Menu

Mode Gelap
Harga Pangan 7 September: Bawang Merah Turun, Cabai Kembali Naik Dari Laut Untuk Negeri: TNI AL dan Masyarakat Bersatu dalam Semangat, Aku Cinta Laut 4 Bandara Ditutup Sementara Akibat Sebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau Korupsi KPR Fiktif Rp237 Miliar, Kejari Karawang Tetapkan 4 Tersangka Terindikasi Kangkangi Aturan, APH Didesak Cabut Izin Usaha Perkebunan PT Ketapang Subur Lestari di Barito Timur PN Manado Sosialisasikan SEMA 2, 3 dan 4 Tahun 2026 ke APH, Soroti Kepastian Hukum

Serba Serbi

Inovasi Hijau dari Politeknik Negeri Manado: Sampah Jadi Ornamen Wisata”

badge-check


					Inovasi Hijau dari Politeknik Negeri Manado: Sampah Jadi Ornamen Wisata” Perbesar

Sebuah terobosan penting dalam pengelolaan sampah plastik sekaligus pengembangan pariwisata berkelanjutan resmi diluncurkan hari ini di Kampus Politeknik Negeri Manado, Kamis (11/09/2025).

Tim dosen dan mahasiswa dari Laboratorium Praktek Teknik Mesin kampus tersebut berhasil mengembangkan mesin pencacah plastik bertenaga surya dengan kapasitas produksi lebih besar dan hasil yang lebih optimal.

Riset ini dipimpin oleh Stevie Kaligis, dengan anggota tim Steven Runtuwene, Yolanda Lagarance, Maikel Wala, dan Dimas.

Penelitian mereka mendapat dukungan dari program Katalisator Kemitraan Berdikari Skema Emas, yang digawangi Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Ditjen Sains dan Teknologi, Kemendiktisaintek.

Mesin pencacah plastik berbasis tenaga surya ini dirancang untuk menjawab tantangan besar: sampah plastik yang sulit terurai, sekaligus mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan yang lebih ramah lingkungan.

Hasil cacahan plastik dari mesin ini akan diolah menjadi ecobrick, yang kemudian dimanfaatkan sebagai ornamen dalam paket wisata berbasis potensi alam di Desa Sarawet, Kecamatan Likupang Timur, Minahasa Utara.

“Mesin ini kami kembangkan untuk menjawab dua isu sekaligus: pengelolaan sampah plastik dan inovasi dalam pariwisata. Lewat pemanfaatan energi surya, kami juga ingin menekankan pentingnya pemberdayaan masyarakat,” ujar Stevie Kaligis, ketua tim peneliti.

Dalam pelaksanaannya, tim menggandeng bank sampah sebagai mitra utama dalam pengumpulan plastik. Kolaborasi ini memungkinkan masyarakat berperan aktif dalam pengurangan sampah sekaligus mendukung geliat pariwisata desa.

Hadirnya teknologi ini diharapkan menjadikan Desa Sarawet sebagai model pengembangan wisata hijau di Minahasa Utara.

Proyek ini membawa dampak ganda: solusi konkret atas persoalan sampah plastik, serta peningkatan daya tarik wisata berbasis komunitas dan lingkungan.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Harga Pangan 7 September: Bawang Merah Turun, Cabai Kembali Naik

7 September 2026 - 04:29 WITA

Keluarga Jadi Kekuatan Suksesnya Pembudidaya Ikan Nila Lestari di Manganitu

4 September 2026 - 05:10 WITA

Baru Berusia 11 Tahun, Mikhayla Shanum Caya Jadi Kontingen Indonesia Termuda Asian Games 2026, Targetkan Medali

1 September 2026 - 05:19 WITA

SSB Kolonal Jadi Ruang 60 Anak Solok Selatan Kejar Mimpi Jadi Pesepakbola

28 Agustus 2026 - 04:51 WITA

Ribuan Penari Muda dalam Tari Kolosal

25 Agustus 2026 - 07:19 WITA

Trending di Serba Serbi