Menu

Mode Gelap
Presiden Prabowo Jadi Tamu Kehormatan Utama EEF ke-11 di Vladivostok Sherina Munaf Turun Tangan Bantu Padamkan Karhutla di Kalimantan Kisah Desa di Pekalongan yang Berdamai dengan Satwa Liar, Punya Aturan Larangan Berburu Lima Sila Pancasila Jadi Filosofi Pembangunan Gedung Mahkamah Agung di IKN Anggaran Kementerian di Kanwil Kemenag Kalteng dan Universitas Palangkaraya Terindikasi Dikorupsi Dari Tambling, Titiek Soeharto Dorong Kolaborasi Sains dan Alam untuk Konservasi Masa Depan

Serba Serbi

Kaltim lestarikan alat musik tradisional Sampe Dayak sebagai identitas bangsa

badge-check


					Kaltim lestarikan alat musik tradisional Sampe Dayak sebagai identitas bangsa Perbesar

Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Timur (Kaltim) terus berupaya merawat dan melestarikan alat musik tradisional sampe khas suku Dayak sebagai bagian penting dari identitas bangsa.

“Pelestarian Sampe tidak cukup hanya dengan memasukkannya ke dalam etalase museum, melainkan harus memastikan bahwa ekosistem budayanya tetap bernapas di tengah masyarakat,” ujar Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Kaltim Lestari di Samarinda, Senin.

Menurut ia, alat musik petik yang memiliki keragaman nama seperti Sampek, Sape, Sampe, maupun Kecapi ini merekam jejak interaksi manusia dengan alam dan dinamika sosial.

“Lebih dari sekadar instrumen penghibur, Sampe yang terbuat dari kayu pilihan hutan Kalimantan ini memiliki relasi magis yang sangat kuat bagi peradaban masyarakat Dayak,” jelas dia.

Ia menjelaskan motif ragam hias pada tubuh kayu Sampe melambangkan daya upaya, kebesaran, serta keagungan masyarakat yang hidup harmonis dengan alam sekelilingnya.

Lestari mengingatkan ancaman terbesar pelestarian budaya ini justru sering kali datang dari pendekatan pelestarian yang kaku tanpa melibatkan partisipasi masyarakat akar rumput.

Oleh karena itu, lanjutnya, posisi pemerintah menjadi fasilitator yang mengakomodasi peran masyarakat dari bawah dalam pelestarian.

Masyarakat juga diimbau agar tidak terjebak pada sifat inersia yang berisiko memunculkan pengerasan identitas primordial sehingga mengancam integrasi sosial budaya di Indonesia.

Ia menegaskan kebudayaan yang berpadu dengan karya kreatif, seperti Sampe, bukanlah sekadar warisan masa lalu, melainkan proses transformasi yang bersifat dinamis.

“Pengarusutamaan kebudayaan tersebut harus ditanamkan secara sistemik sejak dini melalui jalur pendidikan agar perlindungan terhadap Sampe sejalan dengan pemanfaatan di masyarakat,” ungkap Lestari.

Dia menyatakan eksistensi ekosistem budaya Sampe harus terus ditegakkan melalui panggung perayaan adat yang sakral, ajang pariwisata daerah, hingga berbagai atraksi budaya populer kontemporer.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Baru Berusia 11 Tahun, Mikhayla Shanum Caya Jadi Kontingen Indonesia Termuda Asian Games 2026, Targetkan Medali

1 September 2026 - 05:19 WITA

SSB Kolonal Jadi Ruang 60 Anak Solok Selatan Kejar Mimpi Jadi Pesepakbola

28 Agustus 2026 - 04:51 WITA

Ribuan Penari Muda dalam Tari Kolosal

25 Agustus 2026 - 07:19 WITA

Rahayu Saraswati Sebut PIK Berpotensi Jadi Lokasi Marathon Internasional

23 Agustus 2026 - 05:51 WITA

Lintas Alam Merah Putih 2026 di Bukit Pinteir: Rajut Nasionalisme dan Kepedulian Lingkungan

22 Agustus 2026 - 05:41 WITA

Trending di Serba Serbi