Menu

Mode Gelap
Presiden Prabowo Teken Perpres Kesehatan, Atur Integrasi Layanan dari Pusat hingga Desa Rossa Sebut Nama Baiknya Dijadikan Ajang Cari Cuan Clickbait Lewat Link Afiliasi Kepergok ke Kedai Kopi, Napi Korupsi Dipindah ke Lapas Nusakambangan Harga BBM Pertamina Naik, Pertamax Turbo Melejit Jadi Rp19.400 Potret Gereja Pertama IKN, Ada Makna di Balik Desain Indahnya Komisi IX DPR RI Dorong Optimalisasi Program Magang untuk Kurangi Pengangguran Sarjana

Serba Serbi

Terkuak, Tradisi Pengobatan Sakral dan Unik Dayak Golik, Diwariskan Lewat Mimpi

badge-check


					Terkuak, Tradisi Pengobatan Sakral dan Unik Dayak Golik, Diwariskan Lewat Mimpi Perbesar

Peneliti dari Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas (PR BSK) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dwi Wahyuni, mengungkapkan tentang tradisi sakral dan unik Suku Dayak Golik. Kemampuan pengobatan diwariskan lewat mimpi atau ilham.

Suku Dayak Golik berada di perbatasan Indonesia-Malaysia, Kecamatan Beduai, Entikong, dan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Suku itu masih menggenggam erat warisan leluhur, termasuk dalam pengobatan tradisional. Mereka mengandalkan tanaman hutan untuk pengobatan.

Dwi mengatakan kesimpulan itu didapatkan melalui penelitian dan diungkap dalam webinar bertajuk “Eksplorasi Bahasa dan Sastra dalam Etnomedisin Masyarakat Etnik di Perbatasan”.

Pada tahun pertama penelitian, Dwi dan tim mencatat ada 82 jenis tanaman obat dan 38 tanaman rempah yang digunakan oleh Suku Dayak Golik. Tanaman obat dan rempah itu banyak digunakan untuk perawatan kesehatan reproduksi perempuan.

“Tanaman seperti jahe, kencur, lengkuas, sirih, kemiri, kunyit, dan berbagai jenis dedaunan lokal digunakan dalam berbagai bentuk ramuan, baik untuk diminum, dilulurkan, ataupun sebagai campuran air mandi,” kata Dwi dilansir BRIN, Minggu (31/8/2025).

Yang spesial, pengobatan itu tidak hanya mengandalkan tanaman obat dan rempah, namun kental ldengan aspek spiritual dan sudah diturunkan dari generasi sebelumnya. Praktik pengobatan itu eksklusif karena sistem pewarisan ilmu yang sangat tertutup, tidak semua orang bisa mempelajari atau mewarisinya.

“Ada sistem pewarisan yang sangat tertutup. Pengetahuan ini dianggap sakral dan tidak bisa sembarangan diajarkan kepada orang lain,” ujar Dwi.

Dwi menemukan bahwa budaya itu tidak serta-merta diturunkan, namun hanya orang tertentu saja yang menerima mimpi/ilham yang dapat mewarisi.

“Sistem pewarisan ini masih secara lisan, belum terdokumentasi secara ilmiah. Nah, di sini, peran kita sebagai peneliti untuk mendokumentasikan itu!” kata Dwi.

Sayangnya, di tengah arus modernisasi, generasi muda mulai meninggalkan tradisi itu. Dwi mengaku khawatir jika pengetahuan langka ini hilang sebelum sempat terdokumentasi secara ilmiah.

“Generasi muda semakin sedikit yang tertarik mempelajari pengobatan tradisional. Jika tidak segera didokumentasikan, pengetahuan ini bisa hilang ditelan zaman,” katanya.

BRIN melalui riset ini berharap bisa mendukung pelestarian warisan lokal. Khususnya di wilayah-wilayah yang sering luput dari radar kebijakan nasional.

Penelitian itu diyakini bisa membuka peluang kolaborasi lintas disiplin, mulai dari ilmu kebahasaan, botani, farmasi, hingga antropologi.

Dia praktik etnomedisin itu tak hanya dikenang sebagai bagian dari masa lalu, tapi juga berkontribusi pada masa depan kesehatan Indonesia.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Potret Gereja Pertama IKN, Ada Makna di Balik Desain Indahnya

18 April 2026 - 06:58 WITA

Menyusuri Istana, Menyulam Mimpi: Pengalaman Tak Terlupakan Pelajar SMP Negeri 39 Jakarta

17 April 2026 - 05:18 WITA

Ismanto: Tinggalkan Profesi Satpam, Kini Sukses Budidaya Mamey Sapote Beromzet Puluhan Juta

16 April 2026 - 05:34 WITA

Prabowo Kirim Ucapan Ulang Tahun untuk Titiek Soeharto di Tengah Kunker Luar Negeri

15 April 2026 - 06:00 WITA

Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi

12 April 2026 - 03:38 WITA

Trending di Serba Serbi