Menu

Mode Gelap
MA dan KY Berhentikan Hakim DD yang Telantarkan Anak Selat Hormuz, Selat Strategis Titik Perekonomian Dunia Dukung Pemberdayaan Nelayan, Danlanal Yogyakarta Hadiri Kunker Ketua Komisi IV DPR-RI Ketika Pemkab Bulungan Bersolek, Eks Pasar Ikan Kini Jadi Food Court Kemenlu RI Pastikan Koordinasi Intensif Pelindungan WNI di Timur Tengah Jalan Rusak dan Anak Putus Sekolah, Pengalaman Pahit Warga 2 Kampung di Polman

Serba Serbi

Angka Putus Sekolah di Kotim Masih Tinggi

badge-check


					Angka Putus Sekolah di Kotim Masih Tinggi Perbesar

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Muhammad Irfansyah, menyoroti tingginya angka anak putus sekolah di wilayahnya dan dirinya menegaskan perlunya sinergi nyata antara Tenaga Lapangan Dinas (TLD), pamong desa, hingga para guru untuk menekan persoalan klasik ini.

“Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan angka anak tidak sekolah di Kotim masih cukup tinggi. Karena itu, kami minta TLD bersama pamong desa bergerak aktif menelusuri penyebabnya dan segera mencari solusi,”ungkap Irfansyah, Rabu (27/8/2025).

Ia mengakui, deteksi dini terhadap anak yang berpotensi putus sekolah masih lemah. Guru belum maksimal dalam memantau siswa yang tidak hadir lebih dari satu minggu.

“Itu harus segera dicari tahu, jangan sampai terlambat. Ada pula anak yang kesulitan berkonsentrasi dalam belajar, itu juga butuh perhatian khusus. Karena itu kami mendorong agar guru kelas maupun guru mata pelajaran juga berperan sebagai pembimbing konseling (BK),” jelasnya.

Fenomena putus sekolah, lanjutnya, paling banyak ditemukan pada jenjang sekolah dasar. Hal ini terlihat dari berkurangnya jumlah siswa di Kelas V setelah kenaikan kelas.

“Kalau pindah sekolah itu wajar, tetapi kalau tidak melanjutkan sama sekali berarti memang putus sekolah. Nah, itu yang harus kita telusuri, ke mana mereka. Apalagi kondisi di wilayah utara, selatan, maupun tengah Kotim berbeda-beda karakteristiknya,” imbuh Irfansyah.

Ia menegaskan, keterlibatan semua pihak sangat penting, mulai dari guru, pamong desa, hingga TLD, dalam mengidentifikasi faktor penyebab anak putus sekolah. Baik karena persoalan ekonomi, kurangnya motivasi belajar, maupun masalah keluarga.

“Disdik mendorong pemetaan menyeluruh agar setiap anak bisa tetap mengenyam pendidikan sesuai haknya. Dengan deteksi dini yang lebih baik, kami optimistis angka putus sekolah di Kotim bisa ditekan dan tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya,” pungkasnya

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pemerintah perkuat peran generasi muda melalui Mangrove Goes To School

28 Februari 2026 - 09:50 WITA

Otorita IKN Perkuat Pelaku Usaha Lokal untuk Bangun Ekosistem Ekonomi Berkelanjutan

28 Februari 2026 - 09:46 WITA

Armaya Doremi: Dari Kegagalan TOEFL 7 Kali Hingga Jadi Pembicara Utama Wisuda Northeastern University 2026

27 Februari 2026 - 05:49 WITA

Tiwi/Fadia siap bongkar strategi Hsu/Lin di babak kedua German Open

26 Februari 2026 - 04:42 WITA

BRIN Cek Bawah Laut Sulut

24 Februari 2026 - 04:40 WITA

Trending di Serba Serbi