Menu

Mode Gelap
Gema Takbir di Paris, Diaspora Indonesia Rasakan Kehangatan Iduladha Bersama Presiden Prabowo Berkah Iduladha, Rusdi Raup Rezeki Kertas Bekas Alas Salat Id KPK ungkap Harno Trimadi terima gratifikasi dari kepala Balai Kemenhub Wapres Gibran sapa masyarakat usai shalat Idul Adha di Masjid Istiqlal Presiden Prabowo Sampaikan Taklimat kepada Seribu Perwira Siswa TNI dan Polri Mantan Bupati Taliabu Aliong Mus Jadi Tersangka Korupsi Pembangunan Rumah Dinas Senilai Rp17,5 M

Warta Parlemen

Di Forum Konstitusi MPR, DPD RI Lia Istifhama Ungkap 3 Kunci untuk Keberlangsungan Bangsa

badge-check


					Di Forum Konstitusi MPR, DPD RI Lia Istifhama Ungkap 3 Kunci untuk Keberlangsungan Bangsa Perbesar

Anggota MPR RI dari DPD RI Jawa Timur, Lia Istifhama, menegaskan keberlangsungan bangsa tidak bisa dilepaskan dari tiga pilar utama pendidikan berkualitas,demokrasi yang sehat, dan kesepakatan publik terkait arah pembangunan nasional.

Menurut Ning Lia, perjuangan politik dan kebangsaan tidak semata untuk hasil saat ini, tetapi juga untuk generasi mendatang. Ia mencontohkan perjuangan R.A. Kartini dalam memajukan pendidikan perempuan, yang dampaknya baru dirasakan 10, 20, bahkan 30 tahun setelah perjuangan itu dilakukan.

“Itu yang saya tangkap, bagaimana ketika kita memiliki positioning sebagai keterwakilan rakyat, kita memahami hakikat demokrasi dan nilai musyawarah dalam Pancasila,” ujarnya dalam acara Diskusi Konstitusi dan Demokrasi Indonesia MPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Rabu (13/8/2025).

Ning Lia menyoroti dinamika isu publik yang kerap menimbulkan pro dan kontra, termasuk kebijakan Presiden Prabowo Subianto. Ia mengaitkannya dengan teori siklus disintegrasi bangsa Ibnu Khaldun, yang mengingatkan bahwa ketimpangan dan rasa termarjinalkan, jika tidak dikelola, bisa memicu krisis kepercayaan antarwarga dan terhadap pemerintah.

Terkait wacana MPR kembali menjadi lembaga tertinggi negara, Lia mengungkapkan bahwa respons publik cukup beragam. Namun, ia menegaskan bahwa hal tersebut bukanlah ambisi politik, melainkan bagian dari upaya menjaga keberlangsungan bangsa sesuai sejarah konstitusi nasional.

“Perubahan konstitusi bisa terjadi karena konsensus rakyat maupun mekanisme formal. Tantangannya adalah memberi edukasi publik agar memahami pentingnya kesepakatan bersama,” jelas Lia, yang juga penulis novel Berkisah Tentang Hati.

Lia menilai Pokok-Pokok Haluan Negara (PPHN) penting sebagai panduan pembangunan jangka panjang. Ia juga mendorong generasi muda memahami istilah dan konsep politik agar merasa memiliki peran dalam demokrasi.

Untuk itu, Lia mendorong revisi Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 demi memperkuat ketetapan MPR, yang menurutnya memiliki nilai eksternal lebih kuat dibanding peraturan atau keputusan MPR biasa.

Lia mengajak generasi muda untuk melihat proses politik secara utuh, termasuk penerapan otonomi daerah yang berkeadilan antara pusat dan daerah.

“Jangan sampai keadilan hanya dirasakan di satu sisi, tapi di mata publik justru terlihat timpang. Generasi muda harus merasa menjadi bagian penting dalam kajian dan praktik demokrasi,” tutup Lia, yang juga dikenal sebagai pencipta lagu bertema pertanian.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Blackout Sumatra, Ketua DPD Dorong Cadangan Listrik UPS di Daerah

25 Mei 2026 - 06:30 WITA

Komisi III DPR-RI Soroti Kriminalisasi Pejuang Agraria

19 Mei 2026 - 02:19 WITA

Bangun Kesadaran Kolektif Antisipasi Meluasnya Potensi Ancaman Virus Hanta di Tanah Air

15 Mei 2026 - 08:19 WITA

Waka MPR: Persoalan Guru Jangan Dipahami Urusan Administratif Semata

12 Mei 2026 - 07:31 WITA

Tanamkan Nilai Kebangsaan Siswa, Sosialisasi 4 Pilar MPR RI Digelar di MAN 2 Mataram

7 Mei 2026 - 03:50 WITA

Trending di Warta Parlemen