Menu

Mode Gelap
Presiden Prabowo Sampaikan Pengarahan pada Ketua DPRD Seluruh Indonesia PN Manado Perluas Akses Keadilan Lewat Mall Pelayanan Publik Turis Asing Kunjungi Rumah Etnik Papua, Jadi Gerbang Wisata sebelum ke Raja Ampat Presiden Prabowo Teken Perpres Kesehatan, Atur Integrasi Layanan dari Pusat hingga Desa Rossa Sebut Nama Baiknya Dijadikan Ajang Cari Cuan Clickbait Lewat Link Afiliasi Kepergok ke Kedai Kopi, Napi Korupsi Dipindah ke Lapas Nusakambangan

Serba Serbi

Kisah Inspiratif Perjalanan Sunyi Anak Tunarungu Hingga Menjadi Psikologi

badge-check


					Kisah Inspiratif Perjalanan Sunyi Anak Tunarungu Hingga Menjadi Psikologi Perbesar

Sri Andiani lulus sebagai Magister Profesi Psikologi dengan predikat cum laude Universitas Surabaya. Setiap pagi, ketika mata Sri Andiani terbuka, dunia tidak langsung menyapanya dengan bunyi.

Tiga puluh tahun lalu, Dian, sapaan akrab Sri Andiani, lahir dengan gangguan pendengaran berat. Di masa itu, teknologi alat bantu dengar (ABD) belum secanggih hari ini.

Dian didiagnosis mengalami tunarungu berat pada usia 1,5 tahun. Ia mulai menggunakan ABD, namun bunyi tetap terasa jauh. Perkembangan bicara dan bahasanya berjalan lambat.

Hingga pada usia tiga tahun, sebuah keputusan besar diambil Sinta Nursimah dan Sri Gutomo, orang tua Dian, yakni pemasangan implan koklea, alat bantu dengar yang ditanam melalui operasi untuk menggantikan fungsi rumah siput di telinga bagian dalam.

Implan itu membuka akses pada suara, tetapi bukan keajaiban instan. “Alat hanya pintu masuk,” demikian keyakinan Sri Gutomo, sang ayah yang praktisi audiogram. Sejak saat itu, rumah menjadi ruang terapi tanpa jam istirahat.

Sejak bangun tidur hingga menjelang malam, Dian diperkenalkan pada kata demi kata. Pagi diceritakan sebagai pagi, sabun dikenalkan sebagai sabun, handuk sebagai handuk. Kata-kata sederhana itu diulang tanpa lelah. Dunia bunyi dibangun perlahan, setahap demi setahap.

Tak selalu mudah. Ada hari-hari ketika Dian menolak, menangis, atau memilih menyendiri. Ia masih anak kecil, dengan naluri bermain yang kuat. Maka belajar pun diubah menjadi permainan. Menggunting, menggambar, menempel. Bahasa hadir di sela-sela tawa dan kesabaran.

“Ini gambar sabun,”
“Sekarang gunting botol sampo,”
“Tempel di kertas.”
Demikian terapi yang dilakukan Sinta Nursimah pada buah hatinya, Dian.

Kalimat-kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun diulang ribuan kali, setiap hari, selama bertahun-tahun. Waktu berjalan pelan, hasil pun tak datang seketika. Tetapi sedikit demi sedikit, Dian mulai memahami kata, lalu makna.

Ketika usia sekolah tiba, tantangan baru muncul. Dua puluh tahun lalu, sekolah inklusi belum menjadi istilah yang lazim seperti sekarang. Dari satu sekolah ke sekolah lain, pintu tertutup lebih sering ditemuinya. Hingga akhirnya, sebuah sekolah membuka ruang, bukan hanya menerima, tetapi mau belajar bersama Dian sebagai anak berkebutuhan khusus tunarungu.

Dian menempuh SD hingga SMP di sekolah itu. Di sanalah ia belajar bukan hanya pelajaran, tetapi juga keberanian. Lingkungan belum selalu ramah, namun satu pesan terus dipegangnya yakni jangan menyerah.

Keyakinan itu menemukan momentumnya saat Dian duduk di bangku SMP. Ia menjuarai lomba menulis tingkat nasional yang diselenggarakan WHO dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Dian menjadi satu-satunya peserta penyandang disabilitas di antara para finalis.

Prestasi itu bukan sekadar piala. Ia adalah pernyataan pada dunia bahwa potensi tidak ditentukan oleh kemampuan mendengar.

Langkah Dian tak berhenti di sana. Menjelang kelulusan SMA, ia kembali mencatat prestasi sebagai Juara 1 Olimpiade Biologi Tingkat Nasional. Sebuah capaian yang semakin mengukuhkan jalannya di dunia akademik.

Dian kemudian menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi, Universitas Surabaya, bekerja di biro psikologi industri, dan kembali melanjutkan studi pascasarjana. September 2025 menjadi penanda penting, ia lulus sebagai Magister Profesi Psikologi dengan predikat cum laude dari perguruan tinggi yang sama.

Perjalanan itu penuh air mata dan doa. Sunyi yang dulu membatasi, kini menjadi ruang empati yang menguatkan pilihannya sebagai psikolog.

“Intervensi dini, pendampingan intensif, dan kepercayaan yang tak pernah putus membawanya sampai titik sukses akademiknya,” kata Sinta Nursimah, yang dikenal sebagai pendiri Yayasan Aurica di tahun 1999, yang semula hanya perkumpulan kecil orang tua yang anaknya mengalami gangguan pendengaran.

Kini, Dian telah menjadi bagian dari masyarakat profesional. Namun di luar sana, masih banyak anak tunarungu yang belum mendapatkan kesempatan serupa. Masih banyak keluarga yang belum tahu bahwa sunyi bukan akhir dari segalanya.

Kisah Dian mengingatkan kita bahwa suara bisa datang dari mana saja. Dari kesabaran, dari ketekunan, dari keyakinan. Dan bahwa setiap anak, apa pun kondisinya, berhak didengar mimpinya untuk tampil sebagai sesama yang setara.

Yayasan Aurica kini tumbuh perlahan tapi pasti. Perkumpulan itu berkembang menjadi lembaga pendidikan inklusi PAUD dan PG-TK di Jalan Bendul Merisi Utara VIII/8, Surabaya.

Sebuah sekolah kecil sekaligus memberikan layanan terapi bagi anak tunarungu. Hingga kini, tercatat telah menangani 497 anak tunarungu dari berbagai daerah Indonesia.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Turis Asing Kunjungi Rumah Etnik Papua, Jadi Gerbang Wisata sebelum ke Raja Ampat

19 April 2026 - 07:51 WITA

Potret Gereja Pertama IKN, Ada Makna di Balik Desain Indahnya

18 April 2026 - 06:58 WITA

Menyusuri Istana, Menyulam Mimpi: Pengalaman Tak Terlupakan Pelajar SMP Negeri 39 Jakarta

17 April 2026 - 05:18 WITA

Ismanto: Tinggalkan Profesi Satpam, Kini Sukses Budidaya Mamey Sapote Beromzet Puluhan Juta

16 April 2026 - 05:34 WITA

Prabowo Kirim Ucapan Ulang Tahun untuk Titiek Soeharto di Tengah Kunker Luar Negeri

15 April 2026 - 06:00 WITA

Trending di Serba Serbi