Di Korea Selatan, ada istilah yang kian ramai diperbincangkan: pet-plant. Bukan hewan peliharaan, bukan pula mainan — melainkan tanaman yang diperlakukan layaknya teman hidup. Masyarakat Korea Selatan kini semakin banyak yang merawat tanaman hias bukan sekadar untuk estetika ruangan, tetapi sebagai pendamping emosional di tengah ritme hidup yang padat. Tren ini, dikombinasikan dengan meningkatnya minat home-gardening, membuka pintu yang cukup besar bagi pelaku usaha florikultura Indonesia
Pada April 2026, sebelas petani florikultura yang tergabung dalam Asosiasi Bunga Indonesia (ASBINDO) mengikuti ajang International Horticulture Goyang Korea di Goyang Special City Ilsan Lake Park, Korea Selatan. Hasilnya, berdasarkan laporan Kementerian Perdagangan melalui Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Busan, produk tanaman hias Indonesia mencatatkan potensi transaksi sebesar USD 1,1 juta atau setara Rp17,05 miliar hanya dalam tiga hari pameran.

Angka itu bukan nilai realisasi — melainkan potensi dari business matching dan minat beli yang terjaring di pameran. Namun konteksnya penting: ini terjadi di tengah musim semi Korea Selatan, saat masyarakat setempat paling antusias terhadap tanaman dan berkebun. Sementara itu, data perdagangan bilateral mencatat bahwa pada 2025, impor Korea Selatan dari Indonesia untuk produk hortikultura — termasuk bunga potong dan tanaman hias — telah mencapai USD 1,1 juta, naik seiring meningkatnya permintaan pet-plant di negara tersebut.
Ada satu keunggulan struktural yang dimiliki Indonesia dan sulit ditiru negara empat musim manapun: keanekaragaman hayati tropis. Tanaman endemik seperti keladi atau telinga gajah (Alocasia sp.), sri rejeki (Aglaonema sp.), hingga Labisa sp. adalah varietas eksotis yang nyaris tak bisa diproduksi secara massal di negara beriklim dingin.
Di pameran Goyang, produk yang menarik perhatian pembeli Korea Selatan antara lain bunga sedap malam (Polianthes tuberosa), krisan atau seruni (Chrysanthemum sp.), mawar (Rosa sp.), hingga tanaman hasil teknik kultur jaringan (tissue culture). Ini bukan komoditas asing bagi petani Indonesia — bahkan krisan dan mawar sudah lama dibudidayakan di Jawa Timur dan Jawa Barat.
****









