Menu ✖

Mode Gelap
Presiden Prabowo Sambut Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang TNI AL Amankan Tugboat Pembawa Ribuan Kubik Kayu Log di Perairan Utara Pulau Buru Kisah Ibu-ibu Pemindang Ikan Kusamba, 28 Tahun Kerja Cuma Libur Nyepi-Galungan KPK Evaluasi Alasan Nusron Wahid Mangkir Sebelum Terbitkan Surat Perintah Membawa DPD RI Desak Menag Perkuat Pengawasan Anak Lindungi dari Kekerasan Seksual Taman Bunga Nusantara Punya Banyak Taman Tematik, Intip Daya Tariknya

Warta Entertainment

Pameran Asrul Sani Telusuri Perjalanan Kreatif Maestro Film Indonesia

badge-check


					Pameran Asrul Sani Telusuri Perjalanan Kreatif Maestro Film Indonesia Perbesar

Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menggelar pameran “Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini” yang mengajak publik menelusuri perjalanan kreatif dan pemikiran salah satu tokoh penting dalam sejarah sastra, teater, dan film Indonesia.

Pameran ini menampilkan arsip dan dokumentasi perjalanan Asrul Sani dalam sejarah perfilman Indonesia. Selain itu, turut digelar pemutaran film, sesi diskusi lintas generasi, dan dramatic reading.

“Kami ingin memperlihatkan legasi seorang seniman; bagaimana gagasannya lahir, bagaimana karyanya berkembang, dan bagaimana seorang seniman terhubung dengan zaman serta lingkungan kebudayaan di sekitarnya,” kata Ketua Dewan Kesenian Jakarta Dewi Umaya saat pembukaan pameran di Jakarta, Jumat.

Pameran “Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini” berlangsung pada 21–30 Agustus 2026 di bertempat di Ruang Museum Koleksi, Teater Asrul Sani, dan Teater Sjuman Djaya, Gedung Trisno Sumardjo, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Asrul Sani dikenal sebagai penyair, penulis, penerjemah, teaterawan, pendidik, penulis skenario, sutradara, sekaligus penggerak institusi kebudayaan.

Di dunia film, Asrul berkiprah sebagai penulis skenario dan sutradara. Garapan pertamanya di bidang film adalah skenario “Pegawai Tinggi” (1953) sedangkan debut pertama penyutradaraan filmnya adalah “Titian Serambut Dibelah Tudjuh” (1959).

Beberapa karya terkenal karya seniman asal Sumatera Barat itu antara lain “Lewat Djam Malam” (1954), “Apa Jang Kau Tjari, Palupi?” (1969), “Kejarlah Daku Kau Kutangkap” (1986), dan “Nagabonar” (1987).

Sedangkan dalam dunia sastra, Asrul dikenal sebagai seorang pelopor Angkatan ’45. Bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin, ia menerbitkan buku kumpulan puisi yang berjudul “Tiga Menguak Takdir”.

“Asrul bergerak antara sastra, teater, film, pendidikan, penerjemahan, dan kerja kelembagaan. Ia menulis, menerjemahkan, mendidik, menyutradarai, sekaligus ikut membangun institusi budaya,” ujar Dewi.

Selama sepuluh hari, pameran dilengkapi sejumlah program yang mendalami karya dan sisi kreatif Asrul Sani seperti rangkaian diskusi yang menghadirkan sejumlah tokoh dari lintas generasi dan bidang, di antaranya Mutiara Sani, Ratih Kumala, Rebecca Kezia, Riri Riza, Gina S. Noer, serta pegiat arsip dan perfilman.

Selain diskusi, publik juga dapat menyaksikan pemutaran beberapa film karya Asrul seperti “Terimalah Laguku” (1953), “Pagar Kawat Berduri” (1961), “Apa Jang Kau Tjari, Palupi?” (1969), “Jembatan Merah” (1973), “Ibu Sejati” (1973), “Kemelut Hidup” (1977), “Sorta (Tumbuh Bunga Di Sela Batu)” (1982), “Titian Serambut Dibelah Tujuh” (1982), “Kejarlah Daku Kau Kutangkap” (1986), “Nagabonar” (1987), “Omong Besar” (1988), dan “Nada dan Dakwah” (1991).

Perjalanan Asrul dari sastra, teater, hingga sinema juga dihadirkan melalui program dramatic reading oleh Teater Gravitasi dan pembacaan esai oleh aktor, Teuku Rifnu Wikana.

Seluruh rangkaian “Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini” terbuka untuk publik dan gratis.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Tari Maengket: Ungkapan Syukur Identitas Budaya

17 Oktober 2026 - 03:40 WITA

Dirikan Sekolah Gratis di Perkampungan, Andien Ingin Pendidikan Jadi Jalan Keluar dari Kemiskinan

15 Oktober 2026 - 06:43 WITA

Artis yang Tak Tinggal Diam soal Karhutla Kalimantan: Nana Mirdad Murka, Luna Maya Buka Donasi

13 Oktober 2026 - 04:30 WITA

Sinopsis Empat Musim Pertiwi, Film Putri Marino yang Terpilih Mewakili Indonesia di Oscar

11 Oktober 2026 - 04:51 WITA

Kris Dayanti Rajin Olahraga Wushu di Usia 50 Tahun, Sukses Raih Emas

9 Oktober 2026 - 05:56 WITA

Trending di Warta Entertainment