Menu

Mode Gelap
Dari Tambling, Titiek Soeharto Dorong Kolaborasi Sains dan Alam untuk Konservasi Masa Depan Mutasi Polri Agustus 2026, Kapolda dan Wakapoda Sulut serta Sejumlah Pejabat Utama Pindah Tugas hingga Promosi Jabatan Baru Berusia 11 Tahun, Mikhayla Shanum Caya Jadi Kontingen Indonesia Termuda Asian Games 2026, Targetkan Medali Kejagung Tampilkan Uang Sitaan Rp401 Miliar Kasus Nikel PT CNI Strategi Tepat Hadapi El Nino, Petani di Luwu Utara Sukses Panen Raya Jepang Kirim Helikopter Bantu Atasi Karhutla RI

Warta Utama

Kisah Dua Lansia Disabilitas Magetan Bertahan Hidup di Rumah Nyaris Roboh

badge-check


					Kisah Dua Lansia Disabilitas Magetan Bertahan Hidup di Rumah Nyaris Roboh Perbesar

Di sebuah rumah tua yang nyaris roboh di Dusun Gangsiran, Desa Mategal, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan, dua perempuan lanjut usia penyandang disabilitas menjalani hari-hari dengan penuh keterbatasan. Selama puluhan tahun, mereka bertahan hidup mengandalkan bantuan pemerintah dan kepedulian warga sekitar.

Kedua perempuan itu adalah Satinem, 70, penyandang tuna netra, dan adiknya, Jinem, 65, penyandang tuna rungu. Meski sama-sama memiliki keterbatasan fisik, kakak beradik tersebut saling melengkapi dan menjadi penopang satu sama lain di usia senja.

Satinem yang tidak lagi dapat melihat lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah. Sementara itu, Jinem masih berusaha bekerja semampunya. Setiap hari ia mencari rumput untuk memberi makan dua ekor kambing yang mereka pelihara, dengan harapan ternak tersebut dapat berkembang biak dan menjadi sumber penghidupan di kemudian hari.

“Ya nyari rumput tiap hari buat pakan kambing ini, kadang ada yang ngasih makanan,” ujarnya, Kamis (23/7/2026).

Di balik keterbatasan itu, keduanya saling bergantung. Jinem menjadi penuntun bagi sang kakak saat beraktivitas, sedangkan Satinem setia menemani adiknya menjalani keseharian. Kebutuhan hidup mereka sebagian besar dipenuhi dari bantuan sembako dan uluran tangan masyarakat.

Namun, persoalan terbesar yang mereka hadapi bukan hanya soal ekonomi, melainkan kondisi rumah yang semakin lapuk dimakan usia. Dari seluruh bagian bangunan, hanya ruang tamu yang masih dianggap cukup aman untuk ditempati. Ruangan itu kini difungsikan sebagai tempat tidur sekaligus dapur karena mereka khawatir bagian dapur yang rapuh sewaktu-waktu ambruk saat hujan deras atau diterpa angin kencang.

Harapan Jinem pun sangat sederhana. Ia hanya ingin memiliki rumah yang lebih layak agar dapat menjalani hari-hari tanpa rasa waswas.

“Saya hanya berharap ada bantuan. Siapa saja yang ikhlas membantu, baik dari pemerintah maupun masyarakat, semoga ada yang mau memperbaiki rumah kami supaya lebih aman ditempati,” harapnya.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Desil dan Dilema Bantuan Sosial: Ketika Data Tak Sesuai Kondisi Warga

26 Agustus 2026 - 05:54 WITA

Presiden Prabowo: Tingkatkan Layanan Dasar bagi Rakyat dari Puskesmas hingga Sekolah, Tak Boleh Ada Anak Belajar dalam Keadaan Lapar

14 Agustus 2026 - 11:13 WITA

Kisah Munawi di Lereng Bromo, Merangkak di Tebing dan Mengejar Api hingga Larut Malam

8 Agustus 2026 - 12:10 WITA

Dari Mimpi Gaji Puluhan Juta ke Neraka Scam, Kisah Pekerja Migran di Sumut Jadi Korban TPPO

5 Agustus 2026 - 04:18 WITA

Akad Massal 62.000 KPR, Presiden Prabowo Pastikan Pemerintah Terus Hadirkan Hasil Nyata bagi Rakyat

31 Juli 2026 - 05:21 WITA

Trending di Warta Utama