Menu

Mode Gelap
Nilai Tukar Rupiah Hari Ini ke Dollar AS di Bank Mandiri, BCA, dan BNI Gandeng INOVASI dan Kemendikdasmen, Otorita IKN Gelar Program Literasi dan Numerasi bagi Pendidikan Dasar Kawasan IKN Emas Hijau di Petakan Sawah : Kisah Sukses Petani Kangkung di Lombok Mahasiswa di Bondowoso Tuntut Janji Politik Bebas PBB untuk Warga Miskin Ekstrem Bahasa Wabo Terancam Punah, BRIN Susun Tata Bahasa untuk Jaga Warisan Papua Jelang Hari Bhayangkara ke-80, Bidang Propam Polda Sulut Gelar Pekan Disiplin Personel

Serba Serbi

Bukan Salmon, Ikan Asal RI Ini Punya Omega-3 Tertinggi di Dunia

badge-check


					Bukan Salmon, Ikan Asal RI Ini Punya Omega-3 Tertinggi di Dunia Perbesar

Ikan sidat yang banyak ditemukan di perairan Indonesia ternyata menyimpan kandungan gizi yang sangat tinggi. Bahkan, ikan ini disebut memiliki kadar asam lemak Omega-3 tertinggi di dunia, mengungguli salmon yang selama ini dikenal sebagai salah satu sumber Omega-3 terbaik.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Gadis Sri Haryani, mengungkapkan bahwa hasil penelitian menunjukkan sidat memiliki nilai gizi yang lebih tinggi dibandingkan sejumlah jenis ikan populer lainnya.

“Selama ini, kita selalu mengira salmon yang paling tinggi, ternyata sidat justru memiliki nilai gizi tertinggi,” kata Gadis, dikutip dari laman resmi BRIN, Minggu (7/6/2026).

Selain kaya Omega-3, ikan sidat juga mengandung berbagai nutrisi penting lainnya seperti vitamin A, vitamin B kompleks, zat besi, protein, fosfor, dan kalori yang dibutuhkan tubuh. Kandungan tersebut membuat sidat berpotensi menjadi salah satu sumber pangan bergizi yang bernilai tinggi.

Omega-3 dalam sidat terdiri dari DHA (docosahexaenoic acid) dan EPA (eicosapentaenoic acid). DHA berperan penting dalam perkembangan serta fungsi otak, sementara EPA membantu mengurangi peradangan dan menjaga kesehatan jantung.

Tak hanya unggul dari sisi nutrisi, sidat juga memiliki nilai ekonomi yang besar bagi sektor perikanan Indonesia. Namun demikian, Gadis mengingatkan pentingnya pengelolaan berbasis sains dan berkelanjutan agar pemanfaatan sumber daya ini tidak berujung pada eksploitasi berlebihan yang dapat mengancam populasinya di masa depan.

Keunikan sidat juga terlihat dari siklus hidupnya yang bersifat katadromus, yakni menghabiskan sebagian besar hidupnya di perairan tawar sebelum bermigrasi ke laut untuk berkembang biak.

“Katadromus artinya dia ketika telur dan menetas di laut menjadi leptocephalus atau larva belut yang unik, memiliki bentuk pipih, transparan, dan seperti daun serta tidak punya kemampuan berenang,” jelas Gadis.

Ia menambahkan, selama proses migrasi dari laut dalam menuju estuari atau wilayah muara sungai, larva tersebut akan mengalami perubahan bentuk menjadi sidat kaca (glass eel).

“Kemudian selama perjalanan dari perairan laut dalam ke estuari atau badan air semi tertutup yang berada di muara sungai, di mana air tawar dari sungai bercampur dengan air laut, dia berubah menjadi sidat kaca atau glass eel,” ujarnya.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Gandeng INOVASI dan Kemendikdasmen, Otorita IKN Gelar Program Literasi dan Numerasi bagi Pendidikan Dasar Kawasan IKN

13 Juni 2026 - 11:26 WITA

Bahasa Wabo Terancam Punah, BRIN Susun Tata Bahasa untuk Jaga Warisan Papua

12 Juni 2026 - 10:20 WITA

Menuju Pengakuan Nasional, Lima Warisan Budaya Takbenda Kobar Jalani Verifikas

11 Juni 2026 - 12:44 WITA

Florikultura Indonesia Tembus Korea Selatan: Peluang Bisnis UMKM Tanaman Hias yang Makin Terbuka

11 Juni 2026 - 05:14 WITA

Indonesia taklukkan Hong Kong 3-0 pada AVC Women’s Nations Cup 2026

10 Juni 2026 - 06:35 WITA

Trending di Serba Serbi