Menu

Mode Gelap
Hashim: Indonesia Dapat 150 Juta Barel Minyak APH Diminta Segera Mengusut Tuntas Terkait Dugaan Penerbitan Memo Siluman untuk Kontrak Kuota Angkutan Batubara Paus Leo XIV Kunjungi Guinea Khatulistiwa, Serukan Perdamaian Dunia Delapan ASN Kemenaker terbukti peras 20 perusahaan izin TKA Rp130 M MPR: Komitmen bersama dibutuhkan demi wujudkan semangat Kartini Residivis Bandar Narkoba di Pangkalpinang Ditangkap, Polisi Sita 2 Kg Sabu

Serba Serbi

Gandeng Monash University, IKN Dibuat Tahan Banjir Seperti Australia

badge-check


					Gandeng Monash University, IKN Dibuat Tahan Banjir Seperti Australia Perbesar

Indonesia menggandeng para ahli dari Monash University, Australia, untuk merancang pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dengan konsep inovatif “kota tanggap air” atau sponge city.

Langkah strategis ini bertujuan menciptakan ibu kota baru yang tangguh terhadap banjir, kekeringan, dan perubahan iklim, sekaligus menghindari permasalahan yang kerap dialami Jakarta, seperti penurunan muka tanah dan kemacetan.

Kolaborasi ini dilaksanakan melalui program pelatihan yang didukung Bank Pembangunan Asia (ADB) dan pemerintah Australia.

Program tersebut menargetkan para pejabat Otorita IKN (OIKN) agar memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam perencanaan kota berkelanjutan.

Dengan begitu, infrastruktur IKN akan dirancang mampu menahan limpasan air hujan, mengelola drainase, dan meminimalkan risiko kontaminasi lingkungan.

Menurut Profesor Tony Wong dari Monash University, konsep sponge city yang lahir di Australia pada 1990-an telah terbukti efektif diterapkan di berbagai kota di dunia.

“Penerapan konsep ini telah membantu mentransformasi kota-kota di Australia dan berbagai negara lain, terutama dalam desain infrastruktur, kebijakan air, dan tata kelola,” ujar Profesor Wong, dikutip Jumat (22/08/2025).

Rancangan IKN akan mencakup elemen seperti lahan basah (wetlands), saluran air dangkal (swales), dan perkerasan berpori (porous pavement) yang mampu melakukan biofiltrasi air hujan, sekaligus mengurangi risiko banjir dan pencemaran.

Infrastruktur hijau ini memanfaatkan proses alami untuk menyerap, menampung, dan membersihkan air, sehingga lingkungan kota tetap sehat dan ramah bagi penghuninya.

Selain aspek teknis, kerja sama ini menekankan integrasi harmonis antara manusia, alam, dan lingkungan buatan.

Profesor Diego Ramírez-Lovering menegaskan bahwa perencanaan matang akan memastikan IKN siap menghadapi tantangan masa depan, baik dari sisi ekologi maupun sosial.

Program pelatihan dijadwalkan berlangsung hingga Oktober 2025, melibatkan berbagai departemen OIKN dan Kementerian Pekerjaan Umum.

Inisiatif ini menegaskan komitmen Indonesia, Australia, dan ADB dalam membangun ibu kota baru yang modern, berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan, sekaligus menjadi model bagi pengembangan kota di masa mendatang.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dianggap Hama di RI, Ikan Sapu-sapu Justru Kuliner Favorit Amazon

23 April 2026 - 03:29 WITA

AFC Women’s Football Day 2026 di Nusantara, Tumbuhkan Semangat Sepak Bola Putri Sejak Dini

22 April 2026 - 07:37 WITA

Modal Rp100 Ribu, 10 Ibu Rumah Tangga Ini Sekarang Produksi 600 Botol Sehari

21 April 2026 - 05:54 WITA

Panjat tebing jadikan Asian Beach Games pemanasan ke Asian Games 2026

21 April 2026 - 05:47 WITA

Pecahkan Rekor MURI, TMII Tampilkan 1.000 Penari dari 34 Provinsi

20 April 2026 - 10:18 WITA

Trending di Serba Serbi