Kepulan uap panas membumbung tinggi menyelimuti Sentra Pemindangan Ikan Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkung, Bali, Minggu (18/10/2026) pagi. Di tengah aroma khas laut dan riuh aktivitas masyarakat pesisir, jemari lincah Ni Luh Ernayati (48) tak berhenti menyusun ikan tongkol ke dalam keranjang bambu.
Bagi Ernayati dan ratusan ibu-ibu lainnya di sana, istilah hari libur akhir pekan atau tanggal merah tak pernah ada dalam kamus hidup mereka. Saban hari, tenaga mereka selalu terjaga demi mengais rezeki.

“Kerjanya setiap hari. Libur hanya waktu Nyepi dan Galungan saja,” tutur Ernayati saat ditemui detikBali di lokasi.
Perempuan ramah ini bukanlah orang baru di dunia pemindangan. Sudah 28 tahun lamanya ia setia menggeluti profesi sebagai buruh pemindang ikan. Pekerjaan itu ia lakoni dengan penuh ketelitian, mulai dari membersihkan ikan, menyusun ke keranjang, menjerang keranjang pindang dari air mendidih, hingga siap didistribusikan.
Atas kerja kerasnya, Ernayati mengantongi upah Rp 800 untuk setiap keranjang ikan yang berhasil ia olah. Dalam sehari, rata-rata ia bisa membawa pulang penghasilan Rp 60 ribu.
“Terkadang kalau pasokan ikan lagi banyak, bisa dapat sampai Rp 100 ribu per hari,” ungkapnya.
Menerjang Musim Paceklik dan Dapur Pemindangan
Sentra Pemindangan Ikan Desa Kusamba sendiri berdiri sejak tahun 1990-an dan kini menjadi salah satu yang terbesar di Pulau Dewata. Kebanyakan buruh yang menggantungkan hidup di sini adalah istri dari para nelayan lokal.
Salah satu pemilik lapak pemindangan tempat Ernayati bekerja adalah Ni Nyoman Sudiasih (43). Perempuan asal Kusamba ini merintis usahanya sejak 2015. Dalam sehari, lapaknya mampu memproduksi sekitar 400 keranjang ikan tongkol, di mana satu keranjang berisi 6 hingga 10 ekor ikan tergantung ukurannya.
Aktivitas pemindangan di lapaknya dimulai sejak pukul 07.00 Wita hingga 11.00 Wita. Sudiasih biasanya membeli bahan baku tongkol beku sebanyak 500 kilogram (kg) sehari dengan harga saat ini Rp 27 ribu per kg.
Namun, keteguhan para ibu pemindang belakangan ini diuji oleh kondisi alam. Musim paceklik nelayan yang panjang membuat pasokan ikan merosot tajam.
“Tahun ini memang cukup sulit mengingat musim paceklik nelayan yang lumayan panjang. Sampai pernah saya tak dapat pasokan ikan selama satu minggu,” cerita Sudiasih.
Ikan tongkol yang selesai dipindang dijual seharga Rp 42 ribu per keranjang. Produk olahan dari Kusamba ini selanjutnya dikirim dan dipasarkan ke wilayah Badung.
Bahan Bakar Beralih ke Gas
Proses pembuatan pindang di Kusamba mempertahankan cara tradisional secara turun-temurun. Tahapan dimulai dari membersihkan ikan dengan air, menyusunnya dalam keranjang rajutan bambu, lalu ditaburi garam kasar. Keranjang kemudian dimasak selama kurang lebih 15 menit, dibersihkan kembali, lalu dibungkus rapi.
Dari dulu hingga sekarang, nyaris tidak ada proses yang berubah, kecuali pada sektor bahan bakar.
“Sejak 2024 kami sudah tidak lagi menggunakan kayu bakar. Padahal kalau pakai kayu hasilnya lebih bagus. Tapi memang kita diminta beralih menggunakan gas, mungkin karena sisa pembakaran kayu bikin kotor dan butuh waktu lebih untuk membersihkannya,” terang Sudiasih.
Ketua Gabungan Kelompok Nelayan Desa Mina Sejahtera Desa Kusamba, Wayan Suartika, menjelaskan bahwa sentra ini menampung puluhan usaha pemindangan dan menyerap ratusan tenaga kerja lokal.
“Di sini ada 78 sentra pemindangan dengan total 247 buruh pemindang ikan. Kebanyakan buruhnya adalah istri dari nelayan. Masing-masing sentra memiliki 3 sampai 4 buruh,” terang Suartika.
Untuk menjaga roda ekonomi tetap berputar di saat pasokan lokal menipis, pasokan ikan tak hanya mengandalkan nelayan Kusamba, melainkan didatangkan dari daerah lain seperti Badung dan Karangasem.
Di tengah gelombang pasang surut pasokan ikan, deru mesin, dan kepulan uap panas, para ibu pemindang di Kusamba terus bertahan. Jemari mereka tetap teliti dan penuh dedikasi sebagai bukti ketangguhan perempuan pesisir yang tak kenal kata menyerah.
****









