Menu

Mode Gelap
Presiden Prabowo Teken Perpres Kesehatan, Atur Integrasi Layanan dari Pusat hingga Desa Rossa Sebut Nama Baiknya Dijadikan Ajang Cari Cuan Clickbait Lewat Link Afiliasi Kepergok ke Kedai Kopi, Napi Korupsi Dipindah ke Lapas Nusakambangan Harga BBM Pertamina Naik, Pertamax Turbo Melejit Jadi Rp19.400 Potret Gereja Pertama IKN, Ada Makna di Balik Desain Indahnya Komisi IX DPR RI Dorong Optimalisasi Program Magang untuk Kurangi Pengangguran Sarjana

Warta Internasional

Virus Mematikan Guncang India, 100 Dikarantina-Pakai Masker Lagi

badge-check


					Virus Mematikan Guncang India, 100 Dikarantina-Pakai Masker Lagi Perbesar

Virus mematikan, virus nipah, kini mengguncang India. Wabah terjadi di negara bagian Benggala Barat, setelah lima kasus dikonfirmasi akhir pekan.

Mengutip The Independent Senin (26/1/2026), hampir 100 orang diminta melakukan karantina di rumah. Benggala Barat sendiri merupakan kota pusat bisnis di timur India.

“Pasien yang terinfeksi dirawat di rumah sakit di dalam dan sekitar ibu kota Kolkata,” tulis laman itu merujuk laporan media lokal.

“Satu pasien dalam kondisi kritis,” tambahnya.

Hal sama juga dimuat laman Global Times. Secara rinci disebut pasien yang dirawat adalah dokter dan perawat.

“Di antara kasus yang terkonfirmasi terdapat dua perawat dan satu dokter, dan dilaporkan bahwa dua perawat yang bekerja di Kolkata berada dalam kondisi kritis,” jelasnya.

Merujuk The Hindu, sumber infeksi diyakini berasal dari pasien yang dirawat di rumah sakit swasta dekat Kolkata. Mereka yang terinfeksi kemungkinan berinteraksi antara 28-30 Desember di mana 31 Desember sampai 2 Januari mengalami sejumlah gejala.

Sementara itu, otoritas kesehatan India telah meminta perlunya memperkuat pelacakan kontak dan langkah-langkah karantina. Pejabat menekankan kepatuhan terhadap pedoman karantina untuk melindungi staf medis, di mana mengutip thehealthsite, penggunaan masker kembali disarankan.

Pemerintah pusat India pun mengirimkan tim respons pusat untuk memantau situasi dengan cermat dan mencegah penyebaran lebih lanjut. Seorang sumber senior dari Kementerian Kesehatan India mengatakan kepada kantor berita milik negara PTI menyebut semua kasus kini dalam pengawasan ketat.

“Mengingat seriusnya infeksi virus Nipah, yang merupakan penyakit zoonosis dengan angka kematian tinggi dan potensi penyebaran yang cepat, situasi ini ditangani dengan prioritas utama,” kata seorang pejabat senior Kementerian Kesehatan kepada The Hindu.

Nipah adalah virus mematikan tanpa vaksin atau obat dan dianggap sebagai patogen berisiko tinggi oleh Organisasi Kesehatan Dunia. Para ahli mengatakan infeksi pada manusia jarang terjadi dan biasanya terjadi ketika virus menular dari kelelawar, seringkali melalui buah yang terkontaminasi.

Infeksi virus Nipah biasa disebut NiV. Ini dimulai dengan gejala yang tidak spesifik, sehingga deteksi dini sulit dilakukan.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), masa inkubasi umumnya diperkirakan berkisar antara empat hingga 21 hari. Pasien biasanya mengalami penyakit seperti flu yang tiba-tiba ditandai dengan demam, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan.

Dalam beberapa kasus, gejala pernapasan seperti batuk, sesak napas, atau pneumonia juga terjadi, meskipun waktu dan tingkat keparahan gejala ini dapat sangat bervariasi. Komplikasi paling serius dan utama dari infeksi Nipah adalah peradangan otak, yang dikenal sebagai ensefalitis.

Virus Nipah (NiV) pertama kali diidentifikasi pada tahun 1999 di Malaysia. Ensefalitis dan penyakit pernapasan merebak di antara peternak babi dan orang lain yang memiliki kontak dekat dengan babi yang terinfeksi di negeri itu dan Singapura.

Virus Nipah dikaitkan dengan tingkat kematian yang tinggi, antara 40 dan 75% tergantung pada wabah dan strain virus yang terlibat. Para penyintas mungkin mengalami efek neurologis jangka panjang, seperti kejang terus-menerus atau perubahan kepribadian.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Sekjen PBB Sambut Baik Gencatan Senjata Lebanon-Israel, Dukung Upaya Damai

17 April 2026 - 05:29 WITA

Presiden Prabowo dan Presiden Putin Perkuat Kerja Sama Energi, Antariksa, hingga Pendidikan

14 April 2026 - 07:26 WITA

Astronot Artemis II Kembali ke Bumi Usai Misi Bersejarah Mengelilingi Bulan

13 April 2026 - 02:32 WITA

Perhimpunan Mahasiswa Gelar Bursa Kerja di Beijing, Gaet 1.300 Peminat

12 April 2026 - 03:37 WITA

PBB Ungkap Temuan Awal Insiden Tiga TNI di UNIFIL

8 April 2026 - 10:44 WITA

Trending di Warta Internasional