Di sebuah rumah tua yang nyaris roboh di Dusun Gangsiran, Desa Mategal, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan, dua perempuan lanjut usia penyandang disabilitas menjalani hari-hari dengan penuh keterbatasan. Selama puluhan tahun, mereka bertahan hidup mengandalkan bantuan pemerintah dan kepedulian warga sekitar.
Kedua perempuan itu adalah Satinem, 70, penyandang tuna netra, dan adiknya, Jinem, 65, penyandang tuna rungu. Meski sama-sama memiliki keterbatasan fisik, kakak beradik tersebut saling melengkapi dan menjadi penopang satu sama lain di usia senja.

Satinem yang tidak lagi dapat melihat lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah. Sementara itu, Jinem masih berusaha bekerja semampunya. Setiap hari ia mencari rumput untuk memberi makan dua ekor kambing yang mereka pelihara, dengan harapan ternak tersebut dapat berkembang biak dan menjadi sumber penghidupan di kemudian hari.
“Ya nyari rumput tiap hari buat pakan kambing ini, kadang ada yang ngasih makanan,” ujarnya, Kamis (23/7/2026).
Di balik keterbatasan itu, keduanya saling bergantung. Jinem menjadi penuntun bagi sang kakak saat beraktivitas, sedangkan Satinem setia menemani adiknya menjalani keseharian. Kebutuhan hidup mereka sebagian besar dipenuhi dari bantuan sembako dan uluran tangan masyarakat.
Namun, persoalan terbesar yang mereka hadapi bukan hanya soal ekonomi, melainkan kondisi rumah yang semakin lapuk dimakan usia. Dari seluruh bagian bangunan, hanya ruang tamu yang masih dianggap cukup aman untuk ditempati. Ruangan itu kini difungsikan sebagai tempat tidur sekaligus dapur karena mereka khawatir bagian dapur yang rapuh sewaktu-waktu ambruk saat hujan deras atau diterpa angin kencang.
Harapan Jinem pun sangat sederhana. Ia hanya ingin memiliki rumah yang lebih layak agar dapat menjalani hari-hari tanpa rasa waswas.
“Saya hanya berharap ada bantuan. Siapa saja yang ikhlas membantu, baik dari pemerintah maupun masyarakat, semoga ada yang mau memperbaiki rumah kami supaya lebih aman ditempati,” harapnya.
****









