Menu ✖

Mode Gelap
Presiden Prabowo Sambut Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang TNI AL Amankan Tugboat Pembawa Ribuan Kubik Kayu Log di Perairan Utara Pulau Buru Kisah Ibu-ibu Pemindang Ikan Kusamba, 28 Tahun Kerja Cuma Libur Nyepi-Galungan KPK Evaluasi Alasan Nusron Wahid Mangkir Sebelum Terbitkan Surat Perintah Membawa DPD RI Desak Menag Perkuat Pengawasan Anak Lindungi dari Kekerasan Seksual Taman Bunga Nusantara Punya Banyak Taman Tematik, Intip Daya Tariknya

Warta Utama

Kisah Nelayan Bengkulu Bertahan Hidup, Berutang dan Tak Mampu Akses BBM Subsidi

badge-check


					Kisah Nelayan Bengkulu Bertahan Hidup, Berutang dan Tak Mampu Akses BBM Subsidi Perbesar

Dodi Suprianto, nelayan sekaligus pemilik perahu di Kelurahan Pasar Malabero, Kota Bengkulu, baru saja mendarat bersama sejumlah anak buahnya, pukul 10.00 WIB, Minggu (17/5/2026).

Alfionita, isteri Dodi, menyambut di tepian pantai sembari menjaga bayi mungilnya yang terlelap di ayunan. Tak banyak ikan didapat hari ini. Setelah menjual ikan hasil tangkapan, Dodi membayar upah Anak Buah Kapal (ABK).

“Hari ini minus, tidak dapat uang ikan yang didapat dijual hanya cukup untuk membayar ABK, serta ganti uang solar. Sudah dua minggu ikan tidak dapat karena musim hujan,” sebut Dodi.

Dodi mengatakan untuk modal berangkat ke laut sejauh 20 mil hingga 40 mil, dia memerlukan uang sekitar Rp 1 juta per hari sudah termasuk makan dan operasional lainnya.

Bila mujur tangkapan ikan melimpah, Dodi bisa membawa pulang uang untuk kebutuhan harian keluarganya dan bayar utang.

“Kami nelayan ini bertahan hidup dari utang. Saya saja untuk operasional melaut sudah terutang Rp 10 jutaan bahkan lebih. Harapannya utang dibayar kalau ikan dapat melimpah namun dua minggu ini sering pulang dengan tidak ada ikan,” keluhnya.

Hidup nelayan menurut dia selalu berada dalam fase gali lubang tutup lubang.

“Pinjam uang bayar utang dan seterusnya. Bila hasil melimpah kami bayar utang, bila tidal dapat ikan kami berutang kembali,” ujarnya.

Dodi Suprianto, menjelaskan kebutuhan kapal 5 GT miliknya memerlukan solar 40 liter untuk menjelajah laut hingga 40 mil dengan tujuan rumpon yang ia pasang.

“Sehari melaut diperlukan uang untuk solar berkisar Rp 640 ribu bila melaut sejauh 40 mil ditambah tiga batang es balok Rp 100 ribu. Berangkatnya tengah malam, kemudian pukul 10.00 wib baru pulang,” beber dia.

Modal tersebut belum termasuk bekal makan yang dibawa dari rumah, rokok dan lainnya.

Nelayan Berutang Solar untuk Bertahan Hidup Ia katakan untuk mendapatkan solar para nelayan membeli dengan cara berutang.

Memang terdapat Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) di wilayah itu namun tidak semua nelayan bisa mengaksesnya.

“Memang ada SPBN harga subsidi Rp 6.800 namun nelayan tidak bisa mengaksesnya karena SPBN harus uang cash. Nelayan di sini tidak punya uang cash maka berutang dulu ke orang lain lalu harga solar naik jadi Rp 8.000,” jelas dia.

Para nelayan mengaku tidak masalah membeli solar dari pihak lain seharga Rp 8.000 asal bisa berutang sementara di SPBN para nelayan tidak diperkenankan berutang.

Ia ceritakan, pernah sekali waktu polisi menangkap pihak lain atau pengecer yang menjual solar ke nelayan, warga protes dengan alasan pengecer membantu nelayan mendapatkan solar karena boleh berutang.

“Kalau SPBN kan bayar tunai, nah kami ke pengecer solar walau harga mahal kami bisa berutang. Kemudian pengecernya ditangkap polisi bagaimana kami ke laut? maka kami demo,” kilahnya.

Romi nelayan lainnya mengakui pengeluaran terbesar nelayan adalah bahan bakar. Persolan semakin rumit ketika harga bahan bakar terus naik merangkak naik.

Menurut Romi, diperlukan energi alternatif seperti listrik tenaga matahari atau gas sebagai bahan bakar pengganti solar.

“Kami mau saja menerima bantuan energi surya atau gas namun harus didampingi karena nelayan kami banyak belum tahu bagaimana cara mengoperasikan dan merawat mesinnya. Terlebih bila itu dibagikan gratis sangat membantu,” ujarnya.

Nelayan Rumpon yang Makin Terhimpit Dodi dan Romi, merupakan nelayan rumpon, wadah bagi ikan untuk berkembang biak secara buatan. Para nelayan itu menyandarkan pendapatan pada rumpon yang mereka buat.

“Kami mengandalkan rumpon daun pinang. Satu rumpon itu kami buat mandiri dengan modal Rp 1 juta, setiap dua minggu daunnya kami ganti di sanalah ikan berkumpul kemudian kami tangkap,” jelas dia.

Dodi menjelaskan, rumpon, dibuat dengan modal Rp 1 juta. Itu dana sendiri. Rumpon dibuat oleh yang punya kapal.

Rumpon dibuat menggunakan daun pinang, batu, tali, botol dan karung. Usai dijalin sedemikian rupa rumpo lalu dibenamkan di laut dengan ditandi koordinat diilepas 20 mil laut.

“Rumpon kami buat mandiri. Bisa satu kapal punya dua hingga tiga rumpon,” katanya.

Ia berharap pemerintah dapat membantu para nelayan dengan membuat rumpon komunal yang bisa dimanfaatkan bersama.

“Kalau pemerintah bantu buatkan rumpon komunal atau bersama tentu sangat membantu,” ujarnya.

Ia juga katakan sejak enam tahun terakhir bantuan pemerintah untuk nelayan terhenti padahal katanya nelayan sangat membutuhkan bantuan dari pemerintah seperti alat tangkap, fiber, dan lainnya.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kisah Ibu-ibu Pemindang Ikan Kusamba, 28 Tahun Kerja Cuma Libur Nyepi-Galungan

19 Oktober 2026 - 02:57 WITA

Muhammad Saidil, Bocah 9 Tahun Kayuh Sepeda 12 Km Demi Bawa Ayah Berobat ke RSUD Sigli

16 Oktober 2026 - 02:50 WITA

Cerita ABK KM Maulana Dianiaya, Dipukul hingga Disiram Air Panas

11 Oktober 2026 - 04:57 WITA

Presiden Prabowo: Pemerintah Tidak Menyerah dalam Membela Kebenaran, Keadilan dan Kepentingan Rakyat

7 Oktober 2026 - 03:23 WITA

SD Negeri Purwosari Sleman Sulap 600 Galon Bekas Jadi Kebun Sayur

2 Oktober 2026 - 07:16 WITA

Trending di Warta Utama