Menu

Mode Gelap
Ketua DPD Puji Diplomasi Prabowo di Rusia: FTA Dongkrak Ekonomi Daerah Selamatkan Masa Depan Anak, Densus 88 Bangun Mekanisme Pemulihan dan Pendampingan Terpadu di Sumsel IdeaFest 2026 Usung Tema Rehumanize di Era AI, Ajak Manusia Lebih Bijak Gunakan Teknologi Presiden Putin: Indonesia Mitra Paling Kunci bagi Rusia di Kawasan Asia Pasifik 12 Pasang Atlet TNI AU Siap Berjuang, Kobarkan Semangat Prestasi di Piala Panglima TNI 2026 Keluarga Jadi Kekuatan Suksesnya Pembudidaya Ikan Nila Lestari di Manganitu

Warta Internasional

Dampak Perang Timur Tengah, Sejumlah Negara Liburkan Kampus dan Sekolah hingga Batasi Pembelian BBM

badge-check


					Dampak Perang Timur Tengah, Sejumlah Negara Liburkan Kampus dan Sekolah hingga Batasi Pembelian BBM Perbesar

Beberapa negara mulai memberlakukan kebijakan pembatasan untuk mengatasi dampak kelangkaan energi buntut perang di Timur Tengah. Penutupan atau pembatasan akses terhadap Selat Hormuz berdampak pada pasokan bahan bakar dan gas di seluruh dunia.

Bangladesh menutup universitas serta memberlakukan penjatahan bahan bakar.

Pihak berwenang menutup universitas negeri dan swasta di seluruh negara itu dan mempercepat libur Idul Fitri sebagai langkah darurat untuk menghemat listrik dan bahan bakar.

Para pejabat mengatakan, kebijakan tersebut tidak hanya mengurangi konsumsi listrik tapi juga mengurangi kemacetan lalu lintas yang menyebabkan pemborosan bahan bakar.

Kampus-kampus mengonsumsi listrik dalam jumlah besar untuk asrama, ruang kelas, laboratorium, dan pendingin udara. Penerapan libur Idul Fitri lebih awal akan mengurangi tekanan atau beban listrik negara.

“Keputusan ini diambil untuk mengurangi konsumsi listrik dan bahan bakar dengan mempertimbangkan situasi global saat ini,” bunyi pernyataan Kementerian Pendidikan Bangladesh, seperti dikutip dari Al Jazeera, Senin (9/3/2026).

Sekolah negeri dan swasta telah diliburkan sejak awal Ramadan, yang berarti sebagian besar lembaga pendidikan di Bangladesh tutup.

Negara yang 95 persen kebutuhan bahan bakar dan energi bergantung dari impor itu telah membatasi pembelian bahan bakar akibat panic buying sejak Jumat pekan lalu.

Sebagai bagian dari langkah-langkah penghematan yang lebih luas, pemerintah juga meminta semua sekolah dengan kurikulum internasional serta bimbingan belajar swasta untuk menangguhkan operasional selama periode Ramadan guna membatasi penggunaan listrik.

Bersamaan dengan penutupan tersebut, pemerintah mengeluarkan pedoman yang mendorong lembaga dan kantor untuk menggunakan listrik secara lebih efisien, termasuk memaksimalkan cahaya matahari serta meminimalkan penerangan dan penggunaan daya yang tidak perlu.

Perang Timur Tengah telah berkembang menjadi konflik yang lebih luas, menghambat ekspor minyak dan gas, serta mendorong kenaikan biaya.

Kelangkaan gas yang parah telah memaksa Bangladesh untuk menghentikan operasi pada empat dari lima pabrik pupuk milik pemerintah, mengalihkan gas yang tersedia untuk pembangkit listrik untuk menghindari meluasnya pemadaman listrik.

Negara berpenduduk 170 juta jiwa itu membeli gas alam cair dari pasar spot dengan harga jauh lebih tinggi sambil mencari kargo tambahan untuk menutup kesenjangan pasokan.

“Kami melakukan segala yang kami bisa untuk mengurangi konsumsi dan memastikan stabilitas pasokan listrik, bahan bakar, dan impor,” kata seorang pejabat senior Kementerian Listrik, Energi, dan Sumber Daya Mineral.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Presiden Putin: Indonesia Mitra Paling Kunci bagi Rusia di Kawasan Asia Pasifik

4 September 2026 - 05:13 WITA

Presiden Prabowo Jadi Tamu Kehormatan Utama EEF ke-11 di Vladivostok

3 September 2026 - 06:35 WITA

Jepang Kirim Helikopter Bantu Atasi Karhutla RI

30 Agustus 2026 - 06:33 WITA

Peringati 75 Tahun Hubungan Diplomatik, Festival Indonesia Digelar di Swiss

27 Agustus 2026 - 03:34 WITA

Kisah PMI Bangun Kedai Kuliner Indonesia di Jantung Kota Taipei

24 Agustus 2026 - 05:45 WITA

Trending di Warta Internasional