Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan keberhasilan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di dua wilayah ujung utara dan timur Indonesia, yakni Sulawesi Utara dan Papua Barat Daya, dalam sepekan terakhir.
Meskipun api telah berhasil dipadamkan dan tidak menimbulkan korban jiwa, peristiwa ini menjadi alarm keras mengingat musim kemarau yang tengah memuncak masih memicu kekeringan di berbagai daerah.

Di Sulawesi Utara, kobaran api yang melanda Kabupaten Bolaang Mongondow Utara berhasil dijinakkan setelah sebelumnya melahap lima hektare lahan kering.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa kebakaran terjadi pada Selasa (28/7) sekitar pukul 13.00 Wita di Desa Binuanga, Kecamatan Bolangitang Timur.
Tiupan angin kencang yang berhembus di tengah teriknya musim kemarau menyebabkan api dengan cepat menjalar di lahan yang dipenuhi dedaunan dan rumput kering.
Berkat kerja cepat tim gabungan dari BPBD setempat, Dinas Pemadam Kebakaran, serta partisipasi aktif pemerintah kecamatan, desa, dan masyarakat, proses pemadaman dan pendinginan berjalan maksimal dan titik api kini dinyatakan padam.
Sementara itu, di ujung timur Indonesia, penanganan karhutla di Kota Sorong, Papua Barat Daya, menyisakan cerita heroik dengan tantangan berat.
Kebakaran yang pertama kali terdeteksi pada Selasa (21/7) di wilayah Gunung Kali Ampat sempat membesar keesokan harinya akibat angin kencang di musim kemarau. Api kembali muncul pada Kamis (23/7) di kawasan hutan Gunung Woroth, Kelurahan Kakublik.
Dampaknya cukup masif, menghanguskan sekitar 24 hektare lahan dan merusak satu tiang listrik yang menyebabkan aliran listrik ke rumah warga di Kelurahan Matalamagi, Distrik Sorong Utara, sempat terputus. Secara administratif, bencana ini menyebar dan berdampak pada lima distrik serta delapan kelurahan di wilayah tersebut.
Meski akhirnya berhasil dikuasai, tim gabungan yang terdiri dari BPBD Kota Sorong, Damkar TNI AD, Polresta Sorong, dan pemerintah kelurahan dihadapkan pada medan yang sulit dijangkau serta keterbatasan peralatan pemadaman.
Kondisi ini sempat memperlambat proses pendinginan, namun saat ini seluruh titik api telah terkendali dan petugas masih bersiaga memantau potensi munculnya percikan baru.
Menyikapi kondisi ini, BNPB mengeluarkan imbauan tegas kepada seluruh lapisan masyarakat. Terkait bahaya karhutla, masyarakat diingatkan untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta menghindari segala aktivitas yang berpotensi memicu percikan api.
Jika menemukan titik api, warga diminta segera melaporkannya kepada aparat setempat agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Lebih jauh, Kepala Pusat Data BNPB juga menyoroti ancaman lain yang tak kalah genting, yaitu kekeringan. Seiring masih berlangsungnya musim kemarau, BNPB mengimbau seluruh masyarakat untuk menggunakan air secara bijak, menghemat konsumsi air bersih, serta senantiasa mengikuti arahan pemerintah daerah apabila terjadi gangguan ketersediaan air di lingkungan masing-masing.
****









