Menu

Mode Gelap
Polri Tahan 2 Tersangka Kasus Korupsi Pembiayaan Pengadaan Batu Bara JARR Milik Haji Isam Akui Beli CPO Sitaan Kejaksaan Agung DPR Gerah PNS Dapat Pensiun Seumur Hidup, Kerja Enggak Seberapa APH Didesak Tangkap Kades Kayumban, Atas Dugaan Korupsi ADD Miliaran Rupiah Spanyol Hadapi Gelombang Panas Ketiga, Suhu Bisa Capai 45 Derajat Celsius Kurangi Ketergantungan Gawai, KKN Unhas Edukasi Siswa SD Permainan Tradisional di Bone

Serba Serbi

Kaltim lestarikan alat musik tradisional Sampe Dayak sebagai identitas bangsa

badge-check


					Kaltim lestarikan alat musik tradisional Sampe Dayak sebagai identitas bangsa Perbesar

Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Timur (Kaltim) terus berupaya merawat dan melestarikan alat musik tradisional sampe khas suku Dayak sebagai bagian penting dari identitas bangsa.

“Pelestarian Sampe tidak cukup hanya dengan memasukkannya ke dalam etalase museum, melainkan harus memastikan bahwa ekosistem budayanya tetap bernapas di tengah masyarakat,” ujar Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Kaltim Lestari di Samarinda, Senin.

Menurut ia, alat musik petik yang memiliki keragaman nama seperti Sampek, Sape, Sampe, maupun Kecapi ini merekam jejak interaksi manusia dengan alam dan dinamika sosial.

“Lebih dari sekadar instrumen penghibur, Sampe yang terbuat dari kayu pilihan hutan Kalimantan ini memiliki relasi magis yang sangat kuat bagi peradaban masyarakat Dayak,” jelas dia.

Ia menjelaskan motif ragam hias pada tubuh kayu Sampe melambangkan daya upaya, kebesaran, serta keagungan masyarakat yang hidup harmonis dengan alam sekelilingnya.

Lestari mengingatkan ancaman terbesar pelestarian budaya ini justru sering kali datang dari pendekatan pelestarian yang kaku tanpa melibatkan partisipasi masyarakat akar rumput.

Oleh karena itu, lanjutnya, posisi pemerintah menjadi fasilitator yang mengakomodasi peran masyarakat dari bawah dalam pelestarian.

Masyarakat juga diimbau agar tidak terjebak pada sifat inersia yang berisiko memunculkan pengerasan identitas primordial sehingga mengancam integrasi sosial budaya di Indonesia.

Ia menegaskan kebudayaan yang berpadu dengan karya kreatif, seperti Sampe, bukanlah sekadar warisan masa lalu, melainkan proses transformasi yang bersifat dinamis.

“Pengarusutamaan kebudayaan tersebut harus ditanamkan secara sistemik sejak dini melalui jalur pendidikan agar perlindungan terhadap Sampe sejalan dengan pemanfaatan di masyarakat,” ungkap Lestari.

Dia menyatakan eksistensi ekosistem budaya Sampe harus terus ditegakkan melalui panggung perayaan adat yang sakral, ajang pariwisata daerah, hingga berbagai atraksi budaya populer kontemporer.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

JARR Milik Haji Isam Akui Beli CPO Sitaan Kejaksaan Agung

20 Juli 2026 - 06:27 WITA

Kurangi Ketergantungan Gawai, KKN Unhas Edukasi Siswa SD Permainan Tradisional di Bone

19 Juli 2026 - 06:10 WITA

Pembangunan Tahap II IKN Terus Berjalan, Otorita IKN Lakukan Evaluasi Berkala

17 Juli 2026 - 06:02 WITA

Wimbledon Jadi Bekal Berharga Petenis Muda Indonesia Ethan Jake Frans

14 Juli 2026 - 06:44 WITA

Tak Banyak yang Tahu, 5 Kuliner Indonesia Ini Lahir dari Kemiskinan

13 Juli 2026 - 06:37 WITA

Trending di Serba Serbi