Menu ✖

Mode Gelap
Presiden Prabowo Sambut Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang TNI AL Amankan Tugboat Pembawa Ribuan Kubik Kayu Log di Perairan Utara Pulau Buru Kisah Ibu-ibu Pemindang Ikan Kusamba, 28 Tahun Kerja Cuma Libur Nyepi-Galungan KPK Evaluasi Alasan Nusron Wahid Mangkir Sebelum Terbitkan Surat Perintah Membawa DPD RI Desak Menag Perkuat Pengawasan Anak Lindungi dari Kekerasan Seksual Taman Bunga Nusantara Punya Banyak Taman Tematik, Intip Daya Tariknya

Serba Serbi

Bukan Salmon, Ikan Asal RI Ini Punya Omega-3 Tertinggi di Dunia

badge-check


					Bukan Salmon, Ikan Asal RI Ini Punya Omega-3 Tertinggi di Dunia Perbesar

Ikan sidat yang banyak ditemukan di perairan Indonesia ternyata menyimpan kandungan gizi yang sangat tinggi. Bahkan, ikan ini disebut memiliki kadar asam lemak Omega-3 tertinggi di dunia, mengungguli salmon yang selama ini dikenal sebagai salah satu sumber Omega-3 terbaik.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Gadis Sri Haryani, mengungkapkan bahwa hasil penelitian menunjukkan sidat memiliki nilai gizi yang lebih tinggi dibandingkan sejumlah jenis ikan populer lainnya.

“Selama ini, kita selalu mengira salmon yang paling tinggi, ternyata sidat justru memiliki nilai gizi tertinggi,” kata Gadis, dikutip dari laman resmi BRIN, Minggu (7/6/2026).

Selain kaya Omega-3, ikan sidat juga mengandung berbagai nutrisi penting lainnya seperti vitamin A, vitamin B kompleks, zat besi, protein, fosfor, dan kalori yang dibutuhkan tubuh. Kandungan tersebut membuat sidat berpotensi menjadi salah satu sumber pangan bergizi yang bernilai tinggi.

Omega-3 dalam sidat terdiri dari DHA (docosahexaenoic acid) dan EPA (eicosapentaenoic acid). DHA berperan penting dalam perkembangan serta fungsi otak, sementara EPA membantu mengurangi peradangan dan menjaga kesehatan jantung.

Tak hanya unggul dari sisi nutrisi, sidat juga memiliki nilai ekonomi yang besar bagi sektor perikanan Indonesia. Namun demikian, Gadis mengingatkan pentingnya pengelolaan berbasis sains dan berkelanjutan agar pemanfaatan sumber daya ini tidak berujung pada eksploitasi berlebihan yang dapat mengancam populasinya di masa depan.

Keunikan sidat juga terlihat dari siklus hidupnya yang bersifat katadromus, yakni menghabiskan sebagian besar hidupnya di perairan tawar sebelum bermigrasi ke laut untuk berkembang biak.

“Katadromus artinya dia ketika telur dan menetas di laut menjadi leptocephalus atau larva belut yang unik, memiliki bentuk pipih, transparan, dan seperti daun serta tidak punya kemampuan berenang,” jelas Gadis.

Ia menambahkan, selama proses migrasi dari laut dalam menuju estuari atau wilayah muara sungai, larva tersebut akan mengalami perubahan bentuk menjadi sidat kaca (glass eel).

“Kemudian selama perjalanan dari perairan laut dalam ke estuari atau badan air semi tertutup yang berada di muara sungai, di mana air tawar dari sungai bercampur dengan air laut, dia berubah menjadi sidat kaca atau glass eel,” ujarnya.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Taman Bunga Nusantara Punya Banyak Taman Tematik, Intip Daya Tariknya

18 Oktober 2026 - 04:51 WITA

Juri Pencak Silat Dunia Apresiasi Atlet Tapak Suci SMP Muhammadiyah 2 Kroya

16 Oktober 2026 - 02:19 WITA

Panen Perdana AMA di Liagu, Petambak Masih Evaluasi Hasil Budidaya

14 Oktober 2026 - 05:47 WITA

Harga Pangan Hari Ini 12 Oktober: Beras Naik, Cabai Melonjak

12 Oktober 2026 - 05:11 WITA

Ibu Kota Nusantara, Tuan Rumah Borneo Economic Forum 2027

10 Oktober 2026 - 04:58 WITA

Trending di Serba Serbi