Perhimpunan Indonesia Swiss/Verein Indonesia Schweiz (VIS) didukung Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) baru saja menggelar Festival Indonesia di Kurbrunnenanlage, Rheinfelden, Swiss, Sabtu (22/8/2026).
Acara yang dihadiri masyarakat Indonesia, diaspora dan Swiss ini digelar untuk memperingati 75 tahun hubungan diplomatik kedua negara tersebut.

Selain itu, acara ini juga dimanfaatkan sebagai ajang perkenalan budaya dan kuliner Indonesia di kancah global.
“Budaya, kuliner, musik, dan seni merupakan jembatan yang dapat menghubungkan masyarakat, membangun saling pengertian, serta memperkuat persahabatan antara Indonesia dan Swiss,” ujar Duta Besar RI untuk Swiss dan Liechtenstein, Ngurah Swajaya, dalam keterangan resminya, Selasa (25/8/2026).
Ngurah mengatakan, beragam seni dan budaya nusantara yang ditampilkan dalam acara ini di antaranya, Tari Piring dari Sumatera Barat, Tari Teruna Jaya dari Bali, Tari Topeng Koncaran dan Tari Merak dari Jawa Barat, serta Tari Yapong dari Betawi atau Jakarta.
Tarian-tarian tradisional itu dibawakan oleh Rizki dari Indonesia dan Elsye dari Meksiko yang memang mendalami seni dan budaya Indonesia, khususnya tari tradisional di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Bali.
Selain tarian, festival ini juga menampilkan musik tradisional dua warna, yaitu alat musik angklung dari Jawa Barat yang dipadukan dengan alat musik tradisional Bali. Alat musik tradisional itu dimainkan oleh tiga wanita berbakat dari kalangan diaspora Indonesia.
Kemeriahan festival juga semakin terasa karena adanya ajang fashion show yang menampilkan karya desainer Indonesia, seperti Komang Darmiani, serta koleksi batik karya Almalia Habib.
Festival di Swiss ini juga menghadirkan street food khas Indonesia dan bazar yang menampilkan beragam produk kreatif, serta karya UMKM. Kuliner nusantara yang dijajakan mulai dari siomay, pempek, bakso, mie ayam, nasi Bali, nasi Padang, sate ayam, hingga jajanan pasar.
Lewat kegiatan ini, pemerintah juga berusaha mempromosikan Wonderful Indonesia melalui materi promosi, serta pameran seni, tekstil Indonesia, dan fotografi Dr. phil. nat. Heinz Köchli, yang menampilkan perspektif visual tentang keindahan dan keberagaman RI dari era tahun 1980-an.
Para pengunjung juga bisa mengikuti workshop melukis motif batik bersama seniman ternama Julie Siahaan. Di dalam acara festival itu juga dilakukan kegiatan kemanusiaan, dengan memperkenalkan program dukungan pendidikan bagi anak-anak di Sumatera Barat dan Aceh, termasuk penggalangan dana bagi korban gempa di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
****









