Menu ✖

Mode Gelap
Korupsi Tunjangan Rp 18,79 M, Wabup Indramayu Syaefudin Ditahan Kejati Jabar Lebihi Target di Asian Para Games 2026, Kontingen Indonesia Siap Tatap ASEAN Para Games 2027 dan Paralimpiade 2028 Dua Tahun Kabinet Merah Putih, Presiden Prabowo Tegaskan Capaian Strategis: Kita Berada di Jalur yang Benar Pangdam XIII/Merdeka Tegaskan Kawal Program Nasional Budidaya Anggur Impor Buka Peluang Ekonomi Desa Pejarakan Kapolri Bongkar Lab Narkoba 1,2 Ton di Aceh, Terbesar di Indonesia

Warta Internasional

Virus Mematikan Guncang India, 100 Dikarantina-Pakai Masker Lagi

badge-check


					Virus Mematikan Guncang India, 100 Dikarantina-Pakai Masker Lagi Perbesar

Virus mematikan, virus nipah, kini mengguncang India. Wabah terjadi di negara bagian Benggala Barat, setelah lima kasus dikonfirmasi akhir pekan.

Mengutip The Independent Senin (26/1/2026), hampir 100 orang diminta melakukan karantina di rumah. Benggala Barat sendiri merupakan kota pusat bisnis di timur India.

“Pasien yang terinfeksi dirawat di rumah sakit di dalam dan sekitar ibu kota Kolkata,” tulis laman itu merujuk laporan media lokal.

“Satu pasien dalam kondisi kritis,” tambahnya.

Hal sama juga dimuat laman Global Times. Secara rinci disebut pasien yang dirawat adalah dokter dan perawat.

“Di antara kasus yang terkonfirmasi terdapat dua perawat dan satu dokter, dan dilaporkan bahwa dua perawat yang bekerja di Kolkata berada dalam kondisi kritis,” jelasnya.

Merujuk The Hindu, sumber infeksi diyakini berasal dari pasien yang dirawat di rumah sakit swasta dekat Kolkata. Mereka yang terinfeksi kemungkinan berinteraksi antara 28-30 Desember di mana 31 Desember sampai 2 Januari mengalami sejumlah gejala.

Sementara itu, otoritas kesehatan India telah meminta perlunya memperkuat pelacakan kontak dan langkah-langkah karantina. Pejabat menekankan kepatuhan terhadap pedoman karantina untuk melindungi staf medis, di mana mengutip thehealthsite, penggunaan masker kembali disarankan.

Pemerintah pusat India pun mengirimkan tim respons pusat untuk memantau situasi dengan cermat dan mencegah penyebaran lebih lanjut. Seorang sumber senior dari Kementerian Kesehatan India mengatakan kepada kantor berita milik negara PTI menyebut semua kasus kini dalam pengawasan ketat.

“Mengingat seriusnya infeksi virus Nipah, yang merupakan penyakit zoonosis dengan angka kematian tinggi dan potensi penyebaran yang cepat, situasi ini ditangani dengan prioritas utama,” kata seorang pejabat senior Kementerian Kesehatan kepada The Hindu.

Nipah adalah virus mematikan tanpa vaksin atau obat dan dianggap sebagai patogen berisiko tinggi oleh Organisasi Kesehatan Dunia. Para ahli mengatakan infeksi pada manusia jarang terjadi dan biasanya terjadi ketika virus menular dari kelelawar, seringkali melalui buah yang terkontaminasi.

Infeksi virus Nipah biasa disebut NiV. Ini dimulai dengan gejala yang tidak spesifik, sehingga deteksi dini sulit dilakukan.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), masa inkubasi umumnya diperkirakan berkisar antara empat hingga 21 hari. Pasien biasanya mengalami penyakit seperti flu yang tiba-tiba ditandai dengan demam, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan.

Dalam beberapa kasus, gejala pernapasan seperti batuk, sesak napas, atau pneumonia juga terjadi, meskipun waktu dan tingkat keparahan gejala ini dapat sangat bervariasi. Komplikasi paling serius dan utama dari infeksi Nipah adalah peradangan otak, yang dikenal sebagai ensefalitis.

Virus Nipah (NiV) pertama kali diidentifikasi pada tahun 1999 di Malaysia. Ensefalitis dan penyakit pernapasan merebak di antara peternak babi dan orang lain yang memiliki kontak dekat dengan babi yang terinfeksi di negeri itu dan Singapura.

Virus Nipah dikaitkan dengan tingkat kematian yang tinggi, antara 40 dan 75% tergantung pada wabah dan strain virus yang terlibat. Para penyintas mungkin mengalami efek neurologis jangka panjang, seperti kejang terus-menerus atau perubahan kepribadian.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Taiwan Lumpuh Diterjang Topan Champi, Ribuan Warga Dievakuasi

23 Oktober 2026 - 08:56 WITA

China Minta Politikus Filipina Tak Bikin Panas Hubungan Antar Negara

21 Oktober 2026 - 02:33 WITA

Singapura Layangkan Peringatan ke 7 Perusahaan Indonesia Terkait Kabut Asap

17 Oktober 2026 - 03:38 WITA

RI Dorong ACAFTA Buka Peluang Ekonomi bagi UMKM

15 Oktober 2026 - 06:45 WITA

PBB Desak Investigasi Serangan Terhadap Bandara Internasional Riyadh

13 Oktober 2026 - 04:33 WITA

Trending di Warta Internasional