Menu ✖

Mode Gelap
KPK Kembali Panggil Satu Tersangka Korupsi Proyek Jalan BBPJN Sumut Menteri PPPA: Setiap Anak Berhak Dapat Pengasuhan yang Aman Dari Minahasa hingga Papua, Budaya Daerah Tampil di Festival Indonesia 2026 Ingin Masuk Malaysia Secara Ilegal Melalui Batam, Belasan WN Vietnam Diamankan TNI AL Paus Leo serukan perdamaian di Yaman, doakan korban serangan Yordania Mimika Kirim 4 Atlet Junior ke Kejurnas Catur di Banten

Serba Serbi

Festival ke Uma V Hidupkan Kembali Permainan Tradisional Anak di Tengah Sawah

badge-check


					Festival ke Uma V Hidupkan Kembali Permainan Tradisional Anak di Tengah Sawah Perbesar

Suasana ceria dan riuh penuh tawa terdengar dari petak sawah kering di Subak Sidangrapuh, Banjar Ole, Desa Marga Dauh Puri, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan pada Sabtu (27/9/2025).

Bukan karena panen, melainkan karena Festival ke Uma V, sebuah perayaan dua hari yang menyulap sawah menjadi ruang edukasi budaya dan permainan tradisional.

Festival ini digagas oleh Sanggar Buratwangi bekerja sama dengan komunitas Wintang Rare, dengan misi menghidupkan kembali nilai-nilai pertanian dan permainan tradisional Bali yang mulai terlupakan.

‘Matimbang’, Adu Keseimbangan yang Penuh Tawa

Festival dibuka dengan permainan tradisional langka bernama ‘Matimbang’. Di bawah arahan Ketua Sanggar Buratwangi, I Nyoman Budarsana, puluhan siswa dari SD Negeri 1 Marga Dauh Puri dan anak-anak desa lainnya ditantang menyeimbangkan batang bambu kecil dengan dua terong di atas hidung sambil berlari menembus jerami.

Permainan ini, meskipun sederhana, menuntut fokus dan ketangkasan. Tawa pun pecah ketika para peserta kehilangan keseimbangan dan jatuh, disambut sorak-sorai semangat dari anak-anak lainnya yang berjejer di pematang sawah.

“Mereka tak hanya mengenal sawah dan alamnya, tapi juga budaya yang hidup di dalamnya, seperti permainan Matimbang ini,” ujar Kepala Sekolah, Luh Putu Mutiara Roshita Adi, didampingi guru pendamping I Made Wetro, S.Pd.

‘Paid Upih’ di Sawah Berlumpur: Belajar Kompak, Belajar Jatuh dan Bangkit

Keceriaan berlanjut dengan permainan ‘Paid Upih’, atau tarik pelepah pinang di atas lumpur. Permainan ini dimainkan secara berpasangan: satu anak duduk di atas pelepah, sementara rekannya menarik melewati sawah berlumpur.

Momen paling lucu justru terjadi saat para peserta jatuh tergelincir ke lumpur. Tak ada yang marah, semua tertawa, bangkit, dan mencoba lagi.

“Ini pengalaman yang langka di zaman sekarang,” ujar Wetro, yang bahkan menambahkan permainan lari ‘Megandong’ (menggendong teman) untuk menambah keseruan.

Ia juga menyatakan keinginannya memperkenalkan tradisi ‘Matekap’ (membajak sawah secara tradisional) jika festival ini kembali digelar tahun depan.

Dari Sawah ke Layar: Ruang Ekspresi Lewat Film dan Seni

Pada sore harinya, festival dilanjutkan dengan workshop permainan Megandu, salah satu permainan tradisional yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.

Puncak hari pertama ditutup dengan program “Respon Sosial”, yakni pemutaran tujuh film pendek karya anak-anak dan remaja yang menggambarkan berbagai isu, mulai dari kehidupan keluarga hingga lingkungan sekitar. Festival pun menjelma menjadi ruang ekspresi lintas media dan generasi.

Hari Kedua: Yoga, Film, Ecoprint, dan Pementasan Seni Budaya

Hari kedua festival diisi dengan beragam kegiatan edukatif seperti yoga bersama, workshop pembuatan film, dan workshop Ecoprint dari Institut Desain dan Bisnis Bali, serta pengenalan tanaman herbal lokal.

Festival ke Uma V ditutup dengan pementasan seni budaya Bali, termasuk karya teatrikal “Tanda Tapak” oleh Ida Ayu Tri Wiranti dan “Ahli Fungsi Tangis” oleh Gede Pyrba Wiangga, yang menjadi refleksi atas pentingnya menjaga identitas budaya dalam kehidupan modern.

Menghidupkan Lagi Sawah Sebagai Ruang Budaya

Festival ke Uma V membuktikan bahwa sawah bukan hanya tempat produksi pangan, tetapi juga bisa menjadi ruang edukasi, ekspresi, dan pelestarian budaya.

Di tengah geliat modernisasi, Subak Sidangrapuh menjadi saksi bagaimana lumpur, tawa, dan bambu bersatu untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada generasi muda Tabanan.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dari Minahasa hingga Papua, Budaya Daerah Tampil di Festival Indonesia 2026

26 Oktober 2026 - 10:25 WITA

Lebihi Target di Asian Para Games 2026, Kontingen Indonesia Siap Tatap ASEAN Para Games 2027 dan Paralimpiade 2028

24 Oktober 2026 - 09:56 WITA

BMKG: Keindahan Hunter’s Moon pada 26 Oktober 2026

23 Oktober 2026 - 04:17 WITA

Lestarikan Budaya, PORTINA Sulut Latih Pelatih Olahraga Tradisional

21 Oktober 2026 - 02:27 WITA

Taman Bunga Nusantara Punya Banyak Taman Tematik, Intip Daya Tariknya

18 Oktober 2026 - 04:51 WITA

Trending di Serba Serbi