Menu

Mode Gelap
Lima Sila Pancasila Jadi Filosofi Pembangunan Gedung Mahkamah Agung di IKN Anggaran Kementerian di Kanwil Kemenag Kalteng dan Universitas Palangkaraya Terindikasi Dikorupsi Dari Tambling, Titiek Soeharto Dorong Kolaborasi Sains dan Alam untuk Konservasi Masa Depan Mutasi Polri Agustus 2026, Kapolda dan Wakapoda Sulut serta Sejumlah Pejabat Utama Pindah Tugas hingga Promosi Jabatan Baru Berusia 11 Tahun, Mikhayla Shanum Caya Jadi Kontingen Indonesia Termuda Asian Games 2026, Targetkan Medali Kejagung Tampilkan Uang Sitaan Rp401 Miliar Kasus Nikel PT CNI

Warta Nusantara

2 Kapal Pertamina Terjebak di Selat Hormuz

badge-check


					2 Kapal Pertamina Terjebak di Selat Hormuz Perbesar

PT Pertamina (Persero) menyatakan terdapat empat kapal minyak milik perusahaan yang berada di Timur Tengah. Dua diantaranya masih terjebak di Selat Hormuz yang jalurnya ditutup oleh Iran.

Dalam catatan Pertamina pun, sebanyak 19% impor minyak Indonesia secara nasional berasal dari Timur Tengah. Atas hal itu, Pertamina sedang menyiapkan alternatif-alternatif supaya kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri tetap terpenuhi.

Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron membenarkan, bahwa saat ini kargo minyak mentah yang berasal dari Timur Tengah berjumlah sekitar 19% dari nilai impor secara keseluruhan.

“Sekitar 19% dan saat ini kami sudah melaksanakan proses distribusi melalui sistem reguler alternatif maupun emergensi. Jadi untuk ketahanan energi nasional Pertamina telah menyampaikan sistem tersebut untuk bisa memenuhi kebutuhan nasional,” terang Baron di Grha Pertamia, dikutip Rabu (4/3/2026).

Pertamina saat ini sedang melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk tetap bisa memenuhi kebutuhan energi nasional.

“Jadi alternatif-alternatif yang sedang kita lakukan tentu dalam proses karena ini baru beberapa hari. Dan nanti kami akan update ke media untuk kesiapan proses alternatif tersebut,” tegas Baron.

Putuskan Impor Minyak ke AS

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan langkah antisipatif atas ditutupnya Selat Hormuz.

“Atas arahan bapak Presiden melihat perkembangan yang ada. Sekarang Selat Hormuz ditutup akibat perang Israel, Amerika, Iran ini dampaknya pada energi global,” ujar Bahlil dalam Konferensi Pers di Kementerian ESDM, Selasa (3/3/2026).

Ia pun memerinci, dari total impor minyak mentah RI, sekitar 20-25% berasal dari kawasan Timur Tengah yang distribusinya melalui Selat tersebut. Sedangkan sisanya dipasok dari sejumlah negara lain seperti Afrika, Amerika Serikat, dan Brasil.

Oleh sebab itu, guna mengantisipasi kekurangan pasokan, pemerintah berencana mengalihkan sebagian impor minyak mentah dari Timur Tengah ke Amerika Serikat. Sehingga tidak terperangkap dinamika global yang saat ini masih berlangsung.

“Ini tidak bisa diramal kapan selesai. Ini gak bisa diramal. Bisa cepat bisa lambat. Kami ambil alternatif terjelek skenarionya sekarang ini crude dari timur tengah sebagian dialihkan ambil dari Amerika supaya ada kepastian ketersediaan,” kata Bahlil.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Anggaran Kementerian di Kanwil Kemenag Kalteng dan Universitas Palangkaraya Terindikasi Dikorupsi

2 September 2026 - 04:33 WITA

Rangkuman Kunjungan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto 26,27-28 Agustus 2026

29 Agustus 2026 - 11:17 WITA

Presiden Prabowo: Bagaimana Kita Punya Ratusan Helikopter kalau Tak Ada Uang? Korupsi Harus Diperangi

26 Agustus 2026 - 06:00 WITA

Presiden Prabowo Susuri Lahan Terbakar di Kubu Raya, Pastikan Penanganan Karhutla Berjalan Optimal

22 Agustus 2026 - 11:45 WITA

Fatimah Az-Zahra Sosok Kartini Masa Kini

20 Agustus 2026 - 15:02 WITA

Trending di Warta Nusantara