Menu ✖

Mode Gelap
Presiden Prabowo Sambut Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang TNI AL Amankan Tugboat Pembawa Ribuan Kubik Kayu Log di Perairan Utara Pulau Buru Kisah Ibu-ibu Pemindang Ikan Kusamba, 28 Tahun Kerja Cuma Libur Nyepi-Galungan KPK Evaluasi Alasan Nusron Wahid Mangkir Sebelum Terbitkan Surat Perintah Membawa DPD RI Desak Menag Perkuat Pengawasan Anak Lindungi dari Kekerasan Seksual Taman Bunga Nusantara Punya Banyak Taman Tematik, Intip Daya Tariknya

Serba Serbi

Terkuak, Tradisi Pengobatan Sakral dan Unik Dayak Golik, Diwariskan Lewat Mimpi

badge-check


					Terkuak, Tradisi Pengobatan Sakral dan Unik Dayak Golik, Diwariskan Lewat Mimpi Perbesar

Peneliti dari Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas (PR BSK) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dwi Wahyuni, mengungkapkan tentang tradisi sakral dan unik Suku Dayak Golik. Kemampuan pengobatan diwariskan lewat mimpi atau ilham.

Suku Dayak Golik berada di perbatasan Indonesia-Malaysia, Kecamatan Beduai, Entikong, dan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Suku itu masih menggenggam erat warisan leluhur, termasuk dalam pengobatan tradisional. Mereka mengandalkan tanaman hutan untuk pengobatan.

Dwi mengatakan kesimpulan itu didapatkan melalui penelitian dan diungkap dalam webinar bertajuk “Eksplorasi Bahasa dan Sastra dalam Etnomedisin Masyarakat Etnik di Perbatasan”.

Pada tahun pertama penelitian, Dwi dan tim mencatat ada 82 jenis tanaman obat dan 38 tanaman rempah yang digunakan oleh Suku Dayak Golik. Tanaman obat dan rempah itu banyak digunakan untuk perawatan kesehatan reproduksi perempuan.

“Tanaman seperti jahe, kencur, lengkuas, sirih, kemiri, kunyit, dan berbagai jenis dedaunan lokal digunakan dalam berbagai bentuk ramuan, baik untuk diminum, dilulurkan, ataupun sebagai campuran air mandi,” kata Dwi dilansir BRIN, Minggu (31/8/2025).

Yang spesial, pengobatan itu tidak hanya mengandalkan tanaman obat dan rempah, namun kental ldengan aspek spiritual dan sudah diturunkan dari generasi sebelumnya. Praktik pengobatan itu eksklusif karena sistem pewarisan ilmu yang sangat tertutup, tidak semua orang bisa mempelajari atau mewarisinya.

“Ada sistem pewarisan yang sangat tertutup. Pengetahuan ini dianggap sakral dan tidak bisa sembarangan diajarkan kepada orang lain,” ujar Dwi.

Dwi menemukan bahwa budaya itu tidak serta-merta diturunkan, namun hanya orang tertentu saja yang menerima mimpi/ilham yang dapat mewarisi.

“Sistem pewarisan ini masih secara lisan, belum terdokumentasi secara ilmiah. Nah, di sini, peran kita sebagai peneliti untuk mendokumentasikan itu!” kata Dwi.

Sayangnya, di tengah arus modernisasi, generasi muda mulai meninggalkan tradisi itu. Dwi mengaku khawatir jika pengetahuan langka ini hilang sebelum sempat terdokumentasi secara ilmiah.

“Generasi muda semakin sedikit yang tertarik mempelajari pengobatan tradisional. Jika tidak segera didokumentasikan, pengetahuan ini bisa hilang ditelan zaman,” katanya.

BRIN melalui riset ini berharap bisa mendukung pelestarian warisan lokal. Khususnya di wilayah-wilayah yang sering luput dari radar kebijakan nasional.

Penelitian itu diyakini bisa membuka peluang kolaborasi lintas disiplin, mulai dari ilmu kebahasaan, botani, farmasi, hingga antropologi.

Dia praktik etnomedisin itu tak hanya dikenang sebagai bagian dari masa lalu, tapi juga berkontribusi pada masa depan kesehatan Indonesia.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Taman Bunga Nusantara Punya Banyak Taman Tematik, Intip Daya Tariknya

18 Oktober 2026 - 04:51 WITA

Juri Pencak Silat Dunia Apresiasi Atlet Tapak Suci SMP Muhammadiyah 2 Kroya

16 Oktober 2026 - 02:19 WITA

Panen Perdana AMA di Liagu, Petambak Masih Evaluasi Hasil Budidaya

14 Oktober 2026 - 05:47 WITA

Harga Pangan Hari Ini 12 Oktober: Beras Naik, Cabai Melonjak

12 Oktober 2026 - 05:11 WITA

Ibu Kota Nusantara, Tuan Rumah Borneo Economic Forum 2027

10 Oktober 2026 - 04:58 WITA

Trending di Serba Serbi