Menu

Mode Gelap
Hashim: Indonesia Dapat 150 Juta Barel Minyak APH Diminta Segera Mengusut Tuntas Terkait Dugaan Penerbitan Memo Siluman untuk Kontrak Kuota Angkutan Batubara Paus Leo XIV Kunjungi Guinea Khatulistiwa, Serukan Perdamaian Dunia Delapan ASN Kemenaker terbukti peras 20 perusahaan izin TKA Rp130 M MPR: Komitmen bersama dibutuhkan demi wujudkan semangat Kartini Residivis Bandar Narkoba di Pangkalpinang Ditangkap, Polisi Sita 2 Kg Sabu

Serba Serbi

Pangan Lokal Adat Jaga Identitas Budaya Nusantara

badge-check


					Pangan Lokal Adat Jaga Identitas Budaya Nusantara Perbesar

Ancaman krisis pangan global membuat pangan lokal masyarakat adat semakin relevan. Sistem tradisional terbukti berkelanjutan sekaligus menjaga identitas budaya Nusantara.

Salah satunya Kasepuhan Ciptagelar yang terletak di Pegunungan Halimun, Sukabumi, Jawa Barat. Masyarakat adat ini dikenal menjaga kelestarian pangan melalui tradisi bertani padi turun-temurun.

Juru Komunikasi Kasepuhan Ciptagelar, Yoyo Yogasmana, menegaskan bahwa warganya hanya meneruskan tradisi leluhur. “Kami hanya meneruskan apa yang dijalani, yaitu kehidupan bertani padi,” ujarnya kepada PRO3 RRI, Selasa (16/9/2025).

Ia menjelaskan, bertani padi bagi Ciptagelar bukan sekadar produksi, melainkan jalan hidup. “Ada ngasut, mikit, nganyaran, ponggokan, dan serentaun yang dijalani setiap tahun,” katanya.

Yoyo menyebut, stok pangan Ciptagelar cukup hingga puluhan tahun mendatang. “Tahun 2017 stok beras kami rata-rata cukup sampai 95 tahun,” ucapnya.

Sementara itu, Koalisi Sistem Pangan Lestari, Gina Karina menilai, diversifikasi pangan harus diperkuat kembali. Ia mengatakan, ketergantungan beras membuat sistem pangan nasional rentan.

“Selama berdekade kita tergantung satu dua komoditas, seperti beras dan gandum. Padahal setiap wilayah punya pangan lokal berbeda, dari sagu hingga jagung,” ucapnya.

Gina menilai pangan lokal harus kembali dikenalkan sebagai bagian gaya hidup modern. “Pangan lokal harus dianggap trendi, bukan makanan kampung yang disukai,” ujarnya.

Menurutnya, masyarakat luar justru iri pada kekayaan pangan Indonesia yang beragam. “Di negara lain tidak ada diversifikasi seperti kita, itu harus dijaga,” katanya.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dianggap Hama di RI, Ikan Sapu-sapu Justru Kuliner Favorit Amazon

23 April 2026 - 03:29 WITA

AFC Women’s Football Day 2026 di Nusantara, Tumbuhkan Semangat Sepak Bola Putri Sejak Dini

22 April 2026 - 07:37 WITA

Modal Rp100 Ribu, 10 Ibu Rumah Tangga Ini Sekarang Produksi 600 Botol Sehari

21 April 2026 - 05:54 WITA

Panjat tebing jadikan Asian Beach Games pemanasan ke Asian Games 2026

21 April 2026 - 05:47 WITA

Pecahkan Rekor MURI, TMII Tampilkan 1.000 Penari dari 34 Provinsi

20 April 2026 - 10:18 WITA

Trending di Serba Serbi