praktisi sasi serta menginspirasi wilayah lain untuk mengintegrasikan keadilan gender dalam upaya konservasi laut.

Pengalaman perempuan Misool menunjukkan kepemimpinan perempuan dan kearifan lokal dapat berjalan seiring dalam menjaga alam dan masa depan komunitas.

“Pengalaman Waifuna, Joom Jak, dan Zakan Day menegaskan bahwa keadilan gender dan konservasi laut saling menguatkan. Ketika perempuan diberi ruang dan pengakuan, praktik panen berkelanjutan menjadi lebih efektif dan manfaatnya dirasakan lebih adil,” terang Hilda.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Begini Keseruan Ratusan Siswa SD Main Permainan Tradisional

22 Juli 2026 - 07:43 WITA

JARR Milik Haji Isam Akui Beli CPO Sitaan Kejaksaan Agung

20 Juli 2026 - 06:27 WITA

Kurangi Ketergantungan Gawai, KKN Unhas Edukasi Siswa SD Permainan Tradisional di Bone

19 Juli 2026 - 06:10 WITA

Pembangunan Tahap II IKN Terus Berjalan, Otorita IKN Lakukan Evaluasi Berkala

17 Juli 2026 - 06:02 WITA

Wimbledon Jadi Bekal Berharga Petenis Muda Indonesia Ethan Jake Frans

14 Juli 2026 - 06:44 WITA

Trending di Serba Serbi