Menu

Mode Gelap
Presiden Prabowo Jadi Tamu Kehormatan Utama EEF ke-11 di Vladivostok Sherina Munaf Turun Tangan Bantu Padamkan Karhutla di Kalimantan Kisah Desa di Pekalongan yang Berdamai dengan Satwa Liar, Punya Aturan Larangan Berburu Lima Sila Pancasila Jadi Filosofi Pembangunan Gedung Mahkamah Agung di IKN Anggaran Kementerian di Kanwil Kemenag Kalteng dan Universitas Palangkaraya Terindikasi Dikorupsi Dari Tambling, Titiek Soeharto Dorong Kolaborasi Sains dan Alam untuk Konservasi Masa Depan

Serba Serbi

Bukan Salmon, Ikan Asal RI Ini Punya Omega-3 Tertinggi di Dunia

badge-check


					Bukan Salmon, Ikan Asal RI Ini Punya Omega-3 Tertinggi di Dunia Perbesar

Ikan sidat yang banyak ditemukan di perairan Indonesia ternyata menyimpan kandungan gizi yang sangat tinggi. Bahkan, ikan ini disebut memiliki kadar asam lemak Omega-3 tertinggi di dunia, mengungguli salmon yang selama ini dikenal sebagai salah satu sumber Omega-3 terbaik.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Gadis Sri Haryani, mengungkapkan bahwa hasil penelitian menunjukkan sidat memiliki nilai gizi yang lebih tinggi dibandingkan sejumlah jenis ikan populer lainnya.

“Selama ini, kita selalu mengira salmon yang paling tinggi, ternyata sidat justru memiliki nilai gizi tertinggi,” kata Gadis, dikutip dari laman resmi BRIN, Minggu (7/6/2026).

Selain kaya Omega-3, ikan sidat juga mengandung berbagai nutrisi penting lainnya seperti vitamin A, vitamin B kompleks, zat besi, protein, fosfor, dan kalori yang dibutuhkan tubuh. Kandungan tersebut membuat sidat berpotensi menjadi salah satu sumber pangan bergizi yang bernilai tinggi.

Omega-3 dalam sidat terdiri dari DHA (docosahexaenoic acid) dan EPA (eicosapentaenoic acid). DHA berperan penting dalam perkembangan serta fungsi otak, sementara EPA membantu mengurangi peradangan dan menjaga kesehatan jantung.

Tak hanya unggul dari sisi nutrisi, sidat juga memiliki nilai ekonomi yang besar bagi sektor perikanan Indonesia. Namun demikian, Gadis mengingatkan pentingnya pengelolaan berbasis sains dan berkelanjutan agar pemanfaatan sumber daya ini tidak berujung pada eksploitasi berlebihan yang dapat mengancam populasinya di masa depan.

Keunikan sidat juga terlihat dari siklus hidupnya yang bersifat katadromus, yakni menghabiskan sebagian besar hidupnya di perairan tawar sebelum bermigrasi ke laut untuk berkembang biak.

“Katadromus artinya dia ketika telur dan menetas di laut menjadi leptocephalus atau larva belut yang unik, memiliki bentuk pipih, transparan, dan seperti daun serta tidak punya kemampuan berenang,” jelas Gadis.

Ia menambahkan, selama proses migrasi dari laut dalam menuju estuari atau wilayah muara sungai, larva tersebut akan mengalami perubahan bentuk menjadi sidat kaca (glass eel).

“Kemudian selama perjalanan dari perairan laut dalam ke estuari atau badan air semi tertutup yang berada di muara sungai, di mana air tawar dari sungai bercampur dengan air laut, dia berubah menjadi sidat kaca atau glass eel,” ujarnya.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Baru Berusia 11 Tahun, Mikhayla Shanum Caya Jadi Kontingen Indonesia Termuda Asian Games 2026, Targetkan Medali

1 September 2026 - 05:19 WITA

SSB Kolonal Jadi Ruang 60 Anak Solok Selatan Kejar Mimpi Jadi Pesepakbola

28 Agustus 2026 - 04:51 WITA

Ribuan Penari Muda dalam Tari Kolosal

25 Agustus 2026 - 07:19 WITA

Rahayu Saraswati Sebut PIK Berpotensi Jadi Lokasi Marathon Internasional

23 Agustus 2026 - 05:51 WITA

Lintas Alam Merah Putih 2026 di Bukit Pinteir: Rajut Nasionalisme dan Kepedulian Lingkungan

22 Agustus 2026 - 05:41 WITA

Trending di Serba Serbi